Apa yang Akan Anda Lakukan Jika Serdadu Zionis Menyeret Anak Anda dari Tempat Tidur Saat Tengah Malam?

14 June 2018, 14:45.
Screenshot dari video B’Tselem yang mendokumentasikan penggerebekan rumah keluarga Da’na di Al-Khalil.

Screenshot dari video B’Tselem yang mendokumentasikan penggerebekan rumah keluarga Da’na di Al-Khalil.

AL-KHALIL, Kamis (+972 Magazine): Dua puluh tahun lalu, pada Maret 1998, ketua Partai Buruh Ehud Barak ditanya oleh wartawan Haaretz Gideon Levy apa yang akan ia lakukan jika ia adalah seorang pemuda Palestina yang hidup di bawah penjajahan. “Jika saya seorang Palestina, pada titik tertentu, saya akan bergabung dengan salah satu kelompok teroris,” jawab Barak.

Sekarang ini, tak hanya sulit untuk membayangkan seorang politisi Yahudi ‘Israel’ membuat pernyataan serupa; pertanyaan itu sendiri terdengar imajiner. Bisakah kita membayangkan diri kita sebagai warga Palestina? Jika ada satu hal dari 50 tahun kekuasaan militer brutal atas orang lain yang membekukan kesadaran warga ‘Israel’, itu adalah bahwa ada satu hukum untuk kita, dan lainnya bagi warga Palestina – bahwa takdir kita sebagai manusia dimaksudkan untuk menjadi berbeda.

Ketika Anda secara konsisten dan sistematis berlaku kejam terhadap yang lain selama puluhan tahun, pemisahan kesadaran ini menjadi semacam mekanisme bertahan hidup. Fakta bahwa kita tidak bisa membayangkan diri kita berada di posisi mereka yang tinggal di Gaza – contohnya, menjadi korban blokade selama 12 tahun yang memaksa mereka harus hidup dalam penderitaan dan kemiskinan ekstrem– memungkinkan kita untuk terus melanjutkan hidup tanpa sedikit pun perasaan bersalah.

Mekanisme ini bekerja tidak hanya dalam kasus-kasus lebih ekstrem seperti Gaza, tapi bahkan mungkin jika menyangkut “rutinitas penjajahan.”

Video yang dipublikasikan organisasi hak asasi manusia ‘Israel’ B’Tselem pekan lalu memperlihatkan: gerombolan serdadu Zionis menyerbu rumah keluarga Da’na di Al-Khalil pada tengah malam, membangunkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak dan lansia, untuk mencari pelempar batu. Serdadu Zionis diizinkan, oleh dekrit militer, untuk melakukan penggerebekan di setiap rumah pada setiap jam, tanpa surat izin penggeledahan. Mereka menerobos masuk dengan membawa senjata lengkap. “Kalian memasuki rumah kami, masuklah dengan hormat,” kata salah seorang anggota keluarga kepada para serdadu Zionis.

Para serdadu Zionis menerobos rumah. Di salah satu kamar, seorang wanita yang ketakutan terlihat menggendong seorang anak kecil dan memberitahu para serdadu bahwa ia sendirian bersama anak-anak. “Semuanya baik-baik saja,” kata para serdadu pada wanita tersebut. Apa yang baik-baik saja dari mereka memaksa masuk ke rumah orang pada tengah malam?

Setelah itu, para serdadu memberitahu orang-orang dewasa yang ada di rumah itu untuk membawa anak-anak ke hadapan mereka. Anak-anak dibangunkan untuk berdiri di depan para serdadu Zionis. Gerombolan serdadu Zionis berkeliling di dalam rumah itu lagi, berbicara dengan orang-orang dewasa, kemudian ngeloyor pergi. Apa tujuan dari penggerebekan itu? Apa yang mereka cari? Siapa yang mereka cari? Apakah para serdadu Zionis itu sendiri bahkan mengetahuinya? Apakah menanamkan rasa ketakutan sistematis dari penggerebekan itu sendiri merupakan tujuan dari penggerebekan?

Kesewenang-wenangan – inilah dasar lain penjajahan. Warga Palestina pasti tidak tahu kapan rumah-rumah mereka digerebek, pada pukul berapa, atau kapan penggerebekan akan berakhir. Tidak ada seorang pun yang bisa bersaksi mengenai ini lebih baik dari keluarga Da’na. Salah seorang putri keluarga tersebut, yang merupakan relawan untuk B’Tselem, telah mendokumentasikan rentetan panjang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan serdadu Zionis terhadap keluarga tersebut, termasuk menangkap anak-anak bahkan setelah para serdadu mengakui mereka tidak yakin anak-anak yang mereka tangkap adalah anak-anak yang mereka cari.

Pada Maret 2015, B’Tselem merilis video yang menunjukkan gerombolan serdadu Zionis bertopeng membangunkan anak-anak yang ketakutan –yang sedang tidur di lantai– dan memaksa mereka masuk ke ruang tamu. Salah seorang anak lelaki terlihat sangat syok dan bingung ketika para serdadu menanyakan namanya.

Keluarga Da’na tidak hanya menderita karena perlakuan kejam para serdadu Zionis. Para pemukim ilegal Yahudi juga menyerang keluarga tersebut, dan lebih dari sekali serangan itu terjadi di hadapan pada serdadu Zionis yang hanya berdiri diam, sama sekali tak melakukan apapun untuk mencegah serangan. Inilah rutinitas penjajahan.

Bagaimana rasanya hidup seperti itu, rentan menjadi target para serdadu Zionis yang dapat menyerang rumah Anda kapan saja, menghardik Anda, dan mengubrak-abrik barang-barang pribadi Anda? Bagaimana rasanya berdiri tak berdaya saat para serdadu penjajah menyeret anak Anda dari tempat tidur mereka pada tengah malam dan mengancam mereka dengan laras senapan mereka? Apa yang akan kita lakukan jika kita harus hidup seperti itu?* (+972 Magazine | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Syaikh Hussein Kecam Partisipasi Tokoh Agama Indonesia dalam Acara Penjajah Zionis
Ikan Asin, Hidangan Sarapan Paling Terkenal di Palestina Saat Idul Fitri »