Begini Cara Warga Yaman ‘Obati’ Anak-anak yang Trauma Karena Perang

4 December 2018, 11:16.
Seorang anak Yaman menunjukkan bekas luka yang tersisa empat bulan setelah ia disengat besi panas sebagai upaya mengobati trauma psikologisnya. Foto: MEE

Seorang anak Yaman menunjukkan bekas luka yang tersisa empat bulan setelah ia disengat besi panas sebagai upaya mengobati trauma psikologisnya. Foto: MEE

HODEIDAH, Selasa (Middle East Eye): Hana Absi sedang berjalan menuju rumah dari sekolah pada 14 Oktober ketika serangan udara menargetkan sepeda motor yang berada di dekatnya, di sebuah jalan di Hodeidah.

Bom meledak di sekitar gadis 12 tahun itu. Mayat-mayat bergelimpangan di sekitarnya, bayangan itu terpatri dalam ingatannya. Merasa kewalahan dengan apa yang dilihatnya, Hana pingsan.

“Saya melihat seorang pria dan anaknya berlumuran darah di dekat sekolah,” katanya pada Middle East Eye. “Pecahan bom hampir membunuhku. Itu sampai ke pagar sekolah.”

Setelah insiden tersebut, gadis muda dari daerah Ghulail di Hodeidah itu mulai memperlihatkan gejala-gejala trauma psikologis, dan tetap terlalu takut untuk kembali ke sekolah karena sangat dekat dengan tempat ia menyaksikan serangan mematikan itu.

Walaa Absi, ibunda Hana, merasa tak berdaya menghadapi penderitaan berat putrinya. Suaminya, seorang guru di kota pelabuhan barat Hodeidah, tidak mendapat gaji selama dua tahun, dan keluarga itu hampir tidak mampu menyediakan makanan di atas meja – apalagi pindah ke daerah yang lebih aman atau memberi Hana akses untuk terapi.

Akhirnya, Walaa mengatakan, ia merasa tidak punya pilihan selain melakukan “usaha terakhir” – dan mengobati putrinya dengan sengatan api (menempelkan besi panas pada daerah yang sakit atau terluka).

Pepatah Arab kuno mengatakan: “Pengobatan terakhir adalah sengatan api.” Banyak keluarga miskin di Yaman beralih ke menempelkan besi panas sebagai upaya putus asa untuk menyembuhkan penyakit fisik dan trauma psikologis anak-anak mereka. Ini menandai kebangkitan pengobatan tradisional yang berbahaya karena perawatan medis yang tepat menjadi semakin tidak dapat diakses setelah empat tahun perang.

Tindakan putus asa

Setelah serangan udara, Hana mulai menderita pusing, insomnia, kelelahan dan tidak nafsu makan. Pada malam hari, gadis itu terbaring melek di tempat tidurnya, takut bahwa pertempuran yang ia bisa dengar berkecamuk sekitar lima kilometer akan segera mencapai rumahnya.

“Saya melek semalaman mendengarkan pertempuran,” katanya. “Saya merasa mereka mungkin membunuh kami seperti pria itu dan anaknya.”

Walaa putus asa untuk menemukan solusi bagi Hana. “Saya berupaya membawa putri saya ke rumah sakit, tapi itu akan memakan biaya sangat banyak dan kami hampir tidak punya makanan untuk dimakan,” kata Walaa kepada MEE. “Setelah sepekan, saya bawa putri saya ke seorang wanita tua untuk menyengatnya dengan besi panas.

“Wanita tua itu memanaskan sepotong besi sampai berwarna merah, kemudian ia meletakkannya di perut putri saya. Hana menangis dan saya merasa berdosa,” ujar Walaa. “Kemudian wanita tua itu mengoleskan pasta gigi di perut putri saya yang terbakar untuk mengurangi rasa sakit.”

Walaa membayar wanita tua itu 1.000 riyal Yaman (1,50 dolar), tapi penderitaan Hana kini menjadi dua kali lipat – luka psikologis akibat serangan udara, juga rasa sakit fisik dan mental karena disengat besi panas.

“Saya tidak percaya bahwa menyengat dengan besi panas adalah semacam pengobatan, sebaliknya ini adalah penderitaan lain yang lebih buruk daripada yang pertama, sehingga anak-anak melupakan hal-hal buruk dan hanya memikirkan tentang rasa sakit karena disengat besi panas,” kata Walaa.

Kemudian, Walaa mengetahui bahwa “puluhan” tetangganya juga telah membawa anak-anak mereka menjalani pengobatan yang sama – berupaya meyakinkan diri mereka sendiri bahwa, dengan tidak adanya alternatif yang tersedia, metode semacam itu adalah solusi yang baik bagi anak-anak mereka yang sakit.

Setelah disengat besi panas, Hana agak nafsu makan, mulai tidur agak lama, dan berhenti membicarakan tentang korban berlumuran darah akibat serangan udara. Akan tetapi, akar dari trauma psikologisnya tetap ada.

Praktik pengobatan kuno

Sebelum adanya akses ke dokter dan rumah sakit, sengatan besi panas adalah hal biasa di Yaman, khususnya di daerah-daerah pedesaan, di mana metode itu digunakan untuk mengobati kondisi liver kronis atau penyakit lainnya.

Umm Mohammed mengatakan puluhan orang mendatangi rumahnya di Hodeidah setiap hari untuk disengat dengan besi panas – sebuah metode pengobatan, yang ia yakini, lebih efektif dibandingkan apa pun. Wanita, yang berusia sekitar delapan puluhan, itu menyatakan ia mempelajari keahlian itu dari ibunya.

“Di masa lalu, tidak ada obat atau rumah sakit, hanya ada sengatan dengan besi panas dan tidak ada perkembangbiakan penyakit seperti saat ini,” kata Umm Mohammed kepada MEE.

Api menyala sepanjang hari di rumah wanita tua itu dan sebuah besi merah panas siap untuk pengunjung berikutnya. Ia mengatakan bisa menahan teriakan dan tangisan anak-anak, serta mengikat siapa saja yang meronta.

Sengatan dengan besi panas masing-masing memakan waktu sekitar tiga menit, paling sering dilakukan di punggung, perut, atau kadang-kadang, di kepala.

“Sengatan dengan besi panas adalah pengobatan untuk semua penyakit,” kata Umm Mohammed. “Setiap penyakit membutuhkan sengatan besi panas pada area tertentu di tubuh.”

Ia mengatakan banyak orang datang kepadanya setelah mengunjungi rumah sakit dan perawatan medis lainnya gagal, serta mengklaim bahwa semuanya pulih setelah beralih ke sengatan besi panas.

Saat ini, semakin banyak orang Yaman yang datang kepadanya karena trauma psikologis, kata Umm Mohammed, yang lantas ia meresepkan sebuah sengatan besi panas di perut.

“Perang telah menyebabkan ribuan anak-anak –dan bahkan orang dewasa– menderita trauma, jadi saya berusaha membantu mereka dengan sengatan besi panas,” katanya.

Umm Mohammed mengatakan ia tidak meminta uang dari mereka yang paling miskin yang datang kepadanya, ia hanya menerima pembayaran dari mereka yang memberikannya.

“Saya tidak mengambil uang dari orang miskin. Hanya mereka yang dapat membayar saya 500 atau 1.000 riyal (0,75 dolar hingga 1,50 dolar), saya ambil dari mereka untuk menghidupi keluarga saya,” katanya. “Saya juga memiliki keluarga yang harus saya nafkahi.”

Pilihan berbahaya

Sayaf Noori, delapan tahun, adalah bocah Yaman lainnya yang terluka secara psikologis setelah menyaksikan pertempuran di daerah al-Rabash di Hodeidah pada Juli, ketika keluarganya melarikan diri dari rumah mereka di tengah bentrokan sengit.

Sejak saat itu, Sayaf menderita gejala trauma termasuk insomnia dan kehilangan nafsu makan, serta kadang-kadang melihat darah di urinnya.

Terlalu miskin untuk membawa putranya ke rumah sakit apalagi harus menafkahi keluarga dengan tujuh anak, ayah Sayaf, Saleh, membawanya ke seorang lelaki tua untuk menyengat Sayaf dengan besi panas.

Akan tetapi, kondisi Sayaf belum membaik sejak saat itu.

“Putra saya belum sembuh sampai sekarang, dan yang paling berbahaya adalah ada darah di urinnya,” kata Saleh pada MEE.

“Lelaki tua itu menyuruh saya untuk menyengat putra saya lagi dengan besi panas dalam satu bulan jika dia tidak pulih dari efek ketakutan, dan saya akan melakukannya karena saya tidak punya pilihan lain.”

Dokter-dokter Yaman mengecam semakin populernya sengatan besi panas, dan menganggap itu kelalaian dari sejumlah orangtua karena digunakan sebagai pengganti perawatan khusus.

“Jika ada darah di urin, itu berarti ada yang salah dengan ginjal atau sistem kemih anak itu,” kata dokter Mustafa al-Haj kepada MEE. “Dia harus mengunjungi dokter atau itu bisa mengakibatkan kematian.”

Walaa, ibunda Hana, menyatakan bahwa ia dan banyak orangtua lainnya terpaksa melakukan sengatan besi panas karena mereka tidak memiliki sarana untuk mengakses segala bentuk pengobatan.

“Saya berharap organisasi-organisasi (bantuan) memberikan anak-anak kami pengobatan gratis untuk trauma psikologis dan membantu kami pergi menuju daerah-daerah yang aman,” katanya.

“Saya meminta kepada organisasi-organisasi (bantuan) karena mereka yang dapat membantu kami saat ini. Kami telah kehilangan banyak hak anak-anak kami karena kami tinggal di zona konflik.”* (Middle East Eye | Sahabat Al-Aqsha)

Seorang anak Yaman menunjukkan bekas sengatan besi panas baru di perutnya untuk ‘menyembuhkan’ trauma psikologisnya. Bekas sengatan besi panas diolesi pasta gigi untuk membantu proses penyembuhan. Foto: MEE

Seorang anak Yaman menunjukkan bekas sengatan besi panas baru di perutnya untuk ‘menyembuhkan’ trauma psikologisnya. Bekas sengatan besi panas diolesi pasta gigi untuk membantu proses penyembuhan. Foto: MEE

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Istanbul Paling Banyak Tampung Muhajirin Suriah di Turki
Ratusan Orang Hadiri Pemakaman Pemuda Disabilitas yang Ditembak Mati Serdadu Zionis »