Tawanan Anak Palestina Ungkapkan Penyiksaan yang Mereka Alami

12 October 2017, 19:51.
Foto: Ma'an News Agency

Foto: Ma’an News Agency

RAMALLAH, Kamis (Ma’an News Agency): Pengacara Lembaga Urusan Tawanan Palestina, Luay Akah, mengatakan bahwa tawanan di bawah umur Palestina saat ini mengalami tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal itu ia ungkapkan setelah mengunjungi sejumlah tawanan di bawah umur di penjara Ofer. Salah seorang tawanan yang mewakili tawanan lain, Luay Al Mansy mengatakan, sejak penangkapan dan saat interogasi para tawanan di bawah umur mendapat perlakuan kasar berupa pemukulan dan penghinaan dengan kata-kata yang tidak pantas.

Luay Akah menukil kesaksian Umar Khalil Hamid (16), tawanan dari desa Teqoua di Bayt Lahm yang ditangkap pada 24 September 2017 pukul empat pagi dari rumahnya. Umar mengatakan, saat penangkapan kedua matanya ditutup dan kedua kakinya diikat. Dalam keadaan itu serdadu penjajah merobohkan tubuhnya ke tanah, lalu mulai memukuli dan menendangi sekujur tubuhnya.

Sesudah itu Umar dibawa ke tempat yang tidak diketahuinya dan di sana ia kembali dipukuli di ruang terbuka hingga pukul 12 siang tanpa diberi makan dan minum. Kemudian Umar dimasukkan ke dalam ruangan dan dipaksa menanggalkan seluruh pakaiannya. Selanjutnya, Umar dibawa ke ruang interogasi di penjara Ofer.

Saat diinterogasi, Umar diikat di atas kursi lalu petugas interogasi menjatuhkan kursi sehingga Umar pun terjatuh. Kemudian, petugas itu langsung memukuli wajahnya dan menendangi seluruh tubuhnya secara bertubi-tubi. Kursi yang digunakan adalah jenis kursi putar dimana kedua kaki tawanan diikat pada kaki kursi dan ketika petugas interogasi memutar kursi tersebut kaki tawanan akan terasa sangat sakit. Dalam keadaan tergeletak seperti itu, petugas lain datang dan mengangkat kursi dimana Umar berada di atasnya lalu menjatuhkannya lagi.

Darah mulai mengalir dari kedua kaki dan tangan Umar karena diikat di kursi. Dalam kondisi lemah seperti itu penjajah menyiksanya dengan cara berulang-ulang menyuruhnya berdiri dan duduk secara bergantian. Saat Umar kehausan mereka tidak memberinya air minum dan terus melanjutkan penyiksaan. Proses penyiksaan itu biasa dilakukan pada malam hari. Petugas Zionis juga mengancam akan membunuh Umar jika ia tidak mau mengaku.

Umar juga menceritakan, suatu saat petugas penjajah membawa segelas air dingin lalu menuangkannya ke dalam telinga kiri Umar sehingga ia menjerit kesakitan dan hingga kini masih terasa sakit. Darah pun mulai mengalir dari telinganya itu. Proses penuangan air dingin ke dalam telinganya itu dibarengi dengan penghinaan terus menerus.

Menurut Luay Akah, kondisi kesehatan Umar sangat buruk. Ia menderita sakit pada bagian kepala, kedua kaki dan pinggang.

Selain Umar, kesaksian lain juga dinukil dari Muhammad Abdul Nasher Shahatah (17), tawanan dari desa Ajoul di Ramallah yang ditangkap pada 15 September lalu. Muhammad menceritakan bahwa setelah penangkapan ia dibawa ke pusat interogasi Benyamin dan di sana ia dibiarkan kelaparan selama 36 jam. Para petugas penjajah asyik menikmati makanan di hadapan Muhammad tanpa memberinya sedikit pun makanan. Sambil terus menikmati makanan, mereka juga mengolok-olok Muhammad. Seperti halnya Umar, Muhammad juga menderita luka pada bagian kaki.* (Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Dua Hari, Lebih dari 40.000 Pemukim Ilegal Yahudi Serbu Masjid Ibrahimi
Penjajah Zionis Beri ‘Upah’ 6.900 Dolar kepada Serdadu Zionis yang Tembak Mati Pemuda Palestina di Jalanan »