SNHR Yakin Relawan Asal Chicago Ini Tewas di Penjara Suriah

6 December 2018, 18:29.
Foto: Facebook

Foto: Facebook

CHICAGO, Kamis (CBS): Kelompok pemantau hak asasi manusia, Syrian Network for Human Rights (SNHR) yakin Layla Shweikani –wanita muda Amerika dari daerah pinggiran Chicago yang ditahan dua tahun lalu oleh rezim Bashar al-Assad– dieksekusi oleh pemerintah Suriah.

Menyebut Shweikani sebagai “aktivis kemanusiaan” di situsnya, SNHR mengepos, “Kami percaya dia dieksekusi di penjara militer Saydnaya.”

Pada Jum’at lalu, imam di Mecca Center di Willowbrook, Illiois meminta jamaah untuk melaksanakan shalat ghaib untuk Shweikani. Keluarga Shweikani baru-baru ini menerima berita bahwa dia telah meninggal dunia setelah 10 bulan ditahan pada tahun 2016.

Qutaiba Bakeer Agha, yang bekerja sebagai peneliti independen, membantu sejumlah keluarga menemukan informasi tentang orang-orang terkasih yang ditahan di penjara-penjara Suriah. Pada 2015, menurut Agha, Shweikani, yang saat itu berusia 25 tahun, melakukan perjalanan dari Chicago ke Suriah, tempat ia menghabiskan sebagian masa kecilnya. Di awal tahun 2015, Shweikani bertunangan.

Ketika tinggal di Suriah, Shweikani memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga Suriah yang mengungsi dari rumah mereka karena perang. Menurut Fadel Abdul Ghany, ketua SNHR, sekitar enam juta warga Suriah saat ini mengungsi di dalam negara tersebut. Dia mengatakan kepada CBS 2 bahwa sekitar 70% mengungsi karena serangan udara oleh pasukan Suriah dan Rusia.

Shweikani juga membantu mengirimkan bantuan kepada penduduk Ghouta yang terkepung, di daerah pinggiran Damaskus yang telah terputus dari bagian lain negara itu sebagai bagian dari taktik pengepungan dan kelaparan oleh pemerintah Suriah. Pada 2016, Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan Khyung-wha Kang melaporkan, “Pengepungan dan kelaparan telah menjadi sistematis di Suriah.”

Seorang teman Shweikani, yang tidak disebutkan namanya karena masalah keamanan, mengatakan kepada CBS 2 melalui WhatsApp bahwa Shweikani “tidak bisa hanya berdiam diri di sana dan menyaksikan apa yang terjadi pada orang-orang yang dibom dan kehilangan semua yang mereka miliki.” Teman tersebut mengatakan Shweikani “adalah seorang aktivis sipil dan perdamaian” yang merasa sangat terhubung dengan Suriah, serta ingin membantu mereka yang terkena dampak perang.

Pada Februari 2016, pemerintah Suriah menahan Shweikani, ayah dan tunangannya. Menurut Agha, Shweikani memohon kepada pemerintah untuk tetap menahanannya dalam tahanan dan membebaskan ayah dan tunangannya. Taktik menahan anggota keluarga aktivis ini “sangat umum,” menurut Ghany. Rezim mengancam orang-orang untuk “membebaskan orang lain” dalam keluarga tersebut, dengan proses yang tidak jelas dan tidak dapat diprediksi. Akhirnya, ayah dan tunangan Shweikani dibebaskan.

CBS 2 telah mengetahui bahwa Shweikani berada di sel isolasi selama terpenjara. Meskipun tidak ada bukti bahwa dia disiksa secara fisik, “kesaksian para wanita yang telah mengalami penahanan menunjukkan bahwa para wanita mengalami penyiksaan berat, pemerkosaan dan tidak diberi cukup makanan atau air,” kata Elizabeth Tsurkov, anggota peneliti di Forum for Regional Thinking yang berfokus pada Suriah. Sebanyak 300.000 orang telah ditahan di penjara-penjara Suriah, katanya kepada CBS 2.

Ghany, yang organisasinya telah melacak jumlah tawanan sejak perang dimulai pada 2011, menyatakan angkanya mendekati 104.000 tawanan. Dia mengatakan kepada CBS 2 bahwa keluarga mungkin keberatan untuk mengumumkan orang yang mereka cintai berada dalam tahanan sehingga jumlah pastinya sulit dilacak.

Agha mengatakan pada CBS 2 bahwa pada Desember 2016, Duta Besar Republik Ceko untuk Suriah, Eva Filipi, mengunjungi Shweikani di penjara atas nama pemerintah Amerika Serikat (Republik Ceko berfungsi sebagai “protecting power” untuk kepentingan Amerika Serikat di Suriah). Selama hampir dua tahun setelah kunjungan Filipi, kondisi Shweikani masih tidak diketahui.

Kemudian pada akhir November 2018, salinan catatan sipil dirilis, yang menunjukkan bahwa Layla Shweikani telah meninggal dunia pada akhir Desember 2016. Catatan sipil adalah sistem yang digunakan pemerintah untuk melacak statistik penting, seperti kelahiran, pernikahan dan kematian. Agha mengatakan pada CBS 2 bahwa berdasarkan penelitiannya, ia yakin Shweikani telah dieksekusi.

Menurut Tsurkov, dalam enam bulan terakhir banyak keluarga Suriah yang mengetahui kondisi orang yang mereka cintai dengan memantau pembaruan di catatan sipil. “Sebelumnya rezim mengirim sertifikat kematian dan jenazah, tetapi kini tidak lagi,” katanya pada CBS 2. “Rezim merasa sangat aman dalam posisinya sekarang. (Rezim) tidak takut bahwa keluarga yang diberitahu tentang kematian orang yang mereka cintai akan menimbulkan kerusuhan.”

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS tidak menegaskan atau menyangkal kematian Shweikani, “karena pertimbangan privasi”.

Curahan kesedihan di media sosial setelah publikasi berita kematian Shweikani sangat terasa. “Dunia ini kehilangan manusia yang cinta damai dan pemberani lainnya,” tulis seorang pengguna Facebook.

“Layla berpartisipasi dalam gerakan sipil yang damai di Damaskus. Sebelum ia menjadi tawanan, dia sendiri kehilangan banyak teman,” kata teman Shweikani yang berbicara kepada CBS 2 melalui WhatsApp. “Ribuan tawanan mengalami kematian akibat penyiksaan setiap hari dan dunia hanya menonton.”* (CBS | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Ratusan Orang Hadiri Pemakaman Pemuda Disabilitas yang Ditembak Mati Serdadu Zionis
Gaza Hukum Mati 6 Orang yang Jadi Mata-mata untuk Penjajah Zionis »