Lembaga PBB: Ratusan Wanita Hamil Berisiko Meninggal Dunia di Yaman

7 August 2018, 19:53.
UNFPA menyatakan, para wanita hamil di Hudaidah “berisiko tinggi” karena semakin sulit mengakses perawatan sehingga tingkat kematian ibu cenderung meningkat dua kali lipat dari jumlah tahun 2015, yakni 385 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Foto: MEMO

UNFPA menyatakan, para wanita hamil di Hudaidah “berisiko tinggi” karena semakin sulit mengakses perawatan sehingga tingkat kematian ibu cenderung meningkat dua kali lipat dari jumlah tahun 2015, yakni 385 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Foto: MEMO

LONDON, Selasa (Middle East Monitor): Ratusan wanita hamil di kota Hudaidah, Yaman, berisiko meninggal dunia akibat konflik yang semakin memanas. Konflik membuat perawatan medis di negara tersebut sulit diakses sehingga menjadikannya salah satu negara dengan angka kematian ibu tertinggi di dunia. Demikian ungkap Dana Kependudukan PBB (UNFPA).

UNFPA menyatakan wanita hamil di sana “berisiko tinggi” karena semakin sulit untuk mengakses perawatan sehingga angka kematian ibu cenderung meningkat dua kali lipat dari jumlah tahun 2015, yakni 385 kematian per 100.000 kelahiran hidup.

Kekerasan membatasi lembaga PBB itu mengakses Hudaidah dan diperkirakan 90.000 wanita di sana akan melahirkan dalam sembilan bulan ke depan.

Eskalasi konflik telah menghancurkan fasilitas kesehatan dan ini berisiko tinggi bagi mereka yang menderita komplikasi, seperti pendarahan atau infeksi.

Nadia – bukan nama sebenarnya – meninggalkan Hudaidah sekitar tiga pekan lalu, ia mengkhawatirkan kondisi lima anaknya dan bayinya yang belum lahir. “Saya pikir saya, bayi saya dan anak-anak akan mati dan sakit jika saya tetap tinggal,” ungkap Nadia yang sedang hamil lima bulan, kepada Thomson Reuters Foundation melalui telepon dari ibukota Sanaa.

“Saya takut kehilangan bayi dan melahirkan sebelum waktunya.”

Konflik di Hudaidah telah menewaskan lebih dari 10.000 orang.

“Semakin sulit menjangkau para wanita hamil atau mereka yang ingin menghindari hamil dengan layanan kesehatan reproduksi dan obat-obatan yang mereka butuhkan,” kata Luay Shabaneh, direktur UNFPA untuk Wilayah Arab.

Hudaidah adalah pelabuhan utama negara Arab yang miskin itu, dimana sekitar 8,4 juta orang menderita kelaparan dan hidup jutaan orang terancam.

“Saya menderita, lelah dan dipenuhi rasa takut. Malnutrisi, tidak ada kebutuhan dasar seperti listrik dan perawatan medis,” kata Nadia mengenai kehidupannya di Hudaidah.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Baju Pengantin, Botol Bayi, Popok: Inilah Daftar Barang yang Dilarang Penjajah Zionis Masuk Gaza
Serdadu Zionis yang Bunuh Remaja Palestina Akan Naik Jabatan »