Selalu Ada Senyum dan Cinta di Sanliurfa (Laporan Sahabat Al-Aqsha Bagian 2)

21 April 2017, 11:55.
Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah

“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR Tirmidzi no. 1956)

Hadits ini begitu melekat dalam ingatan kami ketika pertama kali berjumpa dengan keluarga Suriah kita yang tinggal di Sanliurfa, Turki kawasan tenggara. Setiap ditanya bagaimana keadaan mereka, tidak ada lafazh lain yang terucap dari lisan mereka kecuali pujian kepada Allah, shalawat kepada Nabi Muhammad, serta doa-doa yang tak hentinya kami dengar.

“Allah yahfazka.”

“Jazakumullah khayran.”

“Barakallahufikum jamii’an.”

Seolah-olah mereka sedang berkata begini kepada kami, “Saudaraku, kami memang sedang ditindas, dizhalimi oleh rezim Bashar Assad, terusir dari Negeri Syam kita, tapi ada Allah. Ngapain kalian jauh-jauh ribuan kilometer datang ke sini kalau bukan karena kecintaan kalian kepada kami karena Allah?”

Haji Behcet Atila, Ketua Yayasan Insani Yardim Vakfi (IHH) Sanliurfa bercerita kepada kami, wilayah ini termasuk miskin secara ekonomi dan pendapatan. Namun, kata beliau, justru karena kemiskinan itulah mereka memiliki rasa empati yang sangat tinggi terhadap saudara-saudaranya yang datang dari Suriah.

Ibarat kaum Anshar melayani Muhajirin, memberikan segala yang diperlukan oleh saudaranya, meskipun dia sendiri sedang kesusahan – begitulah laiknya.

Selama beberapa hari kami mengunjungi keluarga-keluarga Suriah di sini, tersedia hampir semua kebutuhan pokok bagi mereka. Semuanya gratis dan pembagiannya dikelola oleh IHH Sanliurfa. Pembagian roti setiap hari, daging, biskuit dan susu untuk bayi dan balita, beras, minyak goreng, gula, bahkan hingga pakaian dan furnitur. Semuanya gratis.

Kami berkunjung ke sebuah rumah dimana para ibu sedang sibuk memasak kue kering untuk dijual ke pasar. Hasil penjualannya diinfaqkan untuk keluarga-keluarga Suriah mereka. Alhamdulillah, kami juga berkesempatan mendatangi “Meslek Edin, Hayata Katil Projesi”, pusat rehabilitasi dan pembinaan orang-orang berkebutuhan khusus. Di tempat itu, mereka yang berkebutuhan khusus diajarkan keahlian menjahit dan kerajinan tangan. Hasil penjualan produk kerajinan tangan lagi-lagi mereka berikan sebagai tanda cinta untuk keluarga-keluarga Suriah.

Seorang relawan yang safar bersama kami mengatakan, “Standar hidup masyarakat di Turki, Suriah dan Bumi Syam adalah: bisa memberikan sesuatu untuk saudaranya (terutama yang sedang kesusahan). Sementara kita di Indonesia terkadang memiliki standar hidup begini: “Boro-boro membantu orang lain, bisa bertahan hidup setiap bulan saja sudah cukup.” Ya Allah, ampuni kami.

Selama tiga hari di Sanliurfa, Turki, tim relawan Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah juga sempat bersilaturrahim ke:

-Bait Jarha, rumah rehabilitasi yang menampung korban perang Suriah.

-Muntada Aid Fizik Tedavi Ve Rehabilitasyon Merkezi, pusat rehabilitasi fisiologi yang membina anak-anak yatim korban perang Suriah.

-Madrasah Ilmiyyah Syar’iyyah yang diasuh oleh Syaikh Ayyub dari Mauritania dimana terdapat 20 santri tahfizhul Quran yang diasuh di sana dan seluruh biaya operasionalnya ditanggung oleh IHH.

-Toko pembagian pakaian gratis bagi Muhajirin Suriah. Pembagian pakaian dilakukan dua kali setahun, yakni pada musim dingin dan musim panas.

Selain bersilaturrahim, tim relawan Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah juga berkesempatan membagikan roti untuk keluarga kita di tujuh lokasi. * (Tim Relawan Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah)

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Assalamu’alaykum Ya Muhajirun! (Laporan Sahabat Al-Aqsha Bagian 1)
Menjumpai Anak-anak Muhajirin Suriah di Sanliurfa (Laporan Sahabat Al-Aqsha Bagian 3) »