Selama 2018, Penjajah Zionis Tangkap 5.700 Warga Palestina, Termasuk 980 Anak-anak

30 December 2018, 09:45.
Foto: PIC

Foto: PIC

GAZA, Ahad (PIC): Pusat Studi Tawanan Palestina pada Jum’at (28/12) mengungkapkan bahwa penjajah Zionis menangkap 5.700 warga Palestina pada 2018, termasuk 980 anak-anak, serta 175 wanita dan gadis. Berdasarkan laporan yang dirilis pusat studi itu, sekitar 1.800 kasus penangkapan tercatat di Baitul Maqdis, 900 di Al-Khalil, dan 215 di Jalur Gaza.

Laporan tersebut mencatat dari 980 anak-anak yang ditangkap pada 2018, kebanyakan dari mereka berusia di bawah 10 tahun, antara lain Dergham Maswada (3) yang dilecehkan dan ditangkap oleh gerombolan serdadu Zionis di Kota Tua, Al-Khalil.

Pada 2018, sekitar 175 wanita dan gadis Palestina, tujuh anggota parlemen, 1.300 eks-tawanan, dan 150 warga Palestina berkebutuhan khusus ditangkap.

Selama periode yang sama, lima tawanan Palestina meninggal dunia ketika berada dalam tahanan ‘Israel’: Yasin al-Saradih (33), Mohammed Anbar (46), Mohammed Marshoud (30), Aziz Oweisat (53), dan Mohammed al-Rimawi (24).

Laporan tersebut menambahkan bahwa Dinas Penjara ‘Israel’ melakukan 185 penyerbuan ke dalam sel tawanan Palestina dan sel bawah tanah pada 2018, ini meningkat 26% dibandingkan tahun 2017.

Parlemen ‘Israel’, Knesset, pada 2018 membahas dan menyetujui sejumlah rancangan undang-undang (RUU) sewenang-wenang yang menargetkan tawanan Palestina, termasuk UU yang memungkinkan eksekusi tawanan yang melakukan aksi perlawanan terhadap penjajah Zionis, UU yang mengatur pemotongan dana kepada Otoritas Palestina terkait jumlah yang dibayarkan kepada keluarga tawanan, dan UU yang melarang kunjungan keluarga tawanan yang berafiliasi dengan kelompok perlawanan yang menahan serdadu Zionis.* (PIC | Sahabat Al-Aqsha)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penjajah Zionis Hancurkan 538 Bangunan Warga Palestina di Tepi Barat pada 2018
Pengamat: Pembukaan Kembali Kedubes UEA di Damaskus Bermotif Keuntungan Ekonomi »