Menjumpai Anak-anak Muhajirin Suriah di Sanliurfa (Laporan Sahabat Al-Aqsha Bagian 3)

21 April 2017, 12:23.

AYYUBIYE adalah nama daerah yang akan kami tuju. Dinamakan seperti itu karena di sini terdapat gua yang dipercaya sebagai tempat Nabi Ayub ‘Alayhissalam berdiam saat sakit dan sumur yang airnya dipercaya menjadi air mandi beliau untuk mengobati sakitnya. Letaknya masih di provinsi Sanliurfa.

Di kota perbatasan Turki, Urfa, anak berumur enam hingga 10 tahun tidak tahu harus melakukan apa setiap harinya. Lebih dari setahun pendidikan mereka terhenti. Mereka belajar bahasa Turki sendiri di rumah, berharap akan ada tempat di sekolah bagi mereka. Banyak keluarga Muhajirin yang tidak mampu membayar biaya sekolah maupun transportasi anak-anak mereka ke sekolah. Sebagian besar keluarga lainnya membutuhkan anak mereka untuk ikut bekerja.

Rumah mereka pun terlalu kecil untuk ditinggali lebih dari 10 orang. Untuk Muhajirin yang tinggal di Sanliurfa, biaya sewa rumah mereka berkisar antara 200-400 lira per bulannya, belum termasuk biaya listrik dan air. Tingginya uang sewa dan sulitnya mencari pekerjaan sangat terasa bagi sejumlah besar Muhajirin Suriah yang hijrah ke Turki termasuk di Sanliurfa ini. Mereka terpaksa berbagi tempat tinggal, terkadang satu ruangan kecil harus dihuni lebih dari delapan orang.

Nadiya, 40 tahun, mempunyai delapan anak. Tinggal di sebuah rumah kumuh di Sanliurfa. Lima keluarga lainnya tinggal di sebelahnya, Nadiya datang ke Sanliurfa dari Raqqah tiga tahun lalu.

Asma, 15 tahun, hijrah dari Aleppo dua tahun yang lalu. Sudah menikah tahun lalu saat berumur 14 tahun dan sedang hamil anak pertamanya. Tinggal bersama suaminya di sebuah ruangan kecil tanpa pemanas bahkan di musim dingin yang membekukan darah.

Maimunah, 27 tahun, dari Homs mempunyai enam anak, ia harus berjalan berpuluh-puluh kilometer dari rumahnya di Homs ke Urfa. Perjalanan yang ia tempuh lebih dari sebulan. Rumah yang kini ia tempati tidak memiliki dapur dan kamar mandi.

Maryam, 30 tahun, mempunyai tiga orang anak, ia sakit jantung tetapi tidak punya biaya untuk berobat. Aaisyah, 45 tahun, seorang guru Al-Quran, harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam ke tempat ia mengajar. Mempunyai dua anak di Suriah yang sudah syahid karena ikut berjihad.

REHABILITASI FISIK DAN MENTAL MUHAJIRIN

Sejak awal pertumpahan darah di Suriah pada tahun 2011, berjuta-juta warga Suriah telah menyeberangi perbatasan ke Turki untuk mencari perlindungan, dan banyak dari mereka yang mengalami trauma secara psikologis maupun fisik. Ada di antara mereka yang menderita luka bakar, serangan senjata kimia, bom, tertimpa reruntuhan, dan ada juga yang kehilangan salah satu anggota tubuhnya.

Saat hijrah ke tempat yang aman di Turki, banyak dari mereka yang hanya punya pakaian yang mereka kenakan dan banyak dari mereka yang kehilangan anggota keluarganya. Menjalani kehidupan sehari-hari bagi mereka tidak hanya menantang secara fisik, tapi juga mental terutama bagi perempuan dan anak-anak.

Pusat rehabilitasi ini terdiri dari ruang lantai dasar yang digunakan untuk dapur. Lantai dua adalah pusat rehabilitasi anak, taman kanak-kanak di lantai tiga, dan kantor di lantai empat. Di sana terdapat seorang dokter laki-laki yang menangani rehabilitasi anak-anak. Kami melihat beberapa anak yang sedang diobati, seorang di antaranya sedang menggunakan treadmill. Sang ibu berkata bahwa anaknya sakit di punggungnya karena pernah dioperasi akibat terkena tindihan tembok saat perang di Suriah. Oleh karena itu, ia harus berlatih jalan setiap hari.

Di lantai tiga yang difungsikan untuk TK, kami dipertemukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan 22 anak yatim Suriah, tiga orang di antara mereka sudah tidak mempunyai ayah dan ibu atau yatim piatu. Kebanyakan dari mereka berasal dari Darzour dan Aleppo. Rata-rata umur mereka adalah empat hingga enam tahun. Di TK ini anak-anak belajar Al-Quran, hadits, baca tulis, bahasa Turki dan terkadang mereka diajak menonton kartun bersama.

Mereka mulai belajar dari pukul sembilan pagi sampai pukul tiga sore. Di TK tersebut hanya ada dua ustadzah yang mengajar mereka, yaitu Ustadzah Halah dan Ustadzah Syukran yang warga Turki. Ustadzah Halah berasal dari Aleppo, Suriah, usianya 28 tahun. Ia bersama suami dan dua anak perempuannya hijrah ke Sanliurfa sekitar 1,5 tahun yang lalu.

ROTI GRATIS UNTUK MUHAJIRIN

Haji Behcet Atila, Ketua Yayasan IHH Sanliurfa, mengatakan, “Kami telah mendistribusikan 500.000 potong roti dalam empat kali seminggu di 10 tempat di Urfa. Dibagikannya sekitar pukul sembilan atau 10 pagi.”

Roti yang dibuat dengan gaya khas Suriah itu didistribusikan dengan sistem kartu pada titik-titik tertentu. Setiap toko roti memiliki tiga orang penjaga, yakni dua orang dari Suriah dan seorang lagi dari Turki.

Hanya untuk sepotong roti, Muhajirin rela berjalan jauh dari rumah dan mengantre panjang demi mendapatkannya. Banyak di antara mereka dari kawasan Aleppo, Darzour, Homs dan Raqqah. Di sana kami bertemu dengan beberapa Muhajirin Suriah, ada di antara mereka seorang anak berumur sembilan tahun bernama Huda. Ia sudah tidak mempunyai orangtua dan hanya tinggal dengan kakaknya.

“Hari ini hari kelahiran almarhumah ibu saya,” kata Huda.

Kami juga bertemu dengan seorang wanita bernama Rayhana yang suaminya telah syahid saat pengeboman. Ada pula seorang ibu yang duduk di bawah beralaskan tanah dalam keadaan sakit sebab ia menderita diabetes, sabar menunggu sekian jam untuk mendapatkan roti.

‘MANTI’, SATUKAN MUHAJIRIN DAN ANSHAR

Penduduk Urfa secara alamiah menerima Muhajirin Suriah lewat berbagai cara, termasuk masakan. Ada satu jenis masakan yang disukai dan dimasak oleh orang Suriah dan Turki, namanya manti. Sebenarnya sejenis pasta biasa, tapi inilah makanan yang dimasak oleh relawan IHH di Ankara dan Sanliurfa, yang kemudian mereka jual dan uangnya untuk menyantuni Muhajirin Suriah dan anak-anak yatim.

Di Ankara dan Sanliurfa kami menyaksikan sejumlah wanita Turki dibantu Muhajirin Suriah membuat manti. Menurut Sultan salah seorang relawan wanita IHH Ankara, membuat dan menjual manti memungkinkan mereka menyantuni anak yatim bahkan sampai ke Afrika. Hal yang sama dikatakan oleh Aaisyah, istri Behcet Atila Ketua Yayasan IHH di Sanliurfa.

Biasanya para Ummahat di Ankara dan Sanliurfa membuat manti tiga kali dalam seminggu. Lalu mereka matangkan dengan memanggang atau merebusnya sebelum dijual.

Manti adalah makanan khas dari Turki, Kayseri. Terbuat dari daging cincang dibumbui yang dibungkus dengan kulit (dari ulenan terigu) lalu dipanggang. Cara makannya dicampur dengan saus yang terbuat dari aci (cabai Turki), kemudian dituang garlic yoghurt (yoghurt asin dicampur dengan bawang putih).

Kami belajar dari Aaisyah dan kawannya Ooruj cara membuat manti:

Bahan isian:
1 kg daging giling
1 buah bawang bombay, haluskan
1 sdt merica hitam
1 sdt garam
1 sdt cabai merah bubuk
Seledri, cincang kasar

Bahan kulit:
1 kg tepung terigu
2 buah telur
Air secukupnya

Cara membuat isian:
1. Masukkan bawang bombay ke dalam blender cacahan, haluskan. Peras bawang bombaynya supaya tidak pahit.
2. Masukkan ke dalam wadah, masukkan daging, seledri, merica hitam, cabai bubuk dan garam. Aduk hingga rata.

Cara membuat kulit:
1. Siapkan wadah, masukkan terigu dan telur, aduk. Masukkan air sedikit demi sedikit. Uleni hingga kalis.
2. Gilas manti dengan diberi sedikit terigu hingga tipis dan potong kotak-kotak dengan pisau.
3. Isi dengan bahan isian (sedikit saja), bentuk kedua sisi dijadikan satu.
4. Sajikan dengan yoghurt dan saus.

* (Tim Relawan Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Selalu Ada Senyum dan Cinta di Sanliurfa (Laporan Sahabat Al-Aqsha Bagian 2)
Penjajah Zionis Jebloskan Tawanan ke Sel Isolasi, Pemukim Yahudi Barbeque-an Ejek Tawanan yang Mogok Makan »