Bangladesh Akan Pulangkan Muslim Rohingya ke Myanmar Pertengahan November

1 November 2018, 21:47.
Foto: AFP

Foto: AFP

QATAR, Kamis (Al Jazeera): Bangladesh dan Myanmar pada Selasa (30/10) lalu sepakat untuk mulai mengembalikan para pengungsi Rohingya pada November. Ini terjadi kurang dari sepekan setelah para penyelidik PBB memperingatkan bahwa genosida terhadap minoritas Muslim itu masih berlangsung.

Lebih dari 720.000 Muslim Rohingya melarikan diri dari penindasan brutal militer Myanmar pada Agustus tahun lalu, berlindung di kamp-kamp penuh sesak di Bangladesh, dan membawa serta kisah-kisah mengerikan tentang pemerkosaan, pembunuhan, serta pembakaran yang dilakukan tentara Myanmar.

Penyelidik telah menyatakan bahwa para petinggi militer Myanmar harus dituntut atas genosida di negara bagian Rakhine. Akan tetapi, Myanmar menolak hal itu dan bersikeras bahwa itu dilakukan untuk membela diri melawan para pejuang bersenjata.

Myanmar dan Bangladesh mengumumkan rencana repatriasi (memulangkan kembali ke negeri asal) skala besar pada November 2017, tapi gagal.

Kelompok-kelompok HAM memperingatkan bahwa pemulangan Muslim Rohingya ke Myanmar akan mengundang pembalasan dendam lebih lanjut terhadap mereka.

Otoritas di Myanmar yang mayoritas beragama Budha menyatakan lebih dari 100 pengungsi Rohingya telah kembali dalam beberapa bulan terakhir, tapi Bangladesh bersikeras bahwa proses resmi belum dimulai.

“Kami menantikan untuk memulai repatriasi pada pertengahan November,” kata Sekretaris Luar Negeri Bangladesh Shahidul Haque usai pembicaraan antara para pejabat dari kedua negara di Dhaka. “Ini fase pertama,” ujar Haque.

Sekretaris urusan luar negeri Myanmar Myint Thu, yang menghadiri pertemuan, menyatakan kedua belah pihak menyetujui rencana yang “sangat konkret” untuk memulai prosesnya bulan ini.

“Kami telah menunjukkan kemauan politik kami, fleksibilitas dan akomodasi untuk memulai repatriasi secepat mungkin,” kata Thu kepada para wartawan.

Jaminan hak

Pemerintah Myanmar menyiarkan setiap kali keluarga Rohingya telah kembali, meskipun kelompok-kelompok HAM mempertanyakan apakah para pengungsi melakukannya secara sukarela.

Banyak yang takut kembali ke Myanmar tanpa jaminan hak, seperti kewarganegaraan, akses perawatan kesehatan dan kebebasan bergerak – hak-hak itu tidak diberikan kepada mereka jauh sebelum penindasan tahun lalu.

Janji untuk mulai memulangkan warga Rohingya terjadi hanya beberapa hari setelah para penyelidik PBB memperingatkan tentang “genosida yang masih berlangsung” terhadap minoritas Muslim di Myanmar.

Marzuki Darusman, ketua Misi Pencari Fakta PBB di Myanmar, menyatakan bahwa selain pembunuhan massal, konflik meliputi pengasingan populasi, pencegahan kelahiran dan pengungsian di kamp-kamp.

PBB menyatakan, kembalinya warga Rohingya harus bersifat sukarela, dan dilakukan dengan bermartabat dan aman.

PBB melakukan survei mengenai kondisi di Rakhine utara bulan lalu dan hasilnya adalah “ketidakpercayaan, ketakutan dan rasa tidak aman” lazim dirasakan di banyak daerah.* (Al Jazeera | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« BDS: 15 Negara Arab, Islam Kerja Sama dengan Penjajah Zionis
32 Warga Terluka, 7 Akibat Tembakan Serdadu Zionis Saat Demonstrasi di Perbatasan Gaza »