1.000 Warga Gaza yang Ditembak Serdadu Zionis Berisiko Tewas, Cacat Permanen

1 December 2018, 21:53.
Warga Palestina yang terluka mendapat perawatan medis setelah gerombolan serdadu Zionis menembaki demonstran Palestina saat “Great March of Return” di Jalur Gaza pada 5 November 2018. Foto: Mohammed Asad/Middle East Monitor

Warga Palestina yang terluka mendapat perawatan medis setelah gerombolan serdadu Zionis menembaki demonstran Palestina saat “Great March of Return” di Jalur Gaza pada 5 November 2018. Foto: Mohammed Asad/Middle East Monitor

LONDON, Sabtu (Middle East Monitor): Badan amal medis internasional Medecins Sans Frontieres (MSF, Doctors Without Borders) mengatakan, lebih dari 1.000 warga Gaza yang ditembak serdadu Zionis ‘Israel’ berisiko terinfeksi yang dapat mengakibatkan cacat permanen atau kematian.

Dalam pernyataan yang dirilis Kamis (29/11) lalu, MSF mengatakan bahwa “sejumlah besar pasien dengan luka tembak yang kompleks dan parah membuat sistem pelayanan kesehatan di Gaza kewalahan”, yang berarti luka mereka sering tidak diobati. Ini “dapat mengakibatkan cacat seumur hidup bagi banyak orang, dan infeksi yang tidak diobati menimbulkan risiko amputasi atau bahkan kematian,” jelas MSF.

MSF menekankan bahwa krisis itu disebabkan oleh parahnya luka-luka yang ditimbulkan oleh kebijakan “menembak untuk melumpuhkan” yang diterapkan ‘Israel’ selama demonstrasi yang dijuluki “Great March of Return”. Badan amal tersebut menjelaskan: “Sebagian besar dari 3.117 pasien yang dirawat oleh MSF antara 30 Maret dan 31 Oktober – dari total 5.866 yang menurut Kementerian Kesehatan (Gaza) terluka oleh tembakan – ditembak di kaki. Sekitar setengah menderita patah tulang, dengan kerusakan jaringan lunak yang parah bagi banyak orang lainnya.

“Ini adalah cedera kompleks dan parah yang tidak cepat sembuh. Parahnya luka mereka dan kurangnya perawatan yang tepat dalam sistem kesehatan Gaza yang lumpuh berarti berisiko tinggi terkena infeksi,” tambah MSF.

MSF mengatakan bahwa situasinya sama dengan “darurat pelayanan kesehatan gerak lambat.” Kepala Misi MSF di Palestina Marie-Elisabeth Ingres mengatakan: “Pasien yang banyak ini akan melampaui (bahkan) sistem pelayanan kesehatan terbaik di dunia.” Meskipun “Gaza saat ini tidak memiliki kemampuan untuk mendiagnosis infeksi tulang dengan baik”, MSF memperkirakan bahwa 25 persen pasien –berjumlah lebih dari 1.000 warga Gaza– dengan patah tulang terkena infeksi.

Untuk memerangi krisis, MSF meminta “pihak berwenang di Palestina dan ‘Israel’ untuk memfasilitasi pemindahan pasien-pasien ini ke luar negeri (dan) negara-negara lain di kawasan, serta di seluruh dunia. Juga menawarkan pendanaan dan ruang di rumah-rumah sakit mereka.”

Akan tetapi, blokade 12 tahun ‘Israel’ di Jalur Gaza terus menghalangi hampir dua juta penduduknya ke akses perawatan kesehatan yang memadai. Awal bulan ini, ketua Komite Internasional Populer untuk Mendukung Gaza, Dr Essam Yousef, mengatakan bahwa sektor kesehatan di Gaza semakin memburuk ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dia menambahkan bahwa masalah tersebut “tidak dapat diabaikan” karena lembaga-lembaga ini tidak dapat memberikan layanan yang memadai dan tepat untuk warga di seluruh Gaza.

Krisis ini berarti bahwa obat-obatan yang sangat dibutuhkan sering tidak tersedia untuk pasien. Wakil Menteri Kesehatan Yousef Abu-Rish mengatakan pada bulan November bahwa 47 persen obat-obatan dalam persediaan yang terbatas di Jalur Gaza. Pemadaman listrik sebagai akibat dari kekurangan bahan bakar juga merupakan hal yang biasa, yang berarti bahwa banyak departemen rumah sakit termasuk dialisis, perawatan intensif, pembedahan dan unit neo-natal tidak dapat mengobati pasien atau memberikan perawatan.

‘Israel’ semakin menambah krisis kesehatan dengan menolak mengizinkan pasien meninggalkan Gaza untuk menerima perawatan di tempat lain. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ‘Israel’ melarang 763 pasien Palestina meninggalkan Jalur Gaza yang terblokade untuk melakukan perawatan pada bulan September.

WHO menunjukkan bahwa sekitar 668 aplikasi pasien untuk bepergian melalui pelintasan Erez (Beit Hanoun) yang dikendalikan ‘Israel’ ditunda, yakni “aplikasi mereka tidak menerima tanggapan pasti terkait tanggal perjanjian rumah sakit mereka”. Dari jumlah tersebut, 161 aplikasi adalah untuk anak-anak di bawah usia 18 tahun.

Sejak Great March of Return dimulai pada 30 Maret, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperkirakan 150 orang Palestina tewas dan 21.000 lainnya terluka. Angka yang disebutkan OCHA ini hanya mencakup periode 30 Maret hingga 4 Oktober, yang berarti angka terbaru kemungkinan akan lebih tinggi. Organisasi hak asasi manusia ‘Israel’ B’Tselem memperkirakan lebih dari 180 demonstran telah terbunuh, termasuk setidaknya 31 anak di bawah umur.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Erdogan: Turki Akan Cegah Penjajah Zionis Padamkan Pelita Baitul Maqdis
Bulan Sabit Merah Turki Dirikan PAUD dan Konfeksi di Khan Syaikhun, Suriah »