Serdadu yang Tembak Mati Pemuda Palestina di Jalanan Mulai Jalani Hukuman Penjara

11 August 2017, 21:57.
Mobil yang membawa serdadu Zionis, Elor Azaria, yang divonis 18 bulan penjara karena membunuh pemuda Palestina dengan brutal memasuki penjara militer Tserifin di Rishon Lezion pada 9 Agustus 2017 untuk mulai menjalani hukumannya. Foto: AFP/Jack

Mobil yang membawa serdadu Zionis, Elor Azaria, yang divonis 18 bulan penjara karena membunuh pemuda Palestina dengan brutal memasuki penjara militer Tserifin di Rishon Lezion pada 9 Agustus 2017 untuk mulai menjalani hukumannya. Foto: AFP/Jack

PALESTINA TERJAJAH, Jum’at (The Daily Star): Serdadu Zionis yang divonis atas pembunuhan tak disengaja karena menembak mati seorang pemuda Palestina yang terluka dan tergeletak tak berdaya, Rabu (9/8) lalu mulai menjalani masa hukuman penjara 18 bulan. Hukuman yang terbilang ringan untuk sebuah pembunuhan keji yang bahkan terekam kamera dengan jelas.

Elor Azaria (21) memasuki pangkalan militer Tserifin di dekat kota Rishon Lezion untuk memulai masa hukumannya. Pada 30 Juli lalu, pengadilan militer menolak permohonan banding Azaria atas vonis pembunuhan tak disengaja dan menguatkan hukuman penjaranya. Azaria sempat meminta keringanan hukuman dari kepala militer Gadi Eisenkot. Azaria meminta agar dirinya melakukan layanan masyarakat saja, bukannya menjalani hukuman di penjara.

Pada Maret 2016, penembakan brutal yang terjadi di kota Al-Khalil, Tepi Barat terjajah, direkam oleh seorang relawan kelompok hak asasi manusia dan tersebar luas. Dalam video tersebut terlihat Abdul Fatah al-Sharif (21) yang terluka parah tergeletak tak berdaya di tanah, ditembak bersama dengan warga Palestina lainnya setelah dituduh serdadu Zionis menikam dan melukai seorang serdadu.

Sekitar 11 menit setelah penembakan awal, Azaria menembak al-Sharif di kepala tanpa ada provokasi yang jelas. Azaria mengatakan ia takut al-Sharif menggunakan sabuk peledak dan bisa meledakkan dirinya, sebuah klaim yang ditolak para hakim. “Motifnya untuk menembak adalah bahwa ia merasa al-Sharif pantas mati,” kata Hakim Kolonel Maya Heller saat ia membacakan putusan pada Januari lalu. Azaria, yang merupakan seorang sersan, dipenjara pada Februari. Ia kemudian mengajukan banding atas putusan hakim. Permintaan tersebut ditolak oleh para hakim militer.

Kasus Azaria ini menarik perhatian publik tak hanya karena fakta kejamnya pembunuhan itu, tapi juga karena dukungan membabi buta yang ditunjukkan warga ‘Israel’ dan para pemimpinnya atas aksi biadab itu. Februari lalu, Menteri Pendidikan ‘Israel’ Naftali Bennett kembali meminta Azaria dimaafkan. Kata Bennett ketika itu, “Elor ditugaskan untuk melindungi warga ‘Israel’ di tengah tingginya gelombang serangan teror warga Palestina. Ia tidak bisa masuk penjara atau kita akan menanggung akibatnya.” Senada dengan Bennett, gembong teroris lainnya, Menteri Budaya Miri Regev juga menyatakan, “Elor seharusnya tidak sehari pun berada di dalam penjara.”

Kelompok-kelompok hak asasi manusia menunjuk kasus tersebut sebagai contoh mengenai apa yang mereka sebut sebagai sistem keadilan yang tidak setara bagi warga ‘Israel’ dan Palestina. Amnesti Internasional menyatakan hukuman Azaria “tidak mencerminkan tingginya tingkat pelanggaran”, dan kantor hak asasi manusia PBB menyatakan itu merupakan sebuah hukuman “yang tidak bisa diterima” untuk “pembunuhan ekstra yudisial”.

Pada 20 Juli lalu otoritas penjajah Zionis sempat membebaskan Azaria. Menurut media ‘Israel’, Channel 2, Azaria tak lagi menjalani masa tahanan di penjara, ia menjadi tahanan rumah di rumah keluarganya di kota Ramleh. Channel 2 memberitakan bahwa keputusan untuk membebaskan serdadu tersebut diambil satu setengah pekan setelah pengacara Azaria mengajukan banding atas keputusan pengadilan sebelumnya.

Pengadilan ‘Israel’ telah memvonis Elor Azaria 18 bulan penjara dan penahanan di sebuah pangkalan militer sebelum muncul keputusan terbaru dari pengadilan militer untuk membebaskannya dan menjadikannya tahanan rumah, serta menghentikan dinas militernya. Channel 2 memberitakan, meski menjadi tahanan rumah, Azaria bisa bebas pergi ke sinagog untuk melakukan ritual.* (The Daily Star | Sahabat Al-Aqsha)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Warga Shalat Jum’at di Depan Rumah yang Akan Diambil Alih Pemukim Yahudi
Hamas: Pelintasan Rafah Akan Dibuka Setiap Hari Akhir Agustus Ini »