‘Semua Penderitaan di Sini Berat’: Laporan Tim Sahabat Al-Aqsha dari Kamp Pengungsi Rohingya

31 October 2017, 14:48.
Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

COX BAZAR, Selasa (Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya):

Nama Misi dan Tim: SA4Rohingya (baca: SA for Rohingya)

Tujuan: Penjajakan Pendirian Beberapa Fasilitas Masjid Darurat, Klinik Darurat, MCK Umum, Sumber Air Minum, Gudang Logistik Darurat dll.

Lokasi: Tiga Kamp Pengungsi di Perbatasan Bangladesh-Myanmar

Waktu: Akhir Oktober 2017

Alhamdulillah sebuah tim relawan Sahabat Al-Aqsha baru saja selesai menunaikan tugasnya di dekat perbatasan Bangladesh-Myanmar, merangkul dan menyayang keluarga-keluarga kita Muslimin Rohingya. Sebagaimana diketahui sejak akhir Agustus 2017 lebih dari 600 ribu (menurut UNHCR) Muslimin Rohingya menjadi gelombang baru Muhajirin yang mengungsi dari Arakan, Myanmar, ke perbatasan Bangladesh. Gelombang kali ini lagi-lagi dipicu kejahatan militer rezim serta warga Buddha yang melakukan pembakaran, pembantaian, dan pengusiran kaum Muslimin. Suatu usaha yang disebut oleh banyak pihak sebagai bagian dari pembantaian etnis (genocide) yang telah berlangsung lebih dari 40 tahun.

Tim Sahabat Al-Aqsha yang diberi nama SA4Rohingya di antaranya beranggotakan dua dokter, dua aktivis Search and Rescue, seorang wartawan senior dan beberapa relawan berpengalaman lain, dipimpin oleh Mas Tomi Janto.

“Detik pertama tiba di Kutupalong, salah satu kamp pengungsi, kami seperti orang bloon memandangi lautan manusia di tenda-tenda. Beberapa teman tak kuasa menahan banjir air mata,” kisah Tomi.

Seorang relawan yang fasih berbahasa Bangla melaporkan, “Tenda plastik dan manusia ada di sejauh pandangan mata, ada di segala arah yang tak kelihatan ujungnya.”

Tomi bercerita, ia minta kepada salah satu pemuda Rohingya yang sejak Agustus lalu membantu kami menyalurkan amanah-amanah untuk membawa kami berkeliling.

“Tolong bawa kami ke saudara-saudara kami yang paling berat keadaannya,” kata Tomi. Permintaan itu langsung terdengar konyol.

Pemuda itu menjawab, “Semua orang di sini (mengalami penderitaan) berat.” Agak lama kami “menangkap” sindiran pria itu. Kami sangka dia tidak memahami apa maksud kami. Ternyata dia paham. Kamilah yang tak mengerti.

Pria itu benar sekali ketika menjawab, “Everyone here is in hardship” (semua orang di sini memgalami penderitaan berat).

Sangat betul bahwa tidak ada seorang pun yang dikejar-kejar tentara dan kelompok ekstremis Budha biadab itu, yang ringan deritanya. Setelah kami berbincang dengan sekian banyak orang, terungkaplah pengalaman buruk masing-masing. Ada yang kehilangan dua anak, kehilangan suami dan anak laki-laki, bahkan ada yang suaminya tewas dalam aksi pembantaian, dan sebagainya.

Semua pengungsi rata-rata menempuh perjalanan antara empat hingga enam hari dengan berjalan kaki untuk sampai ke perbatasan Bangladesh. Mereka tidak makan selama dua hari perjalanan sebelum akhirnya berjumpa dengan kampung pertama di dekat perbatasan. Perlu diingat, yang melakukan perjalanan panjang itu tak semua berusia antara 20-50 tahun, ada banyak lansia, wanita, dan anak-anak.

Luka Tembak Jadi Saksi

“Bekas peluru di lengan ini masih terasa sakit,” keluh Habib Husein, 50 tahun, di kamp pengungsi Balukhali. Ia ditembak ketika menyelamatkan diri dari kejaran tentara Myanmar, kira-kira sebulan lalu.

Habib Husein adalah satu di antara sekian banyak pasien klinik darurat yang diselenggarakan Sahabat Al-Aqsha (SA) di kamp Muhajirin yang ada di perbatasan Myanmar dengan Bangladesh. Bukan sekadar mata Habib yang menjadi saksi kezhaliman tentara Myanmar, tubuhnya pun ikut mengabadikan kekejaman mereka.

Seorang ibu menunjukkan lokasi bekas luka tembak sambil mengeluh, “Di bagian ini masih sakit.” Sebutir peluru pernah bersarang di pinggangnya. Ibu ini terkena tembakan peluru saat menyelamatkan diri dari berondongan senjata tentara Myanmar.

Ada juga keluhan lain. “Tangan saya patah ketika terjatuh saat lari,” ucap seorang wanita paruh baya sambil menunjukkan lengan kirinya yang bengkok.

Begitulah kondisi beberapa pasien di klinik darurat SA. Kondisi yang cukup menggambarkan apa yang telah terjadi dalam hidup mereka dan tambahan bukti yang mengungkap fakta kebohongan pemerintah Myanmar selama ini. Berkali-kali pemerintah Myanmar menyebutkan tidak ada tindak kekerasan kepada warga Muslim Rohingya.

Habib Husen, 42 tahun, salah satu dari puluhan pasien yang terkena kezhaliman pemerintah kafir Myanmar. Di Kutupalong, dokter memeriksa bekas luka tembak (sudah dioperasi di Bangladesh) di lengan kanannya dan memberikan beberapa obat, serta saran penyembuhannya lebih lanjut. Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Habib Husein, 42 tahun, salah satu dari puluhan pasien yang terkena kezhaliman pemerintah kafir Myanmar. Di Kutupalong, dokter memeriksa bekas luka tembak (sudah dioperasi di Bangladesh) di lengan kanannya dan memberikan beberapa obat, serta saran penyembuhannya lebih lanjut. Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Ahmad Kabir (28), salah satu di antara 200 ribuan Muhajirin di kamp Muhajirin Kutupalong. Ia mengantre sejak pagi untuk diperiksa. Ia mengeluhkan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya terutama tulang dan persendian. Ketika diobservasi dokter, ia bercerita pernah dipukuli tentara Myanmar ketika desanya diserang sebelum mengungsi ke Kutupalong. Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Ahmad Kabir (28), salah satu di antara 200 ribuan Muhajirin di kamp Muhajirin Kutupalong. Ia mengantre sejak pagi untuk diperiksa. Ia mengeluhkan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya terutama tulang dan persendian. Ketika diobservasi dokter, ia bercerita pernah dipukuli tentara Myanmar ketika desanya diserang sebelum mengungsi ke Kutupalong. Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Klinik Darurat

Alhamdulillah, pelaksanaan program klinik kesehatan yang kami selenggarakan di Kutupalong, salah satu kota Muhajirin Rohingya yang paling padat di Bangladesh berjalan lancar. Klinik dimulai pagi hari, sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Operasional klinik diawaki oleh dua dokter dibantu beberapa relawan untuk pendaftaran dan pendataan pasien, serta mengukur tekanan darah. Ditambah lagi, dibantu seorang penterjemah Rohingya. Alhamdulillah, klinik darurat tim SA mampu menangani 100-an pasien hingga pukul 17.30. Klinik ditutup sepuluh menit menjelang Maghrib yang masuk pukul 17.40 waktu setempat.

Berdasarkan data klinik, pasien yang datang umumnya menderita penyakit diare, penyakit kulit, gangguan pernapasan, demam, batuk, dan gizi buruk. Selama bertugas di sana, ada tiga bayi yang dehidrasi dan harus dirujuk untuk segera dibawa ke rumah sakit atau klinik terdekat. Namun, tidak ada ambulans yang bisa membawa pasien ke rumah sakit. Akses untuk ke rumah sakit sama sekali tidak ada. Jadi, kami hanya bisa pasrah dan tawakkal.

Klinik kesehatan darurat juga dilakukan di kamp Muhajirin Rohingya di Thenkhali. Di tempat ini klinik dibuka pukul 9.30 waktu setempat. Pelayanan klinik kita di sini berjalan lebih tertib karena tim SA memberlakukan antrean bernomor sehingga “siapa yang datang lebih dulu, dia yang dilayani.” Tidak ada potong antrean seperti sebelumnya. Metode antrean juga didasarkan pada prioritas (yang paling terlihat sakit, anak-anak, wanita hamil, wanita dan lansia). Sistem ini selain efektif untuk mendahulukan pasien yang paling membutuhkan penanganan, juga efektif membuat antrean lebih tertib.

Suasana juga lebih lancar karena para pasien yang telah mendapatkan nomor antrean bisa diatur untuk hanya berada di dalam ruangan praktik setelah dipanggil oleh relawan SA. Klinik betul-betul berjalan sangat efisien. Sekitar 140 pasien dengan beragam penyakit berhasil ditangani. Pasien-pasien yang juga menjalani pemeriksaan kesehatan di sini adalah para ibu hamil, mereka yang mengalami keguguran dan bayi yang lahir prematur. Anak-anak yang kekurangan gizi juga cukup banyak ditemukan.

Sebagai tambahan pelayanan, klinik SA juga menyediakan pakaian bagi anak-anak yang datang tanpa pakaian ke ruangan praktik.

Sementara di lokasi kamp pengungsi lain, yaitu di Jabal E-3 di Balukhali Zumassara, jumlah pasien klinik SA yang diperiksa di sana mencapai 200 orang. Ini jumlah terbanyak dari tiga hari berturut-turut praktik klinik kesehatan SA di kamp-kamp Muhajirin Rohingya. Penyakit yang banyak diderita pasien di kamp ini adalah infeksi pernapasan, infeksi saluran pencernaan, kekurangan gizi, dan gastritis. Banyak anak-anak yang tidak mendapatkan asupan nutrisi cukup dan masalah ini ditemukan di semua kamp Muhajirin.

Alhamdulillah, dengan izin Allah, tim relawan SA berhasil menembus lokasi yang relatif jauh dari jalan lintas utama dan sulit dijangkau sehingga bisa menyelenggarakan klinik kesehatan darurat di sana.

Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Ibu-ibu hamil yang kurang gizi, anak-anak dengan malnutrisi, diare, penyakit kulit, penyakit saluran pernafasan dan pencernaan sampai ke bayi-bayi yang dehidrasi dan harus dirujuk ke rumah sakit datang ke tempat ini. Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Ibu-ibu hamil yang kurang gizi, anak-anak dengan malnutrisi, diare, penyakit kulit, penyakit saluran pernafasan dan pencernaan sampai ke bayi-bayi yang dehidrasi dan harus dirujuk ke rumah sakit datang ke tempat ini. Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Distribusi Beras dan Perlengkapan Mandi

Tak hanya pemeriksaan kesehatan, tim relawan SA juga membagi-bagikan paket beras yang dilampiri handuk kecil, sabun mandi, sikat gigi dan pasta gigi di Jabal E-3 di Balukhali.

Jabal E-3 adalah nama yang diberikan oleh Muhajirin Rohingya untuk sebuah bukit yang lumayan tinggi di antara perbukitan yang ada di kawasan Kutupalong. Di situ ada “masjid” yang dibangun cepat oleh warga, terbuat dari kayu, bambu, plastik hitam dan terpal plastik. Lantainya tanah, atapnya plastik. Kalau sedang panas, suasana di dalam biasanya spontan memicu keringat bercucuran.

Tim SA membawa 170 paket bantuan naik ke bukit yang cukup jauh dari jalan raya. Perjalanan ke sana sangat sulit karena kami harus berjalan kaki sambil membawa paket. Sebenarnya, naik ke bukit dengan tangan kosong saja memerlukan usaha yang keras. Terlebih lagi ini, satu orang harus menenteng enam paket yang masing-masing beratnya lima kilogram.

Tim membagikan paket di halaman “masjid” Jabal E-3. Cukup mendebarkan karena jumlah paket yang dibawa hanya 170. Mula-mula warga yang berkumpul hanya sekitar 40 orang. Namun, dalam waktu 10 menit tiba-tiba jumlahnya bertambah menjadi sekitar 300 orang.

Alhamdulillah, Muhajirin Rohingya menunggu dengan tertib. Tidak ada desak-desakan, meskipun suasana agak sedikit riuh. Semua bisa bersabar.

Setelah paket habis dan masih banyak yang belum kebagian, wakil lapangan SA memutuskan untuk membagikan dana tunai kepada mereka sebagai pengganti paket. Dengan tujuan ketertiban, dana tunai itu dititipkan kepada beberapa tetua Muhajirin untuk dibagikan kepada anggota kelompok masing-masing.

Selesai pembagian paket beras dan perlengkapan mandi di halaman Jabal E-3, tim SA melakukan temu wawancara dengan ketua masjid, para imam dan guru. Tempat praktik medis tim SA di Kutupalong berdekatan dengan masjid. Alhamdulillah, ada beberapa syabab (anak-anak muda) terdidik yang memang ditugaskan oleh pemimpin mereka di tempat asal mereka di Arakan untuk membersamai Muhajirin dan mendidik, terutama anak-anak. Akan tetapi, jumlahnya memang sangat terbatas. Hanya ada enam orang untuk melayani sekitar 200 ribuan warga. Selain kegiatan medis, tim SA juga sempat menggelar acara ngobrol dan ramah tamah dengan puluhan anak pengungsi Rohingya.

Ke Perbatasan

Setelah praktik klinik kesehatan SA dipastikan berjalan lancar, dua relawan SA melanjutkan perjalanan menuju perbatasan Bangladesh-Myanmar. Tim kecil ini ditemani oleh seorang relawan senior Rohingya Youth Foundation yang telah bekerja sekuat tenaga membantu SA dalam mengimplementasikan program bantuan untuk Muhajirin Rohingya.

Kami memulai perjalanan sekitar pukul 10 pagi. Masuk dan keluar kampung, melewati empat pos pemeriksaan militer dan polisi Bangladesh. Daerah menuju perbatasan tampaknya menjadi semacam “hotspot” bagi pemerintah Bangladesh. Akan tetapi, alhamdulillah, tentara dan polisi yang menghentikan kami ternyata sangat baik.

Kami selalu mengajak mereka bercanda dan mereka suka dicandai sehingga suasana menjadi santai. Kami selalu senyum dan berlaku ramah kepada mereka. Begitu mereka tahu kami datang dari Indonesia, mereka tampak senang.

Kami sampai di titik terakhir yang boleh didatangi, sekitar dua kilometer dari muara sungai Naf yang digunakan sebagai tempat mendarat Muhajirin Rohingya. Di pos pemeriksaan terakhir ini kami berhenti di kamp militer yang digunakan sebagai markas untuk mendaftarkan Muhajirin yang baru tiba. Hari itu kami menjumpai puluhan warga Rohingya yang sebagian besar wanita dan anak-anak. Hanya ada beberapa laki-laki. Antara bisa dan tidak bisa untuk menduga mengapa kaum laki-laki tidak ikut bersama mereka. Boleh jadi kaum laki-laki dianggap sebagai ancaman keamanan di masa depan bagi Myanmar sehingga mereka perlu ditiadakan.

Untuk sementara ini tim SA belum bisa melihat langsung kedatangan Muhajirin Rohingya ke Bangladesh. Sebab, kami harus berada di “pintu masuk” setelah tengah malam sampai pukul 3.00-4.00 waktu setempat. Seorang tentara yang berposisi sebagai komandan pos pemeriksaan terakhir mengatakan dia bisa membantu kalau kami ingin melihat langsung kedatangan warga Rohingya yang masuk melalui wilayah pengawasannya.

Di kamp militer (pos pemeriksaan terakhir) itu, relawan SA membagi-bagikan santunan tunai sebesar 200 taka (sekitar USD2.50) per kepala. Pada saat yang sama, beberapa LSM lain juga membagikan santunan tunai.

Bagi Uang Diam-diam

Belum tergali apa alasannya, kamp Muhajirin Rohingya yang terbaru dikontrol sepenuhnya oleh tentara Bangladesh. Tim kecil SA non-medis masuk ke kamp khusus ini sepulang dari kawasan perbatasan dengan Myanmar.

Memang ada perbedaan penjagaan. Mulai dari persimpangan jalan raya sampai ke gerbang utama kamp khusus, terlihat penjagaan yang lebih ketat. Begitu masuk ke mulut jalan menuju lokasi, mobil kami dihentikan tentara. Setelah beberapa ratus meter ke dalam, ada satu lagi pos pemeriksaan. Menjelang gerbang kamp, ada satu pos yang melakukan registrasi identitas organisasi dan personalianya. Setelah melewati pos penentu ini, kami pun bebas masuk ke blok-blok “hunian pengungsi yang sangat tak layak huni” itu.

Menurut relawan-relawan Rohingya Youth Foundation, kami harus ekstra hati-hati melakukan kegiatan pemberian bantuan. Tidak begitu jelas juga mengapa hanya di kamp ini saja penjagaan lebih ketat. Akan tetapi, sebagai tamu, kami lebih baik berhati-hati. Untuk itu, kami membagi-bagikan santunan tunai secara diam-diam. Petugas lokal kami menyampaikan pemberian uang harus dilakukan dari pintu ke pintu tanpa pengambilan foto atau video.

Selama sekitar dua jam kami berkeliling kamp, menyinggahi rumah-rumah darurat seukuran 5×3 meter yang ditinggali oleh rata-rata enam orang. Menjelang matahari terbenam, kami menghentikan penyampaian amanah para donatur SA.

Muhajirin tampaknya lebih suka menerima bantuan tunai. Mungkin karena harus membeli berbagai keperluan harian di luar beras dan bahan sembako lainnya yang biasanya tersedia dalam paket bahan baku makanan.

MCK

Masalah sanitasi selalu mengemuka di area pengungsian. Ketika tim SA mencoba menengok dan “menjajal” fasilitas mandi cuci kakus (MCK) darurat di area kamp, kami menjumpai bilik yang sangat sempit. Tidak ada jarak antara dinding plastik bilik dengan bibir keramik toilet. Hanya untuk berjongkok saja sangat sulit. Dengan kondisi seperti ini, penularan infeksi fekal-oral (penularan penyakit dari feses ke mulut) sangat mudah terjadi. Ditambah jumlah dan kualitas airnya yang rendah. Terbukti salah satu penyakit tertinggi yang dijumpai tim adalah infeksi saluran cerna (gastroenteritis akut-GEA).

Ada budaya cuci tangan yang baik sebelum makan pada masyarakat Rohingya. Hal itu dibuktikan dengan disediakannya fasilitas cuci tangan dengan air mengalir setiap kami disuguhi makan. Namun, sekali lagi kondisi dan kualitas air yang rendah menyebabkan penyakit GEA cukup tinggi. Kami juga mendapati, penghuni kamp meminum air mentah langsung dari kran airnya. Tanpa gelas. Saat kami amati, air yang mengalir dari kran semuanya berwarna kekuningan.

Masalah lain yang kami temui adalah mayoritas anak-anak tidak mengenakan baju atau celana atau keduanya. Alasan yang disampaikan para orang tua Muhajirin adalah cuaca yang panas dan kerepotan saat harus mencuci pakaian anak-anak mereka.

Tim medis SA juga kembali mendapati kasus pasien yang membutuhkan rawat lanjutan di rumah sakit, yaitu neonatus (bayi baru lahir) berusia enam hari, yang lahir saat masih berusia delapan bulan kehamilan (prematur). Berat bayi kami taksir sekitar 1200-1500 gram dan sekali lagi tanpa baju atau selimut bayi yang tebal. Bayi tersebut hanya dilapisi satu kain tipis.

Tiga hari pelayanan tim medis SA bukanlah pekerjaan yang bernilai besar dibandingkan dengan masalah yang sedang dan akan mereka hadapi di waktu mendatang. Sungguh pekerjaan yang panjang dan membutuhkan kesinambungan, serta kesabaran. Hanya kepada Allah kita mengharap daya dan kekuatan.* (Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya)

Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

Foto: Sahabat Al-Aqsha | SA4Rohingya

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Tujuh Mujahid Gugur, 13 Lainnya Terluka Akibat Serangan Roket Penjajah Zionis
November, Kuwait Selenggarakan Muktamar Lawan Normalisasi Hubungan dengan ‘Israel’ »