Amnesty: OP Siksa Aktivis yang Dituduh Kirim Dana untuk Keluarga Miskin di Gaza

7 December 2018, 17:45.
Poster untuk mendukung Suha Jbara, wanita Palestina yang dituduh memberikan bantuan keuangan kepada keluarga miskin di Jalur Gaza. Sumber: Middle East Monitor

Poster untuk mendukung Suha Jbara, wanita Palestina yang dituduh memberikan bantuan keuangan kepada keluarga miskin di Jalur Gaza. Sumber: Middle East Monitor

LONDON, Jum’at (Middle East Monitor): Amnesty International mendesak Otoritas Palestina (OP) untuk “segera menyelidiki” dugaan penyiksaan terhadap Suha Jbara, seorang warga negara Palestina, Amerika Serikat dan Panama yang mengaku “dipukuli, dihempaskan ke dinding dan diancam dengan kekerasan seksual oleh para interogatornya.”

Jbara ditangkap pada 3 November “dalam sebuah penggerebekan penuh kekerasan di rumahnya”, dan kemudian “diperiksa oleh jaksa terkait tuduhan ia mengumpulkan dan membagikan uang dengan cara ilegal. Ia menyangkal tuduhan itu,” ungkap Amnesty.

Selama kunjungan Amnesty ke penjara tempat dia ditahan, Jbara mengatakan kepada kelompok HAM itu “tentang tindakan brutal para interogator yang menyiksanya selama tiga hari”.

“Jbara juga memberi tahu Amnesty bahwa ia mengalami pelecehan tanpa henti dari para petugas untuk mengakhiri mogok makan yang dia mulai pada 22 November sebagai protes atas penahanan dan penyiksaannya,” demikian ungkap Amnesty dalam siaran persnya.

Amnesty melanjutkan, “Dia menggambarkan bagaimana setelah penangkapannya dia mengalami kejang dan kehilangan kesadaran, kemudian dibawa ke rumah sakit. Akan tetapi, para petugas keamanan bersenjata kemudian menyeretnya keluar dari ranjang rumah sakit, bertelanjang kaki, dan memindahkannya ke Pusat Interogasi dan Penahanan Jericho.”

Sesampai di sana, seorang interogator pria melemparkan air ke wajah Jbara, menamparnya, meninju dada dan punggungnya, serta mengancamnya dengan kekerasan lebih lanjut. Matanya ditutup dan tangannya diborgol selama interogasi, serta tidak diizinkan untuk minum atau menggunakan toilet.

Amnesty menambahkan bahwa Jbara “tidak memiliki akses ke pengacara selama interogasi dan para jaksa dari kantor kejaksaan agung mengambil kesaksiannya di hadapan petugas keamanan bersenjata di pusat interogasi”, dan “dia juga tidak diizinkan untuk membaca kesaksiannya sebelum menandatanganinya.”

Jbara mengatakan pada Amnesty bahwa dia memulai mogok makan pada 22 November “sebagai protes atas penyiksaannya selama interogasi dan perlakuan tidak adil oleh jaksa dan pengadilan”.

Menurut Jbara, “sejumlah pejabat – termasuk gubernur Jericho, seorang perwira polisi berpangkat tinggi serta dokter dan perawat – berupaya membujuknya untuk menghentikan aksi mogok makannya. Dia juga diberitahu bahwa dia dilarang dikunjungi keluarga atau menelepon sebagai hukuman atas aksi protesnya.”

Saleh Higazi, wakil direktur Amnesty International Timur Tengah dan Afrika Utara, mengatakan: “Suha Jbara menggambarkan penyiksaan mengerikan yang dialaminya dengan detail. Otoritas Palestina harus segera melakukan penyelidikan independen dan tidak memihak atas tuduhan ini.”

“Setiap pejabat yang teridentifikasi bertanggung jawab harus segera ditangguhkan, dituntut dan dibawa ke pengadilan,” tambahnya.

Menurut Amnesty, “Pasukan Palestina di Tepi Barat dan Gaza memiliki rekam jejak menangkap aktivis, demonstran dan kritikus secara sewenang-wenang, banyak di antara mereka menghadapi proses peradilan yang tidak memenuhi standar persidangan yang adil.”* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Gaza Hukum Mati 6 Orang yang Jadi Mata-mata untuk Penjajah Zionis
90.000 Masjid di Turki Galang Dana untuk Yaman »