Keluarga Ibrahim Matar: ‘Anak Kami Dieksekusi dengan Kejam’

14 March 2017, 18:55.
Foto: Ma'an News Agency

Foto: Ma’an News Agency

BAITUL MAQDIS TERJAJAH, Selasa (Ma’an News Agency): Keluarga Ibrahim Mahmoud Matar menuntut otoritas ‘Israel’ merilis rekaman kamera keamanan insiden penembakan Ibrahim. Karena, mereka yakin si pandai besi berusia 25 tahun itu “dieksekusi dengan kejam.” Tuntutan itu diajukan sehari setelah serdadu Zionis menembak dan membunuh Ibrahim Matar di Kota Tua Timur Baitul Maqdis terjajah kemarin (13/3) subuh, karena dituduh melakukan penikaman terhadap dua petugas Zionis lainnya. Perihal penembakan itu, seperti biasa petugas keamanan Zionis mengatakan, seorang “teroris” menikam dan melukai dua petugas Zionis dengan pisau.

Masyarakat setempat menyatakan mereka menyaksikan perselisihan antara Ibrahim dan petugas keamanan Zionis saat ia ditahan di dalam pos petugas keamanan di dekat pintu masuk Masjid al-Aqsha. Para saksi mata bersikeras bahwa adu mulut itu “terkendali” dan Ibrahim bisa saja ditahan penjajah tanpa perlu menggunakan kekuatan mematikan. Para saksi mata menyebut Ibrahim tidak memiliki pisau dan mereka melihat pemuda tersebut “memegang tongkat,” ketika petugas keamanan Zionis merilis sebuah foto yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa pisau digunakan dalam serangan yang dituduhkan penjajah itu.

Setelah insiden pembunuhan itu, pasukan Zionis menyebar di dalam dan sekitar Bab al-Asbat (Lion’s Gate) dan melarang banyak warga Palestina ke Masjid al-Aqsha untuk shalat. Menurut saksi mata, hal itu berlangsung dari pukul 4.30 hingga 6 pagi. Pasukan Zionis juga menggerebek rumah Ibrahim di daerah Jabal al-Mukabbir, Timur Baitul Maqdis terjajah, dan menahan saudara lelaki, orangtua, dan pamannya.

Lebih lanjut petugas keamanan Zionis mengatakan, mereka melarang penduduk di wilayah tersebut memasang tenda untuk acara ta’ziyah Ibrahim. Anggota keluarga Matar mengatakan pada Ma’an kemarin (13/3) bahwa Ibrahim sedang menuju Masjid al-Aqsha untuk melaksanakan shalat subuh ketika ia ditahan oleh petugas keamanan Zionis. Pihak keluarga membantah pernyataan penjajah Zionis bahwa Ibrahim ada di sana untuk melakukan serangan.

Pamannya Ayoub Matar mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa Ibrahim melaksanakan shalat subuh di Masjid al-Aqsha setiap hari, dan akan kembali ke rumah setelah itu untuk sarapan dengan neneknya di Jabal al-Mukabbir. Ayoub mengatakan bahwa ia baru mengetahui soal pembunuhan keponakannya itu setelah pasukan Zionis menggerebek Jabal al-Mukabbir dan menggerebek rumah Ibrahim. Ia mengatakan penggerebekan dilakukan dengan “cara yang menakutkan”, dan serdadu Zionis melarang warga setempat mendekati rumah tersebut.

Setelah menggeledah dan mengobrak-abrik rumah, petugas keamanan Zionis menangkap kedua orangtua Ibrahim, saudara lelakinya Rida, dan pamannya Mahmoud. Ketika penggerebekan usai, pasukan Zionis mengunci rumah dan membawa kuncinya bersama mereka, kata Ayoub. Ayoub menggambarkan keponakannya sebagai “pria kalem yang tidak terkait dengan faksi politik apapun. Ia amanah terhadap pekerjaannya sebagai pandai besi dengan ayahnya.”

Suleiman Shqeirat, kepala komite yang didirikan untuk membela tanah dan rumah warga Palestina di Jabal al-Mukabbir, mengatakan penahanan dan penembakan Ibrahim kian menambah jumlah “eksekusi lapangan” yang dengan licik dipelintir penjajah sebagai serangan teroris. Shqeirat juga menegaskan bahwa petugas keamanan Zionis hanya mempublikasikan video yang menunjukkan darah di dalam pos polisi yang diambil setelah penembakan. Rekaman yang mendokumentasikan insiden itu sendiri tidak dipublikasikan.

Jabal al-Mukabbir telah menjadi sasaran “kebijakan balas dendam” penjajah selama beberapa bulan terakhir, antara lain dengan penutupan jalan-jalan utama yang mengakibatkan gangguan pergerakan orang dan transportasi publik. Hal itu terjadi setelah warga kawasan tersebut, Fadi al-Qunbar, ditembak mati ketika menabrak gerombolan serdadu Zionis sehingga menewaskan empat serdadu.

Segera setelah serangan heroik itu, menteri ‘Israel’ mencabut izin tempat tinggal 13 anggota keluarga Fadi al-Qunbar, termasuk ibunda al-Qunbar. Surat pemberitahuan penghancuran rumah dikirimkan ke 81 rumah di Jabal al-Mukabbir dengan dalih dibangun tanpa izin, sementara rumah al-Qunbar diperintahkan dihancurkan sebagai hukuman.* (Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha)

Ibrahim Mahmoud Matar (25), asal Jabal al-Mukabbir ditembak saat akan shalat subuh di Masjidil Aqsha. Foto: Ma’an News Agency

Ibrahim Mahmoud Matar (25), asal Jabal al-Mukabbir, ditembak saat akan shalat subuh di Masjidil Aqsha. Foto: Ma’an News Agency

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Senat AS Sepakat Jadikan Pendukung Sejati Permukiman Ilegal Yahudi Ini Dubes untuk ‘Israel’
Syaikh Yusuf Adeis: Suarakan Ancaman yang Menimpa Baitul Maqdis dan Bela Masjidil Aqsha »