Mufti Besar Palestina Larang Penjualan Properti di Baitul Maqdis

13 April 2018, 21:47.
Kubah As-Sakhrah (Dome of the Rock) dan masjid-masjid lainnya terlihat dari kawasan Arab di Silwan, Baitul Maqdis. Foto: Dokumentasi Middle East Monitor

Kubah As-Sakhrah (Dome of the Rock) dan masjid-masjid lainnya terlihat dari kawasan Arab di Silwan, Baitul Maqdis. Foto: Dokumentasi Middle East Monitor

LONDON, Jum’at (Middle East Monitor): Mufti Besar Baitul Maqdis dan wilayah-wilayah Palestina, Syaikh Mohammed Hussein mengeluarkan keputusan yang melarang penjualan atau pemberian kemudahan penjualan atau kepemilikan properti apapun di Baitul Maqdis kepada penjajah Zionis.

“Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha adalah wakaf Islam yang tidak dapat dipindahtangankan, tidak bisa dijual, diserahkan atau diwariskan, dan tidak seorang pun memiliki hak untuk melepaskannya,” katanya. “Pengabaian terhadap Baitul Maqdis atau bagian darinya, atau bagian dari Masjidil Aqsha untuk musuh seperti halnya menelantarkan Makkah atau Madinah.”

Penjajah Zionis telah merampas petak-petak tanah yang luas di area tersebut melalui pemalsuan atau ditetapkannya undang-undang termasuk Absentees Property Law. Anggota Komite untuk Pertahanan Tanah dan Real Estate di Silwan, Fakhri Abu Diab mengatakan bahwa otoritas ‘Israel’ dan asosiasi-asosiasi permukiman ilegal Yahudi telah merampas hampir 13 persen dari kota Silwan yang memiliki area seluas 5,640 dunum (5,6 kilometer persegi) dengan menggunakan Absentee Property Law atau perampasan.

Absentee Property Law adalah UU yang menetapkan bahwa orang-orang yang diusir, melarikan diri, atau meninggalkan negara setelah 29 November 1947, terutama dikarenakan perang, maka properti bergerak dan tidak bergerak mereka (terutama tanah, rumah, rekening bank dan sebagainya) merupakan “absente”. Properti milik para absente berada di bawah kekuasaan ‘Israel’.

“Mereka yang menyerahkan properti-properti Kristen atau Islam berarti memilih untuk berada di pihak penjajah yang ingin meyahudisasi kota Baitul Maqdis,” tambahnya.

Menurut Pusat Informasi Wadi Hilweh, sekitar 50 permukiman ilegal Yahudi telah dibangun di kota Silwan, sebagian besar di kawasan Wadi Hilweh yang paling dekat dengan Masjidil Aqsha. Pusat Informasi tersebut mengatakan pada Quds Press bahwa permukiman-permukiman ilegal Yahudi itu merupakan hasil dari merampas tanah warga Palestina, baik melalui penyitaan, perampasan ilegal atau dengan menetapkan UU perampasan.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penjajah Zionis Desak Hukum Mereka yang Rekam Kejahatan Serdadunya
Penjajah Zionis Bebaskan Serdadunya Tembak Pendemo Palestina, 1 Gugur dan 350 Terluka »