Belajar Kerajinan Tangan, Cara Muhajirin Suriah Atasi Dampak Negatif Perang

27 December 2018, 23:10.
Foto: Anadolu Agency

Foto: Anadolu Agency

ISTANBUL, Kamis (Daily Sabah): Seorang hakim Suriah yang hijrah dari negaranya karena perang mengajarkan kerajinan tangan kepada Muhajirin Suriah di provinsi Hatay, tenggara Turki, untuk membantu mereka secara psikologis.

Afaf Al Rachid (55), yang menjabat sebagai pengacara selama 14 tahun dan hakim selama satu tahun di Suriah meninggalkan negara itu setelah terjadi perang yang sangat brutal dan berlindung di negara tetangga, Yordania. Ia kemudian datang ke Turki pada tahun 2015 dan mulai tinggal di distrik Kirikhan, Hatay, di mana ia kini memberikan kursus kerajinan tangan untuk wanita dan anak-anak Muhajirin Suriah demi membantu mereka mengatasi dampak negatif perang.

Rachid mengatakan bahwa selain bekerja sebagai pengacara dan hakim, ia juga mengabdi sebagai pembela hak-hak wanita selama lima tahun di negaranya.

Ia membuka kursus tersebut sembilan bulan lalu di dalam sebuah gedung milik badan amal tempat dia bekerja sebagai perwakilan distrik.

Rachid membantu proses rehabilitasi dengan mengajarkan berbagai keterampilan kepada para wanita dan anak-anak yang trauma akibat perang. Selain mengajar, Rachid juga menyelenggarakan pameran yang menampilkan hasil kerajinan tangan para peserta dan membeli perlengkapan yang diperlukan dengan pendapatan dari pameran.

Ia menegaskan bahwa ia menemukan beberapa bahan yang mereka gunakan dalam kerajinan tangan dari alam, seperti kepingan kayu atau batu.

Rachid pertama kali belajar cara membuat kerajinan tangan di Dubai dan telah menyelenggarakan sejumlah pameran di Suriah sebelumnya. Akan tetapi, kata Rachid, dia sekarang menggunakannya untuk alasan yang berbeda.

“Saya melihat bahwa para wanita dan anak-anak yang melarikan diri dari perang membutuhkan pekerjaan sosial, dan saya berusaha mendukung mereka dengan cara ini untuk menghilangkan jejak perang di kepala mereka. Tujuan saya adalah memberikan kehidupan yang lebih baik bagi para wanita dan anak-anak di sini, untuk menyembuhkan kesehatan mental mereka,” kata Rachid.

Salah seorang peserta, Heyfe Muteve (65), yang menghadiri kursus dengan kedua cucunya mengatakan bahwa dia suka “membuat produk yang bagus.”

Abdo Murat (13), remaja lelaki yang melanjutkan kursus selama sekitar tiga bulan ini mengatakan bahwa ia mulai belajar kerajinan tangan setelah sepupunya mendorongnya untuk belajar.

Ia mengatakan ingin meningkatkan diri di bidang ini dan “berkontribusi pada ekonomi keluarga dengan uang yang ia hasilkan” di masa depan.* (Daily Sabah | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Kakek Palestina Terluka Parah Dipukuli Gerombolan Pemukim Ilegal Yahudi
Kamp Pengungsi di Idlib Terendam Banjir, Aktivis Serukan Pengiriman Bantuan »