Remaja Pengungsi Suriah Dirundung di Sekolah, Britania Raya

29 November 2018, 21:24.
Remaja pengungsi Suriah diserang di sebuah sekolah di Britania Raya. Sumber: YouTube

Remaja pengungsi Suriah diserang di sebuah sekolah di Britania Raya. Sumber: YouTube

LONDON, Kamis (Middle East Monitor): Video yang menunjukkan seorang pengungsi Suriah diserang oleh rekan-rekan siswa di sebuah sekolah di Britania Raya telah menjadi viral di media sosial sehingga mendorong keterlibatan dari dewan lokal dan departemen kepolisian.

Video itu menunjukkan seorang siswa, yang diidentifikasi sebagai Jamal berusia 15 tahun, sedang berjalan sendirian sebelum si penyerang –siswa lain di Almondbury Community School di Huddersfield, West Yorkshire– menjatuhkannya ke tanah dengan mencekik lehernya, kemudian menuangkan sebotol air ke wajahnya. Si penyerang juga terdengar mengatakan pada korbannya, “Aku akan menenggelamkanmu.”

Setelah diserang, Jamal, yang lengannya digips itu kemudian bangkit dan diam-diam berjalan sendirian, tanpa melawan. Meskipun ada kerumunan siswa berkumpul menyaksikan serangan itu, tidak ada seorang pun yang memberikan bantuan pada Jamal.

Insiden yang diyakini terjadi pada 25 Oktober itu dibagikan ribuan kali kemarin malam setelah rekaman tersebut muncul. Penduduk setempat kabarnya memberi tahu polisi tentang siapa yang bertanggung jawab atas serangan tersebut – yang akun media sosialnya mengindikasikan bahwa dia adalah pendukung organisasi sayap kanan Britain First.

Berdasarkan pernyataan yang dirilis daring, keluarga Jamal meninggalkan kota asal mereka, Homs, di Suriah pada tahun 2010, setelah beberapa anggota keluarganya diculik dan disiksa oleh rezim Assad. Mereka tinggal di Lebanon sebagai pengungsi selama enam tahun sebelum PBB berhasil menjamin perpindahan mereka ke Inggris pada tahun 2016.

Akan tetapi, sejak kedatangan mereka di utara Inggris, keluarga tersebut kabarnya telah berulang kali mengalami pelecehan. Jamal, satu-satunya siswa asal Suriah di sekolah itu, sering diserang oleh anak-anak lain. Serangan terbaru menyebabkan lengannya patah. Itu menjelaskan mengapa dalam video lengannya terlihat dibalut gips.

Adik perempuannya juga mengalami pelecehan verbal yang ekstensif – yang kabarnya membuat ia mencoba bunuh diri dengan memotong pergelangan tangannya baru-baru ini.

Meskipun perundungan dan penyerangan semuanya telah disampaikan kepada staf sekolah, para guru kabarnya telah gagal melindungi anak-anak dari pelecehan.

Setelah dibebaskan kemarin malam, kepolisian West Yorkshire menegaskan bahwa mereka sedang menyelidiki insiden itu. Lalu menambahkan pagi tadi bahwa seorang remaja berusia 16 tahun telah ditangkap dan dituduh melakukan penyerangan.

“Kami sedang menyelidiki sebuah laporan tentang serangan rasial terhadap seorang remaja berusia 15 tahun yang terjadi di lapangan bermain di Almondbury Community School sekitar pukul 1 siang pada 25 Oktober. Seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun telah diwawancarai dengan kehadiran sukarela terkait insiden itu dan kami terus melanjutkan penyelidikan,” kata Inspektur Polisi Steve Dodds kemarin.

Barry Sheerman, anggota parlemen untuk kota itu, juga mengecam serangan tersebut di Twitter (@BarrySheerman) dan mengatakan dia mendukung remaja Suriah itu dan keluarganya.

“Video penyerangan terhadap salah satu konstituen saya benar-benar mengejutkan. (Saya) mendukung keluarga tersebut sejak pertama kali (insiden) itu menarik perhatian saya. (Saya) mengetahui dari dewan bahwa (pihak) sekolah telah mengambil tindakan tegas. (Saya) akan menindaklanjuti untuk memastikan semua dukungan diberikan!”

Laman penggalangan dana yang diluncurkan untuk mendukung Jamal dan keluarganya telah menerima donasi senilai lebih dari 50.000 dolar sejak dibuat kemarin malam. Keluarga Suriah itu juga menerima pesan dukungan di media sosial, banyak yang mengecam serangan itu sebagai rasis dan hasil retorika anti-imigran dari para politisi.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Bangladesh Hadapi Kemarahan Pengungsi Karena Tak Gunakan Istilah ‘Rohingya’
PBB: Suriah Harus Bertanggung Jawab atas Ribuan Tawanan yang Tewas dalam Tahanan »