Korban Perang: Kehidupan Luluh Lantak di Ghouta Timur

3 July 2018, 20:28.
Muhammad Bessam Al-Meydani kehilangan penglihatannya akibat serangan yang diluncurkan rezim Assad. Dalam melakukan rutinitas harian, ia dibantu putranya, Kenen Al-Meydani. Foto: Daily Sabah

Muhammad Bessam Al-Meydani kehilangan penglihatannya akibat serangan yang diluncurkan rezim Assad. Dalam melakukan rutinitas harian, ia dibantu putranya, Kenen Al-Meydani. Foto: Daily Sabah

ISTANBUL, Selasa (Daily Sabah | Anadolu Agency): Seperti banyak warga Suriah, mereka yang dievakuasi dari Ghouta timur –kota yang dikepung dengan blokade dan serangan intens yang diperintahkan rezim Bashar Assad– masih terus membawa jejak penderitaan yang mereka alami.

Muhammad Bessam Al-Meydani (57), Sair Hubbolla (30) dan Mutasimbillah Abidrabbo (2), semuanya kehilangan penglihatan mereka sampai batas tertentu atau lainnya, setelah tempat penampungan dan rumah mereka dihantam bom yang dijatuhkan oleh pesawat-pesawat tempur hanya sebulan sebelum evakuasi di Ghouta timur. Mereka sekarang berharap bantuan yang menawarkan perawatan akan menjangkau mereka.

Meydani, seorang warga Suriah yang hijrah dengan kerabatnya ke distrik Hatay Reyhanli, Turki, mengatakan pada Anadolu Agency bahwa mereka bersyukur telah selamat dari perang sipil. Meydani, merujuk pada masalah kemanusiaan di wilayah tersebut, mengatakan: “Kami mengalami kelaparan dan kesengsaraan selama bertahun-tahun dengan empat anak saya. Ada kalanya kami kelaparan berhari-hari, gagal menemukan sesuap roti untuk anak-anak saya yang lemah dan sakit karena mereka kekurangan gizi.”

Meydani mengatakan mereka merasa seperti dilahirkan kembali ketika mendengar bahwa mereka akan dievakuasi dari Ghouta timur.

“Saya dan keluarga saya sangat bahagia. Saya terkena serangan di Ghouta timur dengan hanya satu bulan tersisa untuk evakuasi kami. Saya kehilangan mata kiri saya dan menderita kehilangan sebagian penglihatan mata kanan saya,” kata Meydani. “Kami tidak yakin bagaimana cara mencari pengobatan. Kami mengharapkan dukungan dan berterima kasih kepada rakyat Turki yang selalu mendukung kami.”

Hubbolla kehilangan penglihatannya setelah terkena pecahan bom. Ia juga mengungkapkan harapannya untuk pemulihan seraya menekankan bahwa Ghouta timur saat ini diselimuti penderitaan. “Sebelum melarikan diri dari pengepungan, rumah kami terkena serangan rezim dan saya terluka parah. Potongan pecahan bom menyebabkan kerusakan signifikan pada mata dan saya kehilangan penglihatan. Saya datang ke sini untuk pengobatan. Kami sangat berterima kasih atas bantuan Turki,” kata Hubbolla.

Abidrabbo Iman, ayahanda bocah dua tahun Mutasimbillah Abidrabbo, mengatakan kelaparan dan serangan tanpa akhir menghancurkan kehidupan mereka. Ia mengatakan menerima berita bahwa mereka akan dievakuasi ketika tidak ada seorang pun lagi untuk dimintai bantuan.

“Ada serangan dengan hanya beberapa hari tersisa untuk evakuasi kami, dan tempat penampungan kami dibom. Anak lelaki saya yang berusia 2 tahun terjebak di bawah tanah, dan mulutnya penuh dengan tanah. Penglihatannya memburuk karena kurangnya oksigen ke otaknya,” lanjut Iman. “Ketika kami akhirnya berhasil mengeluarkan anak saya, ia telah pingsan. Anak saya dalam perawatan intensif selama tujuh hari dan kini kehilangan penglihatannya. Kami datang ke sini karena kurangnya fasilitas kesehatan di sana dan semoga dia akan dirawat di Turki. Kami ingin kembali ke negara kami segera setelah kesehatan putra saya pulih kembali.”

Bayi Karim

Tak terhitung orang yang kehilangan nyawa, anggota tubuh dan mata mereka di Ghouta timur; namun, serangan di wilayah itu dan penderitaan orang-orang di sana mendapat sorotan ketika foto bayi Karim dipublikasikan oleh kantor-kantor beritam. Bayi yang saat itu berusia dua bulan, Karim Abdallah, menjadi simbol serangan brutal rezim di Ghouta timur.

Karim Abdallah kehilangan ibu dan mata kirinya dalam sebuah serangan udara pada Desember 2017 di pinggiran kota Damaskus dan sejak itu menjadi simbol perlawanan terhadap rezim Assad.

Karim dan keluarganya meninggalkan Ghouta timur ke Idlib sebagai bagian dari evakuasi wajib berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang ditawarkan oleh Rusia – meskipun setelah itu serangan-serangan tidak juga surut. Setelah Idlib, Karim dan keluarganya memasuki Hatay, Turki melalui pintu perbatasan Cilvegozu pada April.

Ghouta Timur

Ghouta timur mengalami serangan berat dari rezim Assad antara Februari dan April. Sekitar 45.000 orang telah dievakuasi dari Ghouta timur sejak proses evakuasi dimulai pada 22 Maret. Para pengungsi ditampung di pusat-pusat pengungsi sementara, sekolah-sekolah setempat, dan masjid-masjid di barat laut Suriah, Idlib dan provinsi Aleppo.

Pada 24 Februari, Dewan Keamanan PBB sepakat mengadopsi Resolusi 2401, yang menuntut gencatan senjata di Suriah – khususnya di Ghouta timur – untuk mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Terlepas dari resolusi tersebut, awal Maret rezim Assad dan sekutu-sekutunya meluncurkan serangan darat besar-besaran didukung oleh kekuatan udara Rusia untuk merebut bagian dari distrik yang dikuasai oposisi.

Sejak 19 Februari, lebih dari 1.400 orang tewas dalam serangan yang diluncurkan rezim dan sekutu-sekutunya di Ghouta timur, berdasarkan sumber-sumber pertahanan sipil lokal.

Ghouta timur merupakan rumah bagi sekitar 400.000 warga. Distrik tersebut berada di bawah blokade rezim selama lima tahun terakhir sehingga pasokan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan tidak diizinkan masuk ke wilayah tersebut.

Para penyelidik hak asasi manusia PBB mengumumkan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan dilakukan di wilayah itu dan senjata kimia kemungkinan digunakan ketika pasukan pemerintah Suriah melawan oposisi.

“Beberapa gejala yang dilaporkan menunjukkan penggunaan gas yang berbeda, hampir bisa dipastikan itu adalah zat saraf, ungkap lembaga investigasi itu, tanpa merinci para pelaku,” komite hak asasi manusia memastikan.

Mengacu ke periode antara Februari dan April, para penyelidik HAM PBB itu juga menyimpulkan bahwa “pasukan pro-pemerintah” telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan “melalui pengeboman yang meluas dan sistematis terhadap penduduk yang tinggal di daerah-daerah dan obyek-obyek, serta penolakan terus menerus atas makanan dan obat-obatan (yang ditujukan) untuk penduduk sipil yang terkepung.”* (Daily Sabah | Anadolu Agency | Sahabat Al-Aqsha)

Seorang anak laki-laki berjalan di atas bangunan yang hancur di Ghouta Timur, Suriah. Foto: Daily Sabah

Seorang anak laki-laki berjalan di atas bangunan yang hancur di Ghouta Timur, Suriah. Foto: Daily Sabah

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Rezim Suriah Intensifkan Serangan ke Dara’a, Sekitar 200.000 Warga Hijrah
Mahasiswa Suriah Bertemu Kembali dengan Keluarga Setelah 5 Tahun Jadi Tawanan Rezim »