Tahun Lalu, Rakyat Gaza Alami Bencana Kemanusiaan Terparah

8 January 2018, 21:23.
Foto: Arabi21.com

Foto: Arabi21.com

GAZA, Senin (Arabi21.com): Sebuah laporan kemanusiaan yang dirilis Lembaga Kemanusiaan Himayah mendokumentasikan realitas hidup sulit yang dijalani rakyat Gaza, yang diblokade selama lebih dari 11 tahun. Laporan itu menunjukkan rincian penderitaan rakyat Gaza sepanjang tahun 2017 akibat blokade.

Laporan Himayah yang salinannya diterima oleh Arabi21.com menjelaskan, bencana kemanusiaan yang dirasakan rakyat Gaza bertambah parah sepanjang tahun lalu. Kondisi perekonomian di Gaza menurun drastis, angka kemiskinan mencapai 65% dan kehilangan pekerjaan sekitar 50%.

Angka kehilangan pekerjaan di Gaza tahun lalu adalah yang tertinggi sejak 19 tahun terakhir. Menurut laporan tersebut, sanksi Otoritas Palestina yang diberlakukan terhadap rakyat Gaza termasuk yang paling berpengaruh menyebabkan menurunnya kualitas perekonomian di Gaza.

Tahun 2017 juga menjadi tahun paling sedikit dibukanya pintu Rafah oleh pemerintah Mesir dibandingkan tahun sebelumnya. Tercatat Rafah hanya dibuka selama 21 hari, selebihnya ditutup. Selain itu, penjajah Zionis menghalangi arus ekspor produk-produk Gaza ke luar, hanya beberapa saja yang diizinkan, serta melarang masuknya sejumlah barang dagangan ke Gaza.

Terkait krisis listrik di Gaza, laporan tersebut menjelaskan bahwa tahun lalu krisis listrik di Gaza semakin parah dengan defisit listrik 63%, dan jadwal listrik menyala rata-rata setiap hari hanya empat jam. Laporan itu menunjukkan, langkah Otoritas Palestina yang mengurangi 40% anggaran –yang dialihkan ke penjajah Zionis– semakin memperburuk krisis listrik di Gaza.

Dari sektor kesehatan, tahun 2017 Gaza mengalami krisis obat-obatan. Berdasarkan data yang ada, lebih dari 184 jenis obat tidak tersedia di seluruh rumah sakit di Gaza. Termasuk jenis obat yang tidak tersedia adalah obat-obatan khusus untuk pasien penderita kanker.

Sementara itu, penjajah Zionis masih terus menolak memberikan izin berobat ke luar Gaza. Dari total permohonan yang diajukan tahun lalu, sekitar 60% ditolak.

Laporan itu menyebutkan bahwa kualitas air di Gaza menurun drastis selama berlangsungnya blokade. Defisit air mendekati 150 juta meter kubik, dengan 97% tercemar dan lebih dari 1500 miligram mengandung garam. Akibat krisis listrik, warga Gaza hanya memperoleh 80 liter setiap harinya, jauh di bawah batas minimum yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Laporan itu memprediksikan, jika blokade terus berlanjut maka laut Gaza akan menjadi rawa air limbah. Tahun lalu jumlah air laut tercemar meningkat, sekitar 73% laut Gaza tidak baik untuk berenang.

Berdasarkan keterangan dari Kementerian Ketenagakerjaan, laporan itu menjelaskan bahwa blokade atas Gaza berdampak pada proses rekonstruksi di Gaza sesudah agresi militer Zionis tahun 2014. Sejauh ini hanya ada 5.528 bangunan selesai dibangun dari total 11.000 bangunan yang hancur total. Dan masih ada 3.672 bangunan yang sampai hari ini belum menerima dana rekonstruksi. Sementara bangunan yang setengah hancur, sekitar 10.124 selesai diperbaiki dari total 62.379 bangunan yang rusak sejak agresi militer Zionis tahun 2014.

Terakhir, laporan itu menunjukkan bahwa banyak nelayan Gaza yang kehilangan mata pencaharian dan hidup dari bantuan kemanusiaan. Hasil tangkapan ikan tahun 2017 menurun hanya 1800 ton, padahal sebelum blokade bisa mencapai 4000 ton. Di sisi lain penjajah Zionis membatasi jarak melaut mereka hanya enam mil saja di perairan Gaza.

Secara ringkas, laporan tersebut menjelaskan bahwa dari segala sektor kondisi di Gaza semakin buruk, dan jika blokade terus berlanjut maka akan semakin menambah bencana. Sementara dari sisi hukum, sanksi kolektif terhadap rakyat melalui blokade ini adalah kejahatan yang melanggar hukum internasional. Dan ‘Israel’ sebagai penjajah telah melanggar Perjanjian Jenewa Keempat tahun 1949.

Sebagai penutup laporan tersebut menyerukan kepada masyarakat internasional untuk menekan penjajah Zionis agar menghentikan blokade atas Gaza. Pun, menyerukan pemerintah Mesir untuk segera membuka pintu Rafah bagi warga Gaza yang ingin safar, dan menghentikan penderitaan ribuan rakyat Gaza yang sangat membutuhkan pengobatan.

Himayah juga meminta kepada Otoritas Palestina agar menghentikan kezhaliman terhadap rakyat Gaza. Pun, kepada pemerintah rekonsiliasi nasional agar menunaikan tanggung jawabnya di Gaza dan segera meredam krisis yang sedang melanda Gaza, serta segera memulai pengembangan di semua sektor dan menyatukan semua pihak.* (Arabi21.com | Sahabat Al-Aqsha)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Rezim Suriah Bombardir Idlib, Ribuan Warga Hijrah ke Perbatasan Turki
Serdadu Zionis Tangkap Empat Nelayan Gaza »