Rusia Gunakan Hak Veto untuk Halangi Penyelidikan Penggunaan Senjata Kimia di Suriah

19 November 2017, 19:42.
Foto: Aljazeera.net

Foto: Aljazeera.net

MOSKOW, Ahad (Aljazeera.net): Rusia kembali menggunakan hak vetonya, Jum’at (17/11) lalu, untuk membatalkan rancangan resolusi yang disusun oleh Jepang dalam rapat Dewan Keamanan (DK) PBB terkait rencana memperpanjang hak investigasi internasional kasus penggunaan senjata kimia di Suriah selama satu bulan.

Jum’at (17/11) lalu izin penyelidikan yang dilakukan oleh Komisi Investigasi PBB dengan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) berakhir. Izin itu diberikan DK PBB tahun 2015. Sejauh ini, Rusia telah menggunakan hak vetonya 11 kali untuk melawan pergerakan DK PBB terkait masalah Suriah sejak dimulainya pembantaian yang dilakukan rezim Suriah tahun 2011 lalu. Rancangan yang diajukan Jepang itu mendapat dukungan 12 suara, China memilih abstain, sementara Bolivia mengekor Rusia menentang rancangan tersebut.

Menurut hasil investigasi, yang dikenal dengan sebutan Mekanisme Penyelidikan Bersama, rezim Suriah menggunakan gas terlarang Sarin pada serangan bulan April, dan beberapa kali menggunakan klorin untuk membunuhi Muslimin di Suriah. Hasil investigasi juga menunjukkan bahwa ISIS menggunakan gas mustard.

Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, mengatakan bahwa investigasi dapat diperpanjang hanya jika ‘kekurangan mendasar dalam pekerjaannya’ diperbaiki. Menurutnya, dalam dua tahun terakhir penyelidik telah “membuat tuduhan yang tidak berdasar terhadap rezim Suriah”.

Pada Kamis 24 Oktober, Rusia juga memveto dua rancangan resolusi yang disusun oleh Amerika Serikat untuk memperbarui mandat komisi tersebut. Dan pada Kamis lalu, DK PBB juga memberikan suara terhadap rancangan resolusi terkait perpanjangan mandat komisi investigasi, namun gagal. Karena, hanya mendapat empat suara.

“Rusia menyia-nyiakan waktu kita,” kata Nikki Haley, Duta Besar AS untuk PBB. “Tindakan Rusia hari ini dan beberapa pekan terakhir telah bertujuan untuk menunda, menceraiberaikan dan ujungnya adalah menggagalkan upaya untuk memastikan akuntabilitas serangan senjata kimia di Suriah,” imbuhnya.

Setelah pertemuan tersebut, DK PBB melakukan diskusi tertutup atas permintaan Duta Besar Swedia untuk PBB Olof Skoog, “Untuk memastikan bahwa kita yakin sepenuhnya bahwa kita telah mengerahkan semua jalan dan upaya sebelum berakhirnya mandat komisi investigasi,” ujarnya.

Rusia menyetujui pembentukan mekanisme investigasi gabungan, namun terus mempertanyakan hasil dan metode kerjanya.

Sementara itu, serangan yang dilakukan oleh rezim Suriah atas wilayah Khan Syaikhun pada 4 April lalu telah menewaskan puluhan warga dan melukai lebih dari 500 orang.* (Aljazeera.net | Sahabat Al-Aqsha)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penjajah Zionis Terus Tunda Pengobatannya, Akhirnya Tawanan Palestina Ini Buta
Awal Tahun Hingga Agustus 2017, Penjajah Zionis Tewaskan 14 Anak Palestina »