Hamas: 15 Mei Adalah Hari yang Menentukan dalam Sejarah Palestina

11 May 2018, 11:35.
Pemimpin Hamas di Jalur Gaza Yahya Al-Sinwar saat bertemu dengan para pemimpin faksi-faksi Palestina di Kota Gaza pada 18 Oktober 2017. Foto: Atia Darwish/Apaimages

Pemimpin Hamas di Jalur Gaza Yahya Al-Sinwar saat bertemu dengan para pemimpin faksi-faksi Palestina di Kota Gaza pada 18 Oktober 2017. Foto: Atia Darwish/Apaimages

LONDON, Jum’at (Middle East Monitor): Ketua Biro Politik Hamas di Gaza Yahya Al-Sinwar menyatakan bahwa 15 Mei akan menjadi hari yang menentukan dalam sejarah Palestina. Demikian pemberitaan kantor berita Safa sebagaimana dikutip MEMO.

Dalam pertemuan dengan kaum muda di Gaza, Al-Sinwar menyatakan: “Mereka yang berpikir bahwa itu adalah revolusi kelaparan atau rakyat yang terblokade berkhayal, hari ini, para pemuda telah menempuh langkah untuk memulihkan keseimbangan atas perkara Palestina dan memperbaiki jalurnya.”

Al-Sinwar menekankan bahwa aksi Great March of Return “telah mengembalikan kehidupan ke hati anak-anak, kaum wanita dan pria, serta hati seluruh orang merdeka di seluruh dunia.” Ia menegaskan bahwa aksi tersebut “mempermalukan” penjajah Zionis ‘Israel’ karena berhasil mengembalikan masalah Palestina ke meja perundingan lagi.

“Faksi-faksi Palestina menaruh harapan pada pemuda Palestina yang mengembalikan perkara Palestina ke puncak masalah internasional,” katanya, seraya menekankan bahwa dunia “tidak dapat memaksa kita untuk menerima apa yang tidak kita sukai atau apa yang tidak sesuai dengan tujuan dan prinsip nasional kita”.

Al-Sinwar mengatakan bahwa para mediator menghubungi Hamas agar menghentikan aksi protes, namun mereka menolaknya. “Harimau sudah hidup di bawah pengepungan selama 11 tahun,” kami katakan pada mereka; “sang harimau telah dilepaskan untuk membawa mereka yang mengepungnya”.

Ia menambahkan: “Kami katakan pada para mediator bahwa Hamas dan faksi-faksi lainnya tidak akan melepaskan diri mereka sendiri dari rakyat Palestina. Kami tidak akan mengabaikan mereka bahkan jika kami kehilangan jutaan syuhada. Kami siap membela hak kami untuk kembali, kota suci kami Baitul Maqdis, hak kami untuk hidup bermartabat, dan hak kami untuk menghentikan pengepungan.”

Aksi protes yang dijuluki Great March of Return dimulai pada 30 Maret 2018. Sejak itu penjajah Zionis telah membunuh 53 pendemo dan melukai lebih dari 8.500 lainnya.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Bayt Lahm Gelar Long March Kembali ke Wilayah Palestina Terjajah
Turki Galang Bantuan Kemanusiaan untuk Palestina »