‘Kenapa Kami Mogok Makan di Penjara ‘Israel’?’

18 April 2017, 22:51.

Demo menuntut pembebasan warga Palestina yang dikurung di penjara-penjara ‘Israel’, di Ramallah, Tepi Barat terjajah, bulan ini. Foto: Issam Rimawi/Anadolu Agency, via Getty Images

Demo menuntut pembebasan warga Palestina yang dikurung di penjara-penjara ‘Israel’, di Ramallah, Tepi Barat terjajah, bulan ini. Foto: Issam Rimawi/Anadolu Agency, via Getty Images

Oleh: Marwan Barghouti (Pemimpin Palestina dan Anggota Parlemen)

PENJARA HADARIM, Selasa (The New York Times): Setelah menghabiskan 15 tahun terakhir di penjara ‘Israel’, saya menjadi saksi dan korban sistem penangkapan massal ilegal ‘Israel’ yang sewenang-wenang, serta perlakuan buruk terhadap para tawanan Palestina. Setelah seluruh pilihan lain yang melelahkan, saya memutuskan tidak ada pilihan kecuali melawan perlakuan sewenang-wenang itu dengan melakukan aksi mogok makan.   

Sekitar 1.000 tawanan Palestina telah memutuskan untuk ambil bagian dalam aksi mogok makan yang dimulai kemarin (17/4), hari yang kami peringati di sini sebagai Hari Tahanan. Aksi mogok makan merupakan bentuk perlawanan paling damai yang tersedia. Tindakan ini semata-mata mengakibatkan rasa sakit pada mereka yang berpartisipasi dan pada orang-orang tercinta dengan harapan bahwa perut kosong, serta pengorbanan mereka akan membuat pesan bergema melampaui batasan sel-sel gelap mereka.

Puluhan tahun pengalaman telah membuktikan bahwa sistem penjajahan tidak berperikemanusiaan dan penjajahan militer ‘Israel’ bertujuan untuk menghancurkan semangat para tawanan dan bangsa mereka, dengan menimbulkan penderitaan terhadap tubuh-tubuh mereka, memisahkan mereka dari keluarga dan masyarakat, serta menghina untuk memaksakan penaklukan. Kendati dengan perlakuan seperti itu, kita tidak akan menyerah.  

Penjajah Zionis telah melanggar hukum internasional dalam berbagai cara selama hampir 70 tahun, dan hingga kini masih menikmati kekebalan hukum atas tindakannya. ‘Israel’ telah melakukan pelanggaran berat atas Konvensi Jenewa terhadap rakyat Palestina; para tawanan, termasuk pria, wanita dan anak-anak, tanpa terkecuali.

Saya baru berusia 15 saat kali pertama dipenjara. Saya hampir 18 ketika seorang interogator ‘Israel’ memaksa saya untuk merentangkan kaki ketika saya berdiri telanjang di ruang interogasi, sebelum memukul alat kelamin saya. Saya pingsan karena kesakitan, dan akibat jatuh ada bekas luka di dahi saya. Setelah itu si interogator mengejek saya, mengatakan bahwa saya tidak akan pernah memiliki keturunan karena orang seperti saya hanya melahirkan para teroris dan pembunuh. 

Beberapa tahun kemudian, saya lagi-lagi di sebuah penjara ‘Israel’, melakukan aksi mogok makan, ketika anak laki-laki pertama saya lahir. Alih-alih manisan yang biasanya kami bagikan untuk merayakan kabar bahagia itu, saya membagi-bagikan garam kepada para tawanan lainnya. Ketika anak saya hampir berusia 18 tahun, ia ditangkap dan menghabiskan empat tahun di penjara-penjara ‘Israel’. Sulung dari empat anak saya kini pria berusia 31 tahun. Namun saya masih di sini, berjuang untuk kebebasan bersama dengan ribuan tawanan, jutaan rakyat Palestina dan dukungan dari begitu banyak orang dari seluruh dunia. 

Ada apa dengan arogansi penjajah dan penindas, serta pendukung mereka yang membuat mereka tuli terhadap kebenaran yang sederhana ini: rantai kami akan patah mendahului kami, karena itu sifat manusia untuk memperhatikan seruan demi kebebasan terlepas dari akibatnya.   

Hentikan Perlakukan Kejam!

‘Israel’ telah membangun hampir seluruh penjaranya di dalam ‘Israel’ ketimbang di wilayah terjajah. Dalam pelaksanaannya, itu melawan hukum dan secara paksa memindahkan warga sipil Palestina menjadi tawanan, dan memanfaatkan kondisi ini untuk membatasi kunjungan keluarga, serta menimbulkan penderitaan terhadap para tawanan melalui transportasi dalam waktu yang lama dengan kondisi yang kejam.

Para tawanan Palestina menderita akibat penyiksaan, perlakuan tak berperikemanusiaan dan penghinaan, serta pengabaian medis. Bahkan beberapa tewas dalam tahanan. Berdasarkan penghitungan terbaru dari Lembaga Tawanan Palestina, sekitar 200 tawanan Palestina tewas sejak 1967 akibat tindakan-tindakan semacam itu. Para tawanan Palestina dan keluarga mereka juga tetap menjadi target utama kebijakan ‘Israel’ yang memberlakukan hukuman-hukuman kolektif.  

Melalui aksi mogok makan, kami berusaha mengakhiri perlakukan-perlakuan kejam ini.  

Selama lima dekade terakhir, menurut kelompok hak-hak asasi manusia Addameer, lebih dari 800.000 warga Palestina dijebloskan ke penjara atau ditahan oleh ‘Israel’ – setara dengan sekitar 40 persen populasi pria wilayah Palestina. Kini, sekitar 6.500 masih dipenjara, di antara mereka ada beberapa orang yang memegang rekor dunia untuk tawanan politik dengan periode terlama dalam tahanan.  

Hampir tidak ada satu keluarga di Palestina yang tidak mengalami penderitaan yang disebabkan oleh penahanan satu atau sejumlah anggota keluarganya.  

Bagaimana menjelaskan kondisi yang sulit dipercaya ini? 

‘Israel’ telah mendirikan rezim hukum ganda, yakni sebuah bentuk peradilan apartheid yang memberikan kekebalan hukum kepada warga ‘Israel’ yang melakukan berbagai kejahatan terhadap warga Palestina. Namun, mengkriminalisasikan eksistensi dan perlawanan warga Palestina. Pengadilan-pengadilan ‘Israel’ adalah sebuah sandiwara keadilan, alat kolonial dan penjajahan militer. Menurut Departemen Urusan Eksternal ‘Israel’, angka hukuman bagi warga Palestina di pengadilan-pengadilan militer hampir 90 persen. 

Lemahkan Perjuangan? Tidak!

Di antara ratusan ribu warga Palestina yang ‘Israel’ jadikan tawanan adalah anak-anak, wanita, anggota parlemen, relawan, wartawan, pembela HAM, akademisi, tokoh politik, mujahidin, pengamat, dan anggota keluarga para tawanan. Dan semua dengan satu tujuan: untuk mengubur aspirasi sah segenap bangsa.    

Namun, penjara-penjara ‘Israel’ telah menjadi tempat lahirnya pergerakan abadi untuk warga Palestina menentukan hidupnya sendiri. Aksi mogok makan yang baru ini akan menunjukkan sekali lagi bahwa pergerakan para tawanan adalah kompas yang memandu perjuangan kita, perjuangan untuk Kemerdekaan dan Kemuliaan, istilah yang telah kami pilih untuk langkah baru ini dalam perjalanan panjang kami menuju kemerdekaan. 

Otoritas ‘Israel’ dan dinas penjaranya telah mengubah hak-hak dasar yang seharusnya dijamin di bawah hukum internasional –termasuk mereka yang sakit saat aksi mogok makan sebelumnya– menjadi hak istimewa yang mereka putuskan untuk memberikan kepada kami atau menghalangi kami.

‘Israel’ mencoba mencap kami semua sebagai teroris demi melegitimasi pelanggaran-pelanggarannya, termasuk penangkapan massal sewenang-wenang, penyiksaan, langkah-langkah hukuman dan pembatasan ketat. Sebagai bagian dari upaya ‘Israel’ untuk melemahkan perjuangan kemerdekaan warga Palestina, pengadilan ‘Israel’ memvonis saya lima hukuman seumur hidup dan 40 tahun di penjara dalam sebuah sidang pertunjukan politik yang dikecam oleh para pengamat internasional.     

Kemerdekaan dan Kemuliaan

Setiap pergerakan kemerdekaan nasional dalam sejarah bisa mengingatkan kembali praktik-praktik serupa. Itulah kenapa banyak orang yang berjuang melawan penindasan, kolonialisme dan apartheid juga mendukung kita. Kampanye Internasional untuk Membebaskan Marwan Barghouti dan Seluruh Tawanan Palestina yang menjadi ikon anti-apartheid Ahmed Kathrada dan istri saya, Fadwa, dimulai pada 2013 dari bekas sel penjara Nelson Mandela di Robben Island telah menikmati dukungan delapan peraih penghargaan Nobel Perdamaian, 120 pemerintahan dan ratusan pemimpin, anggota parlemen, seniman dan para akademisi di seluruh dunia.   

Solidaritas mereka menyingkap kegagalan moral dan politik ‘Israel’. Kebenaran tidak diberikan oleh seorang penindas. Kemerdekaan dan kemuliaan adalah hak-hak universal yang tidak bisa dipisahkan dari kemanusiaan, untuk dinikmati oleh setiap bangsa dan seluruh ummat manusia. Tidak terkecuali rakyat Palestina. Dan itu hanya bisa diraih dengan berakhirnya penjajahan yang mengakhiri ketidakadilan dan menandai lahirnya perdamaian.* (The New York Times | Sahabat Al-Aqsha)        

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Hamas: ‘Dengan Izin Allah, Pembebasan Tawanan Hanya Soal Waktu’
Penjajah Zionis Hancurkan Dua Rumah di Baitul Maqdis »