Saat Kedubes AS Dibuka di Baitul Maqdis, Penjajah Zionis Bunuhi 58 dan Lukai 2.700 Orang di Gaza

15 May 2018, 09:29.
Para pelayat berkumpul mengelilingi jenazah seorang pria yang gugur oleh serdadu Zionis di perbatasan Gaza. Foto: AFP

Para pelayat berkumpul mengelilingi jenazah seorang pria yang gugur akibat tembakan serdadu Zionis di perbatasan Gaza. Foto: AFP

GAZA, Selasa (Al Jazeera): Sekitar 58 warga Palestina gugur pada Senin (14/5) di Gaza dan lebih dari 2.700 lainnya terluka akibat tembakan amunisi tajam serdadu Zionis, gas airmata dan bom-bom api terhadap demonstran yang berada di sejumlah titik di dekat pagar perbatasan dengan wilayah-wilayah Palestina terjajah 1948 (yang kini diklaim sebagai ‘Israel).

Ribuan orang berpartisipasi dalam demonstrasi kemarin (14/5) dan berupaya melintasi pagar perbatasan dengan wilayah-wilayah Palestina terjajah 1948 dari sejumlah titik di sepanjang perbatasan.

Selebaran yang disebarkan oleh pihak penyelenggara berbunyi: “Komite nasional untuk Great March of Return mengundang Anda untuk berpartisipasi dalam demonstrasi rakyat damai, Satu Juta Kembali dan Hentikan Blokade”.

Juru bicara Great March of Return, Ahmad Abu Artema, mengatakan pada Al Jazeera bahwa tujuan berupaya melintasi pagar adalah untuk “mengirimkan pesan bahwa rakyat Palestina tidak dan tidak akan beradaptasi dengan 70 tahun menjadi pengungsi, menjadi asing dan kondisi sulit.”

“Kami kukuh untuk kembali, apapun yang terjadi. Inilah yang diinginkan rakyat Gaza – ini tentang kehendak rakyat. Dan ini adalah hak mereka.”

Hak untuk Kembali diabadikan dalam Resolusi PBB 194.

Ketika korban gugur dan luka mulai berjatuhan, Kementerian Kesehatan Palestina menyerukan di Twitter agar rakyat di Gaza menuju pusat-pusat donor untuk mendonorkan darah mereka.

Demonstrasi tersebut –bersamaan dengan aksi protes menentang pembukaan Kedutaan Besar AS di Baitul Maqdis– merupakan bagian dari gerakan menuntut hak kembali bagi para pengungsi Palestina ke daerah-daerah yang mereka diusir paksa darinya pada 1948.

Sejak aksi protes yang dijuluki “Great March of Return” itu dimulai pada 30 Maret, serdadu Zionis menewaskan sedikitnya 107 warga Palestina di kawasan tersebut dan melukai sekitar 12.000 orang.

Para pelayat Palestina mengangkat jenazah pria yang gugur oleh serdadu Zionis pada 14 Mei 2018, di Kota Gaza. Foto: AFP

Para pelayat Palestina mengangkat jenazah pria yang gugur oleh tembakan serdadu Zionis pada 14 Mei 2018, di Kota Gaza. Foto: AFP

‘Jumlah tembakan yang luar biasa’

Wartawan Al Jazeera Stefanie Dekker, yang melaporkan dari Kota Gaza, menyaksikan “peristiwa yang luar biasa” di lokasi aksi protes di sepanjang pagar perbatasan dengan wilayah-wilayah Palestina terjajah 1948. “Ada jumlah tembakan yang luar biasa; itu menjelaskan tingginya angka kematian dan lebih dari 2.000 terluka. Ada hujan gas airmata yang turun ke arah para demonstran. Mereka yang melakukan demonstrasi damai di perbatasan itu ditembaki.”

Dekker mengatakan, rumah-rumah sakit di Jalur Gaza kini sangat kewalahan karena staf medis berjuang untuk mengobati ribuan orang yang terluka saat demonstrasi. “Anak-anak lelaki, para pemuda, akan memberitahu Anda bahwa mereka melemparkan bom-bom Molotov dan batu-batu (ke arah serdadu Zionis) karena itu merupakan hak sah mereka untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan ‘Israel’.”

Warga Palestina mengibarkan bendera nasional mereka saat berdemonstrasi di dekat perbatasan dengan wilayh Palestina terjajah 1948 dan Jalur Gaza, di timur Jabalia. Foto: AFP

Warga Palestina mengibarkan bendera nasional mereka saat berdemonstrasi di dekat perbatasan dengan wilayh Palestina terjajah 1948 dan Jalur Gaza, di timur Jabalia. Foto: AFP

 

Erdogan tuding ‘Israel’ lakukan ‘genosida’ atas Gaza

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut ‘Israel’ “entitas teror” dan melakukan “genosida”, sebagaimana dikutip dari kantor berita Turki, Anadolu. Ankara mengumumkan tiga hari hari berkabung nasional atas gugurnya puluhan warga Palestina di Gaza. “Apa yang telah ‘Israel’ lakukan adalah genosida. Saya mengecam drama kemanusiaan ini, genosida, dari pihak manapun itu berasal, ‘Israel’ ataupun Amerika,” ungkap Erdogan di hadapan para mahasiswa Turki saat mengunjungi ibukota Inggris, London.

Ribuan orang berpawai melewati pusat Istanbul untuk mengecam pertumpahan darah ketika Amerika Serikat (AS) memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis yang memicu kemarahan dunia Islam.

Turki juga menyerukan diselenggarakannya pertemuan darurat Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pekan ini.

Ankara: AS juga bersalah atas ‘pembantaian di Gaza’

Turki menuding Amerika Serikat berbagi tanggung jawab dengan ‘Israel’ atas “pembantaian keji” di sepanjang perbatasan Gaza. “Amerika Serikat, sayangnya, turut berperan tanpa keluhan bersama otoritas ‘Israel’ dalam pembantaian warga sipil ini dan menjadi pihak yang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan ini,” ungkap Perdana Menteri Turki Binali Yildirim kepada para wartawan di Ankara. “Ini pembantaian keji dan kami mengutuknya dengan keras,” tambahnya.

Kuwait desak rapat darurat Dewan Keamanan  

Kuwait menuntut diadakannya pertemuan darurat Dewan Keamanan (DK) PBB pada Selasa. “Kami mengutuk apa yang telah terjadi,” kata Duta Besar Mansour al-Otaibi kepada para wartawan. Kuwait merupakan anggota non-permanen DK PBB.* (Al Jazeera | Sahabat Al-Aqsha)

Foto: AFP

Foto: AFP

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Senyum Centil Setan dan Darah Syuhada Gaza
Turki Umumkan 3 Hari Berkabung atas Gugurnya Syuhada di Gaza »