Dokumen Rahasia Inggris Ungkap Rencana Mubarak Tampung Warga Palestina di Mesir

2 December 2017, 21:52.
Presiden Mesir yang digulingkan, Husni Mubarak. Foto: TG Post/Facebook

Presiden Mesir yang digulingkan, Husni Mubarak. Foto: TG Post/Facebook

LONDON, Sabtu (Middle East Monitor): Dokumen rahasia Inggris mengungkap bahwa presiden Mesir yang digulingkan, Husni Mubarak, setuju untuk menampung warga Palestina di Mesir tiga dekade lalu. Menurut dokumen tersebut –yang diperoleh secara eksklusif oleh BBC atas permintaan pengungkapan informasi berdasarkan UU Kebebasan Informasi– Mubarak merespon permintaan Amerika ketika ia menawarkan hal ini. Sebagai gantinya, mantan presiden itu menetapkan sebuah perjanjian untuk mengakhiri konflik Arab-‘Israel’ harus dicapai.

Dokumen tersebut menunjukkan bahwa Mubarak mengungkapkan permintaan Amerika Serikat dan tanggapannya selama berbicara dengan Perdana Menteri Inggris saat itu, mendiang Margaret Thatcher. Pembicaraan tersebut diselenggarakan selama kunjungan Mubarak ke London dalam perjalanannya kembali ke Washington, pada Februari 1983, dimana ia bertemu dengan mendiang Presiden AS Ronald Reagan.

Dua kunjungan tersebut terjadi delapan bulan setelah ‘Israel’ menginvasi Lebanon pada 6 Juni 1982 dengan alasan melaksanakan operasi militer terhadap PLO. Hal ini dipicu oleh percobaan pembunuhan terhadap duta besar ‘Israel’ di London, Shlomo Argov.

Dengan mempertimbangkan situasi yang sangat genting di Timur Tengah, Mubarak berusaha meyakinkan AS dan ‘Israel’ untuk menerima penetapan entitas Palestina dalam konteks sebuah “perserikatan” dengan Yordania, untuk meletakkan fondasi-fondasi demi menetapkan negara Palestina merdeka di masa depan.

Menurut catatan pertemuannya dengan Thatcher, Mubarak mengatakan bahwa ketika ia diminta untuk menerima warga Palestina dari Lebanon, ia mengatakan pada AS ia bisa melakukannya hanya dalam konteks rencana komprehensif untuk menyelesaikan konflik. Mantan presiden itu menyatakan kesediaannya untuk menjadi tuan rumah bagi warga Palestina dari Lebanon sekalipun menyadari tentang bahaya langkah tersebut. Ia juga bersikeras bahwa, “Negara Palestina tidak akan pernah menimbulkan ancaman bagi ‘Israel’.”

Thatcher menjawab ini dengan mengisyaratkan bahwa terlepas dari perjanjian apapun di masa depan, warga Palestina tidak pernah bisa kembali ke Palestina. “Bahkan pembentukan negara Palestina tidak dapat mengarah pada menyerap seluruh warga Palestina yang menetap di luar Palestina (diaspora),” tegas Thatcher.

Menteri Luar Negeri Mesir saat itu, Boutros Ghali, menjawab Thatcher: “Warga Palestina akan memiliki paspor sendiri,” jelasnya, “dan mereka akan memiliki posisi berbeda. Kita tidak hanya harus memiliki negara Israel dan diaspora Yahudi, tapi juga sebuah negara Palestina kecil dengan diaspora Palestina.”

Mubarak menyebut warga Palestina di Kuwait sebagai contoh kepada Thatcher. “Mereka tidak akan pernah kembali ke negara Palestina merdeka.”

Menurut BBC, ketika sekretaris mendiang Perdana Menteri Inggris mencatat pertemuan dengan Mubarak, ia menekankan bahwa itu tidak harus disebarkan secara luas.

Penasihat politik Mubarak saat itu, Osama Al-Baz, menyampaikan usulan solusi masa depan. Ia menegaskan bahwa langkah pertama akan menjadi persekutuan antara Yordania dan negara Palestina, yang akan berkembang menjadi sebuah negara merdeka dalam 10 hingga 15 tahun.

Thatcher menyatakan keberatan tentang penetapan sebuah negara Palestina yang merdeka dari Yordania: “Beberapa pihak merasa bahwa negara Palestina merdeka akan berada di bawah pengaruh Uni Soviet.”

“Ini gagasan yang keliru,” kata Al-Baz, “karena tidak akan ada negara Palestina di bawah pengaruh Rusia. Negara ini akan bergantung secara ekonomi pada Arab yang kaya minyak dan sangat menentang pembentukan sebuah negara yang setia pada Soviet di kawasan tersebut. Arab Saudi, contohnya, tidak akan pernah membiarkan ini terjadi.”

Ia juga menunjukkan bahwa negara Palestina “harus” didemiliterisasi, dan karena itulah tidak akan memperoleh senjata Soviet.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pemukim Ilegal Yahudi Terus Coba Hapus Identitas Baitul Maqdis dan Bujuk Warga Jual Tanah
Tak Pandang Bulu, Penjajah Zionis Juga Siksa Tawanan Penyandang Disabilitas »