Nur Tamimi: ‘Saya Tidak Menyesal’

9 January 2018, 20:56.
Nur Tamimi setelah bebas dari penjara, di rumahnya di Nabi Saleh, Tepi Barat, 5 Januari 2018. Foto: Oren Ziv/Activestills.org

Nur Tamimi setelah bebas dari penjara, di rumahnya di Nabi Saleh, Tepi Barat, 5 Januari 2018. Foto: Oren Ziv/Activestills.org

TEPI BARAT TERJAJAH, Selasa (+972 Magazine): Beberapa jam setelah bebas dari penjara militer Zionis, Nur Tamimi, yang ditangkap bersama sepupunya Ahed Tamimi, berbicara tentang penangkapan dan pengalamannya di penjara.

“Biasa, itu terjadi setiap hari di Palestina, para serdadu masuk ke kampung dan rumah-rumah kami. Namun kali ini, media ‘Israel’ menjadikannya sesuatu yang besar dan tersebar luas di media sosial,” kata Nur Tamimi dalam sebuah wawancara dengan +972 Magazine, beberapa jam setelah ia bebas dari penjara Zionis, Jum’at (5/1) lalu.

Nur Tamimi (21), asal desa Nabi Saleh, ditawan hampir dua pekan setelah video yang menunjukkan ia dan sepupunya, Ahed Tamimi, berupaya mendorong para serdadu Zionis keluar dari teras rumah keluarga Tamimi tersebar luas. Ahed (16) dan ibunya, Nariman, masih berada di penjara sambil menunggu persidangan.

Kamis (4/1) lalu sekitar tengah malam, Nur dibawa dari penjara Sharon ke pos pemeriksaan Jabara, dan kemudian ke rumahnya, dimana keluarga telah menunggunya.

Wartawan +972 Magazine berbincang dengan Nur pada Jum’at pagi di rumahnya, dimana kerabat, pendukung, dan media Palestina berkumpul. Di antara para tamu yang datang untuk mendukung Nur adalah Mohammed Tamimi (15), yang ditembak serdadu Zionis di kepala dengan peluru berlapis karet sejam atau sebelum video Ahed dan Nur yang menampar serdadu Zionis tersebar.

Cuaca hari itu berangin sehingga tak ada aksi demo yang rutin diselenggarakan setiap Jum’at di desa tersebut. Meskipun demikian, gerombolan serdadu Zionis menyebar di pintu masuk desa Nabi Saleh – nampaknya untuk mengingatkan warga tentang apa yang akan terjadi jika seseorang berani melangkah keluar.

“Tidak mudah karena ini kali pertama saya, tapi di penjara saya bertemu banyak wanita yang bertahun-tahun berjuang dari hari ke hari untuk bertahan di sana,” katanya. “Pengalaman yang paling sulit adalah berada di dalam kendaraan angkutan tahanan. Mereka akan mengambil kami dari penjara Sharon pada pukul dua pagi dan membawa kami kembali pada pukul 11 malam. Kami menghabiskan sebagian besar waktu sebelum dan setelah sidang di kendaraan-kendaraan itu, sangat dingin dan tidak ada akses kepada makanan, air, atau kamar mandi.”

Ahed ditawan di sel yang terpisah karena ia anak di bawah umur. Nur sulit melihat Ahed di penjara, tapi terakhir kali ia bisa melihat Ahed, Nur teringat bahwa Ahed nampak “kuat dan bersemangat tinggi.”

Nur tahu betul bagaimana media ‘Israel’ mengulas video dan kejadian tersebut. “Meskipun media ‘Israel’ mengatakan bahwa kami kasar, dunia memahami kisah kami – bahwa para serdadu datang ke rumah kami dan kami hanya ingin mereka pergi,” katanya.

“Masalahnya adalah banyak orang hanya menyaksikan video itu beberapa menit, dan hanya melihat gambaran tidak lengkap atas apa yang terjadi. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya,” kata Nur. “Serdadu Zionis menembak wajah seorang anak di desa kami dan ia terluka sangat parah, serta dalam bahaya. Bukan hal yang normal melakukan sesuatu seperti itu kepada seorang anak. Karena itulah kami ingin para serdadu itu pergi. Itu situasi yang sensitif.”

Wartawan +972 Magazine bertanya apakah pengalamannya di penjara membuatnya berpikir dua kali untuk melawan para serdadu Zionis. “Kami sadar akan konsekuensinya dan sama sekali tak ada penyesalan,” jawab Nur tanpa keraguan. “Ketika kami melihat sesuatu terjadi di desa kami, kami bertindak dari hati dan bukan dari kepala – tanpa berpikir terlebih dahulu tentang konsekuensi atau hasilnya. Itu untuk menjaga kemanusiaan kami. Waktu (yang saya habiskan) di penjara tidak membuat perbedaan apapun.”

Naji Tamimi, ayah Nur dan aktivis yang giat berjuang melawan penjajahan di Nabi Saleh, yang juga pernah mendekam di penjara ‘Israel’ karena ikut serta dalam aksi demo di desa tersebut, mengatakan pada +972 Magazine mengenai perasaannya setelah pembebasan Nur. “Campur aduk: ‘Saya bahagia anak saya dibebaskan, tapi saya masih memikirkan tentang Ahed dan Nariman, yang masih di penjara. Kami juga harus mengingat bahwa ini bukan akhir bagi Nur. Ia bisa ditangkap lagi. Ada dakwaan dan kami tidak tahu bagaimana proses hukum akan berakhir untuknya.”

Seperti halnya Nur, Naji berpikir penting bagi publik yang lebih luas dan khususnya publik ‘Israel’ untuk “melihat keseluruhan cerita, tidak hanya melihat video dua menit yang dipublikasikan. Di YouTube, ada video dari hari insiden tersebut. Mereka bisa melihat bagaimana serdadu Zionis menggunakan kekerasan terhadap kami. Mereka harus melihat gambaran tersebut secara utuh. Serdadu-serdadu Zionis ada di Nabi Saleh dari pukul 10 pagi hingga lima sore, dan ada banyak kekerasan.”

“Penjajahan itu sendiri merupakan kekerasan,” lanjut Naji. “Ketika itu mengancam jiwa kita, rumah kita, anak-anak kita, saya tidak bisa mengatakan pada seseorang, kepada Nur, contohnya ‘kenapa kau mendorong atau berteriak?’ Betapapun, hanya beberapa menit sebelumnya (para serdadu) menembak seorang anak berusia 15 tahun dan melukainya dengan parah. Kami terus berjuang. Kami tidak akan pernah menerima penjajahan. Kami tidak mau berada di penjara, atau di mana pun tempat yang berbahaya. Kami hanya tidak ingin hidup di bawah penjajahan,” tegasnya.* (+972 Magazine | Sahabat Al-Aqsha)

Mohammed Tamimi (15), ditembak di kepala dengan peluru berlapis karet oleh serdadu Zionis, Nabi Saleh, Tepi Barat, 5 Januari 2018. Foto: Oren Ziv/Activestills.org

Mohammed Tamimi (15), ditembak di kepala dengan peluru berlapis karet oleh serdadu Zionis, Nabi Saleh, Tepi Barat, 5 Januari 2018. Foto: Oren Ziv/Activestills.org

Nur Tamimi bersama orangtuanya di Nabi Saleh, Tepi Barat, 5 Januari 2018. Foto: Oren Ziv/Activestills.org

Nur Tamimi bersama orangtuanya di Nabi Saleh, Tepi Barat, 5 Januari 2018. Foto: Oren Ziv/Activestills.org

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Tabrak Warga Palestina Hingga Tewas, Penjajah Zionis Minta Ganti Rugi pada Keluarga Korban
Al-Qassam: Aksi Perlawanan di Nablus Peringatan untuk Para Gembong Zionis »