Penjajah Zionis Bebaskan Serdadunya Tembak Pendemo Palestina, 1 Gugur dan 350 Terluka

15 April 2018, 17:18.
Serdadu Zionis telah menembak mati 31 warga Gaza dan melukai ratusan lainnya sejak aksi protes damai dimulai. Foto: Mohammad Asad/Middle East Monitor

Serdadu Zionis telah menembak mati 31 warga Gaza dan melukai ratusan lainnya sejak aksi protes damai dimulai. Foto: Mohammad Asad/Middle East Monitor

LONDON, Ahad (Middle East Monitor): Seorang warga Palestina gugur dan 350 lainnya cedera saat serdadu Zionis menyerang ribuan orang yang berkumpul menggelar aksi protes damai di sepanjang perbatasan Gaza-‘Israel’ pada Jum’at (13/4), ungkap pejabat Gaza.

Banyak dari pendemo yang membakar ban sebagai upaya untuk menyembunyikan diri mereka dari para penembak jitu ‘Israel’. Dekat Khan Younis di selatan, para demonstran juga membakar foto PM Benyamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump sekutu ‘Israel’. Sekelompok pemuda juga mengibarkan bendera Palestina dan membakar bendera ‘Israel’ di dekat pagar perbatasan usai shalat Jum’at.

Para petugas medis Palestina mengatakan, serdadu Zionis melepaskan tembakan ke arah para demonstran sehingga menewaskan satu orang dan melukai 350 lainnya. Otoritas ‘Israel’ mengizinkan para serdadunya untuk menembak siapapun yang mendekati sisi pagar Gaza, kendati mendapat kecaman dari lembaga-lembaga HAM dan PBB.

Jum’at (13/4) lalu pukul 4 sore waktu setempat, sekitar 350 orang terluka. Selama dua pekan terakhir, ada lebih dari 3.000 warga Palestina yang terluka. Laporan yang menyatakan bahwa para serdadu Zionis menembakkan gas airmata di rumah sakit lapangan di timur Khan Younis sehingga mengakibatkan sedikitnya sepuluh tenaga medis mengalami sesak nafas.

Wartawan Palestina Ahmad Abu Hussein dan juru foto Mohammed Al-Hajjar juga tertembak. Ini berarti menambah jumlah daftar wartawan yang terluka selagi mendokumentasikan demonstrasi yang merupakan bagian dari ‘Great March of Return’ itu. Penjajah Zionis telah menyebar pasukan militer tambahan ke perbatasan Gaza dan mendeklarasikan zona larangan masuk ke dekat pagar perbatasan Gaza.

Otoritas Zionis mengizinkan para serdadunya untuk menembak siapapun yang mendekati sisi pagar di Gaza, meskipun praktik tersebut mendapat kecaman dari berbagai LSM dan PBB. Pekan lalu, lembaga HAM ‘Israel’ B’Tselem menuntut para serdadu ‘Israel’ menolak perintah “kotor ilegal” apapun untuk menembak demonstran Palestina tak bersenjata.

Demonstrasi pekan lalu ditandai dengan kematian wartawan Yaser Murtaja yang ditembak penembak jitu ‘Israel,’ meski dengan jelas mengenakan rompi bertanda “PERS”. Muncul pula foto-foto para pemukim ilegal Yahudi di menara pengawas militer bersorak saat para serdadu menembak warga sipil Palestina, serta video serdadu-serdadu Zionis merayakan penembakan seorang demonstran Palestina.

Pasukan penjajah Zionis juga menjegal aksi solidaritas di Tepi Barat, dengan sedikitnya seorang wartawan, Ramez Awwad, dikabarkan terluka oleh tembakan peluru di kota Al-Bireh.

Aksi protes yang direncanakan berlangsung enam pekan –dimulai pada 30 Maret yang menandai Hari Tanah– akan berakhir pada 15 Mei yang merupakan peringatan ke-70 Nakba (Malapetaka) Palestina, dimana lebih dari 750.000 warga Palestina diusir paksa oleh milisi Yahudi pada 1948 untuk memberi jalan pembentukan negara palsu ‘Israel’.

Jum’at lalu rombongan warga Palestina tiba di kamp-kamp tenda di dekat perbatasan untuk melakukan demonstrasi ‘Great March of Return’ –yang membangkitkan tuntutan lama para pengungsi untuk kembali ke rumah-rumah leluhur mereka yang kini diklaim sebagai ‘Israel’– yang kini memasuki pekan ketiga.

Para serdadu Zionis telah menembak mati 31 warga Palestina di Gaza sejak aksi protes dimulai sehingga memicu kritik dari dunia internasional terkait taktik mematikan yang digunakan terhadap para demonstran.

Tak ada seorang pun pemukim ilegal Yahudi yang terbunuh selama aksi demonstrasi. Namun, lembaga-lembaga HAM mengatakan, militer ‘Israel’ menggunakan peluru tajam terhadap para demonstran yang tidak bersikap mengancam jiwa siapapun.

Aksi protes yang dijadwalkan berlangsung enam pekan itu telah menghidupkan kembali tuntutan hak untuk kembali bagi para pengungsi Palestina ke kota-kota dan desa-desa dimana keluarga mereka melarikan diri, atau dipaksa keluar, ketika negara palsu ‘Israel’ dibentuk 70 tahun lalu.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Demonstran di perbatasan Gaza-'Israel' pada 13 April 2018. Foto: Mohammad Asad/Middle East Monitor

Demonstran di perbatasan Gaza-‘Israel’ pada 13 April 2018. Foto: Mohammad Asad/Middle East Monitor

Foto: Mohammad Asad/Middle East Monitor

Demonstran di perbatasan Gaza-‘Israel’ pada 13 April 2018. Foto: Mohammad Asad/Middle East Monitor

Foto: Mohammad Asad/Middle East Monitor

Demonstran di perbatasan Gaza-‘Israel’ pada 13 April 2018. Foto: Mohammad Asad/Middle East Monitor

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Mufti Besar Palestina Larang Penjualan Properti di Baitul Maqdis
Pemukim Ilegal Yahudi Bakar Masjid Al-Syaikh Sa’ada di Tepi Barat »