70 Tahun Nakbah; Cita-cita Pulang Kampung Rakyat Palestina

13 May 2018, 07:09.
Foto: Arsip Middle East Monitor

Foto: Arsip Middle East Monitor

oleh Azka Madihah

Peneliti ISA (Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian)

MALAYSIA, Ahad (ISA | Sahabat Al-Aqsha): Ramadhan menjelang. Ketika kita bersiap mencari tiket pulang kampung, rakyat Palestina di Jalur Gaza, Tepi Barat, Jerusalem, daerah Palestina Terjajah, Suriah, Lebanon, dan Yordan meregang nyawa di perbatasan. Tidak bisa pulang kampung. Serdadu Zionis ‘Israel’ menembaki mereka agar tidak mendekat ke tanah air tercinta. Di mana rumah mereka pernah berdiri tegak, yang kuncinya hingga kini masih tergenggam erat di tangan kakek dan nenek mereka. Juga tergenggam selamanya di hati mereka.

Maka, atas dasar kerinduan akan kampung halaman yang tepat 70 tahun lalu dirampas paksa, puluhan ribu warga Palestina berazam untuk kembali. Dari berbagai penjuru di dalam dan luar Palestina menuju perbatasan yang dijaga penjajah Zionis, mereka bersiap kembali ke kampung, di mana mereka pernah diusir dengan brutal pada 15 Mei 1948. Satu hari sejak ‘Israel’ didirikan. Satu hari sejak para Zionis dengan pongah menginjak-injak dan menodai tanah suci umat Islam, di mana Masjidil Aqsha yang menjadi kiblat pertama Muslim berada.

David Ben Gurion, perdana menteri ‘Israel’ pertama dalam buku ‘Ben-Gurion: The Armed Prophet’ mengatakan, “Kami akan melakukan segalanya, memastikan bahwa mereka tidak akan pernah bisa kembali.” Misi dari pendiri ‘Israel’ inilah yang dijalankan oleh para pengikutnya hingga kini, meski bertentangan dengan Resolusi PBB nomor 194 paragraf 11, nomor 2672, dan nomor 3089 yang menjamin bahwa setiap pengungsi memiliki hak untuk kembali. Akan tetapi, resolusi hanya sebatas resolusi di atas kertas. Nyatanya, bahkan bayi yang dulu terusir pada pembantaian dan pengusiran besar-besaran pada Hari Nakbah 15 Mei 1948 pun telah menjadi kakek dan nenek. Namun, anak dan cucu mereka belum bisa menginjak kampung halamannya dalam keadaan bebas dari penjajahan.

“Visi kami adalah untuk kembali ke kampung halaman kami. Ke rumah-rumah kami. Kami tidak butuh apa pun, tidak akan goyah karena apa pun. Nothing but the return, that’s our goal,” tegas juru bicara Great Return March, Ahmad Ayesh dalam seminar “Nakbah 1948: Past, Present, and Future” di UTM Malaysia pada 12 Mei 2018.

Oleh karena itu, tatkala Zionis ‘Israel’ mendeklarasikan negara palsu mereka pada 14 Mei 1948 bertekad melakukan segalanya demi memastikan rakyat Palestina tidak akan kembali, rakyat Palestina pun melakukan segalanya agar bisa kembali. Pulang. Ke kampung halaman. Di mana pohon-pohon zaitun mereka, saksi bisu peristiwa Nakbah, masih setia menanti. Di mana darah nenek dan kakek mereka, tertumpah di 774 desa yang dihancurleburkan 70 tahun lalu.

Ahmad Ayesh yang juga merupakan warga Palestina mengatakan bahwa memasuki minggu ketujuh dari Great Return March, aksi damai pengungsi Palestina, telah banyak korban berjatuhan. Selama enam pekan aksi ini berlangsung, lebih dari 6.800 warga Gaza terluka selama demonstrasi dan sedikitnya 49 orang gugur. Serdadu Zionis ‘Israel’ tidak henti-henti menembakkan gas air mata dan peluru kepada para demonstran. Ahmad Ayesh menjelaskan, “Gas air mata yang tentara Zionis tembakkan pun bukan gas air mata biasa, melainkan gas beracun yang belum diketahui kandungannya. Pelurunya pun bukan peluru biasa, melainkan peluru “kupu-kupu” yang sekali ditembakkan, akan memberi efek berkali lipat. Satu tembakan bahkan bisa melukai beberapa orang.”

70 tahun sudah, An-Nakbah, Hari Bencana Besar itu terjadi. Anak kunci rumah yang masih disimpan rakyat Palestina, lambang al-haqqu al-audah – hak untuk kembali, terus diusung mereka yang masih bertahan di perbatasan. Tua, muda, laki-laki, perempuan, sehat, dan sakit. Para pengungsi Palestina dari beberapa generasi berduyun-duyun menuju perbatasan menuju rumah mereka, menyuarakan the right of return.

Hak untuk kembali yang merupakan hak asasi manusia di dunia internasional. Hak untuk pulang kampung. Hal sederhana yang menjadi kebahagiaan kita di jelang bulan suci Ramadhan ini, namun merupakan hal yang masih dalam impian dan doa bagi jutaan pengungsi Palestina selama 70 tahun.

Sebagaimana anak kunci yang menjadi simbol perjuangan rakyat Palestina untuk hidup bermartabat di tanah air mereka, semoga peringatan Hari Nakbah ke-70 ini pun menjadi anak kunci yang membuka mata, telinga, dan hati kita. Menjadi penyengat semangat kita untuk mendukung teriakan “Kami akan kembali. Kami pasti akan kembali!” yang kini menggema di tepi-tepi pagar berduri tanah Palestina.* (ISA | Sahabat Al-Aqsha)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Dengan Izin Allah, Keluarga Dawabsheh Selamat dari Serangan Pembakaran Kedua
Lebih dari 1.000 Pemukim Ilegal Yahudi Serbu Masjidil Aqsha, Serang Penjaganya »