Baju Pengantin, Botol Bayi, Popok: Inilah Daftar Barang yang Dilarang Penjajah Zionis Masuk Gaza

6 August 2018, 18:55.
Foto: Hosam Salem/Al Jazeera

Foto: Hosam Salem/Al Jazeera

JALUR GAZA, Senin (Al Jazeera): Perlengkapan sekolah, peralatan medis, generator listrik, dan bahkan sepeda anak-anak – adalah beberapa barang yang dipamerkan di sebuah pameran di Jalur Gaza. Pameran ini diselenggarakan untuk memperlihatkan lebih dari 1.000 “komoditas dasar” yang dilarang masuk ke kawasan tersebut akibat blokade yang diberlakukan ‘Israel’.

Para pebisnis, pejabat di bidang perdagangan dan sejumlah lembaga non-pemerintah menghadiri pameran tersebut pada Kamis (2/8) lalu, yang bersamaan dengan keputusan ‘Israel’ memblokir pasokan bahan bakar dan gas ke Jalur Gaza.

“Kami ingin menyoroti penderitaan rakyat di Gaza,” kata Jamal al-Khoudary, seorang anggota parlemen Palestina dan Ketua Komite Rakyat untuk Mengakhiri Blokade Gaza – kelompok yang mengorganisir pameran tersebut.

“Kami ingin menunjukkan pada dunia apa saja kebutuhan kemanusiaan yang dilarang ‘Israel’ masuk ke Gaza,” kata Khoudary kepada Al Jazeera.

Rumah bagi dua juta warga Palestina, Jalur Gaza yang padat penduduk itu dijuluki penjara terbuka paling besar di dunia.

Blokade 12 tahun oleh ‘Israel’, serta negara tetangga Mesir, telah mengakibatkan ekonomi Gaza hancur lebur, dengan 300.000 orang kehilangan pekerjaan.

Daerah kantong pantai itu juga menderita kekurangan listrik sehingga penduduknya mengandalkan generator bertenaga bahan bakar untuk mengatasi pemadaman listrik yang cukup lama – bahkan terkadang rumah-rumah di sana hanya mendapat akses listrik selama dua jam per hari.

Pada pameran di Kota Gaza itu, barang-barang seperti baju pengantin, spons untuk mencuci, botol susu bayi dan popok juga dipajang – seluruhnya dilarang masuk ke Gaza sejak ‘Israel’ memutus pasokan komoditas penting ini bulan lalu dengan menutup sebagian Karem Abu Salem –yang dikenal dengan Kerem Shalom bagi pemukim ilegal Yahudi– pelintasan perbatasan komersial dengan Jalur Gaza.

Penjajah Zionis menutup pelintasan penting itu pada 9 Juli dan hanya mengizinkan masuk kebutuhan kemanusiaan, seperti gas untuk memasak, gandum dan tepung ke Gaza, ungkap seorang petugas yang bertanggung jawab mengoordinasikan pergerakan kargo melalui perbatasan kepada Al Jazeera bulan lalu.

Akan tetapi, setelah keputusan terbaru yang juga menghentikan pengiriman bahan bakar dan gas untuk memasak, penduduk Gaza diperkirakan akan menghadapi kondisi lebih parah. “Penutupan pelintasan Karem Abu Salem telah sepenuhnya menghancurkan (perekonomian),” kata Waleed al-Hosary, Ketua Kamar Dagang dan Industri Gaza, kepada Al Jazeera.

“Kini mereka (‘Israel’) melarang masuk bahan bakar, gas dan juga bensin. Apa lagi yang tersisa?”

Menteri Perang ‘Israel’ Avigdor Lieberman menyatakan, penutupan pelintasan dan larangan pengiriman bahan bakar dan gas merupakan pembalasan dendam atas upaya perlawanan warga Palestina.

Beberapa bulan terakhir, warga Palestina di Gaza melakukan demonstrasi menentang blokade atas laut, udara dan tanah, serta menuntut hak mereka untuk kembali ke rumah-rumah mereka dari mana mereka diusir pada 1948.

Sekitar 156 orang gugur akibat tembakan serdadu Zionis selama demonstrasi yang dijuluki Great March of Return – yang berlangsung di perbatasan Gaza dan wilayah Palestina terjajah 1948 yang kini disebut ‘Israel’.

Sejumlah demonstran menggunakan benda-benda berapi yang melekat pada layang-layang untuk membakar lahan pertanian tepat di seberang pagar perbatasan. Layang-layang dan balon-balon pembakar itu kabarnya mengakibatkan kerusakan senilai ratusan ribu dolar.

Menurut Khoudary, sekitar 3.000 truk yang membawa pasokan barang telah dihentikan di perbatasan dalam dua pekan terakhir.

“Ini semua bagian dari rencana ‘mencekik Gaza’,” katanya. “Pertama, blokade; kini, ‘Israel’ melanjutkan ke tingkat berikutnya.”

Penutupan pelintasan juga berdampak pada ekspor Gaza. Hal itu semakin memperburuk ekonomi Gaza yang sudah digempur dengan blokade selama 12 tahun.

Sekitar 40 hingga 50 truk yang mengangkut barang-barang lokal biasanya meninggalkan Gaza setiap hari, ungkap petugas di perbatasan.

Perusahaan-perusahaan lokal juga merasakan dampak buruk blokade.

Hassan Ali Odeh, pemilik biro perjalanan, menyatakan aktivitas bisnisnya menjadi “sia-sia” selama lebih dari satu dekade. Perusahaannya, Ahli Travel and Tours, biasanya memberangkatkan orang ke Arab Saudi untuk melaksanakan haji. Akan tetapi, kini banyak dari kantor-kantor agennya kosong dan rusak berat.

“Saya lebih tua dari ‘Israel’ dan hidup dengan melewati beberapa penjajahan – mulai dari Inggris hingga Mesir dan saya bisa katakan dengan jujur bahwa tidak ada yang sebanding dengan penjajahan ‘Israel’ dan blokadenya yang mencekik,” kata pria 80 tahun itu kepada Al Jazeera dengan suara terbata-bata.

“Blokade menuntut kita untuk berhenti bernafas dan mati,” ucap Odeh, menggambarkan situasi saat ini bagi mereka yang tinggal di Jalur Gaza.

“Ini seperti ketika Anda mencabut susu bayi – si bayi akan mati, dan inilah yang sebenarnya terjadi pada generasi muda,” katanya.

Sementara itu, penyelenggara pameran di Gaza menuntut masyarakat internasional untuk memerhatikan kondisi di kawasan itu yang semakin memburuk. “Setiap krisis kemanusiaan di seluruh dunia membutuhkan tanggapan internasional,” jelas Khoudary. “Kita membutuhkan reaksi cepat dan langsung.”* (Al Jazeera | Sahabat Al-Aqsha)

Botol susu bayi dan popok juga ada di antara barang-barang yang dilarang penjajah Zionis masuk ke Gaza. Foto: Hosam Salem/Al Jazeera

Botol susu bayi dan popok juga ada di antara barang-barang yang dilarang penjajah Zionis masuk ke Gaza. Foto: Hosam Salem/Al Jazeera

Palu juga termasuk barang yang dilarang masuk ke Gaza. Foto: Hosam Salem/Al Jazeera

Palu juga termasuk barang yang dilarang masuk ke Gaza. Foto: Hosam Salem/Al Jazeera

Hassan Ali Odeh: ‘Situasi di sini hanya bisa digambarkan dengan satu kata: mencekik’. Foto: Hosam Salem/Al Jazeera

Foto: Hosam Salem/Al Jazeera

Sepeda anak-anak juga dilarang masuk Gaza. Foto: Hosam Salem/Al Jazeera

Sepeda anak-anak juga dilarang masuk Gaza. Foto: Hosam Salem/Al Jazeera

Alat-alat kecantikan, cat kuku, kain pel juga dilarang masuk ke Gaza. Foto: Hosam Salem/Al Jazeera

Alat-alat kecantikan, cat kuku, bahkan cotton buds juga dilarang masuk ke Gaza. Foto: Hosam Salem/Al Jazeera

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penjajah Zionis Larang Ratusan Warga Palestina Keluar dari Gaza, Termasuk Penderita Kanker
Lembaga PBB: Ratusan Wanita Hamil Berisiko Meninggal Dunia di Yaman »