Penjual Roti Kering di Khan Younis: Potret Penderitaan dan Kemiskinan di Gaza

26 December 2018, 08:24.
Foto: PIC

Foto: PIC

KHAN YOUNIS, Selasa (PIC): Ketika musim dingin tiba, Um Jihad mulai menggantung tali di tengah rumahnya, bukan untuk mengeringkan cucian basah anak-anaknya, tapi untuk menggantung dan mengeringkan roti.

Lima tahun yang lalu, Um Jihad al-A’araj (45), memulai profesi mengumpulkan dan mengeringkan sisa-sisa roti kemudian menjualnya untuk menghasilkan uang demi memenuhi kebutuhan keluarganya di tengah kondisi ekonomi buruk yang melanda Jalur Gaza.

Seperti biasa, Um Jihad bangun sangat pagi untuk melakukan pekerjaannya. Ia harus mendapatkan roti lama dari para tetangga dan kerabatnya sehingga dia bisa mengeringkan dan menjualnya.

Sepanjang hari, wartawan PIC berada di rumahnya di kamp pengungsi Khan Younis di Jalur Gaza selatan. Ketika makanan di rumahnya telah habis, Um Jihad terpaksa mengambil beberapa potong roti yang dia taruh di lantai, kemudian memberikannya kepada anak-anaknya untuk dimakan dengan lentil (kacang-kacangan) yang telah dimasak.

Keluarga itu hidup dalam kondisi yang sangat miskin dan harus menghidupi delapan anak. Suaminya yang berusia lima puluhan tidak bisa bekerja akibat menderita hipertrofi (peningkatan volume organ atau jaringan akibat pembesaran komponen sel) di liver dan membutuhkan perawatan harian yang mahal.

Um Jihad sendiri menderita stres dan diabetes, tapi dia tidak menyerah pada penyakit itu dan bersikeras bahwa ia akan berjuang. Mereka tidak memiliki sumber pendapatan, kecuali uang asuransi sosial yang diberikan kepada mereka setiap lima bukannya tiga bulan seperti dulu.

Dalam wawancara dengan PIC ia mengatakan bahwa ia mengemas roti dalam kantong kemudian menjualnya kepada penggembala domba dan sapi, atau para tetangga yang memelihara burung dan hewan ternak.

Dia mengatakan bahwa kondisi kehidupan yang sulit di Jalur Gaza telah membuatnya mandiri dan tangguh menghadapi tantangan, serta kesulitan yang dihadapi keluarganya.

Um Jihad mengemas 40 kg roti kering dalam kantong, kemudian menjualnya dengan harga 10 hingga 15 shekel per kantong, yang setara dengan sekitar 3 dolar.

Ibu dari delapan anak ini menggunakan rumah dua kamarnya yang sederhana dan bobrok, serta sebuah ruang kecil untuk mengeringkan roti karena takut terkena hujan saat musim dingin. Sementara saat musim panas, ia mengeringkannya di luar rumah.

Dengan air mata membasahi pipinya, ia mengungkapkan harapan bahwa krisis yang dia alami bersama dengan penduduk lainnya di Jalur Gaza akan segera berakhir. Dengan demikian, berakhir pula kelelahan dan penderitaan yang menemaninya sepanjang waktu.

Blokade yang diberlakukan penjajah ‘Israel’ 12 tahun yang lalu dan sanksi yang dijatuhkan Otoritas Palestina sejak April 2017 di Jalur Gaza telah mengakibatkan semakin buruknya kondisi ekonomi dan meningkatnya penderitaan di Gaza, serta mengubah ratusan ribu orang menjadi keluarga miskin dan penerima bantuan.

Menanggapi situasi ini, ribuan warga di Jalur Gaza melakukan pekerjaan apa pun yang memberi mereka uang untuk membeli sejumlah kebutuhan pokok.* (PIC | Sahabat Al-Aqsha)

Foto: PIC

Foto: PIC

Foto: PIC

Foto: PIC

Foto: PIC

Foto: PIC

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Abu Zuhri: ‘Tujuan Kami Bukan Hanya Gaza, Tapi Pembebasan Seluruh Wilayah Palestina’
Sulit Dapat Kerja, Wanita Gaza Ini Bangun Bisnis dengan Bagikan Resep Masakan di Medsos »