Bakteri Superbug, Musuh Tak Terlihat Para Dokter di Gaza

4 January 2019, 21:28.
Fahed Zuhud (29). Foto: Medicins Sans Frontiers

Fahed Zuhud (29). Foto: Medicins Sans Frontiers

GAZA, Jumat (The Bureau Investigates): Paha Fahed Zuhud ditembak serdadu Zionis ‘Israel’ pada Februari 2018, namun akibat infeksi superbug, lukanya belum sembuh sampai kini dan dia mungkin akan kehilangan kakinya. 

 

Para dokter di Gaza dan Tepi Barat memperingatkan bahwa mereka sedang berjuang melawan epidemi superbug yang resistan terhadap antibiotik. Sebuah masalah yang berkembang di zona konflik dunia dan masalah yang berisiko melampaui batas negara. 

 

Superbug adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis bakteri yang resistan terhadap sebagian besar antibiotik yang umum digunakan saat ini. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, bakteri yang resistan terhadap obat ini menginfeksi lebih dari dua juta orang di seluruh negeri dan menyebabkan kematian setidaknya 23.000 orang setiap tahun.      

 

Peningkatan dan penyebaran infeksi mematikan ini memperburuk kerusakan akibat perang, mendongkrak belanja pengobatan, memakan ruang dan tempat tidur rumah sakit karena pasien membutuhkan perawatan yang lebih lama, dan membuat orang-orang yang terluka terancam cacat.

 

Gaza yang sistem kesehatannya telah lumpuh akibat blokade belasan tahun dan kekurangan persediaan antibiotik menjadi tempat subur berkembangbiaknya superbug. Meskipun para dokter mengetahui protokol untuk mencegah munculnya superbug, mereka kesulitan melakukannya. 

 

Karena kekurangan air, listrik dan bahan bakar untuk generator,  para dokter di Gaza seringkali tidak dapat memenuhi standar kebersihan dasar. Bahkan terkadang staf tidak bisa mencuci tangan, mesin sterilisasi tidak bisa diandalkan, dan ada keterbatasan sarung tangan, jubah dan tablet klorin untuk membersihkan rumah sakit, ungkap para profesional medis. 

 

Ini adalah masalah keamanan kesehatan global karena penyebaran superbug ini bisa lintas batas negeri, kata Dina Nasser, kepala perawat pengendalian infeksi di RS Augusta Victoria di Baitul Maqdis Timur yang juga bekerja di Gaza. Itulah sebabnya, bahkan jika komunitas global tidak tertarik dengan urusan politik Gaza, mereka mestinya memerhatikan masalah ini.

 

Blokade ‘Israel’ atas Gaza selama lebih dari satu dasawarsa ini membuat Gaza relatif terisolasi dibandingkan dengan daerah-daerah konflik yang juga terbukti menjadi lahan subur bagi superbug, seperti Suriah atau Irak. Akan tetapi, Gaza tidak sepenuhnya terisolasi. Sejumlah kecil pasien melintasi perbatasannya untuk pindah ke rumah sakit lain di Palestina, ke wilayah yang kini disebut ‘Israel’ dan ke negara-negara terdekat, seperti Yordania, Mesir dan Lebanon. 

 

Orang-orang yang sehat juga dapat membawa bakteri tanpa menunjukkan gejala apa pun, sehingga para pekerja, dokter, dan relawan yang bepergian masuk dan keluar dari Gaza dapat membawa superbug ke negara-negara lain, di mana mereka dapat menyebabkan infeksi yang sulit diobati. Superbug juga dapat bepergian tanpa perlu masuk ke dalam tubuh manusia. 

 

Dr Ghassan Abu Sittah dari American University of Beirut Medical Center menggambarkan betapa limbah yang tidak diolah dari Gaza yang mengandung superbug masuk ke akuifer (lapisan bawah tanah yang mengandung air dan dapat mengalirkan air) yang juga memasok air ke Mesir dan ‘Israel’, ujarnya.  

 

Masalah bertambah parah seiring dengan meningkatnya kekerasan di Gaza tahun 2018 lalu. Lebih dari 200 orang tewas dan ribuan luka-luka –sebagian besar ditembak di kaki– dalam aksi unjuk rasa di sepanjang perbatasan Gaza yang dijuluki the Great Return March.

 

Fahed Zuhud (29) adalah salah seorang yang terluka. Ia ditembak pada Februari ketika melemparkan batu ke arah gerombolan serdadu ‘Israel’ di dekat perbatasan, dan peluru itu menghancurkan kakinya. 

 

Setelah dilarikan ke rumah sakit untuk pembedahan, lukanya terinfeksi dan ia mengalami osteomielitis, infeksi di dalam tulang dan komplikasi parah yang seringkali dapat menyebabkan amputasi. Para dokter belum dapat mengidentifikasi jenisnya, tapi yakin dia sudah resistan karena setiap antibiotik yang ia konsumsi, tidak berdampak apa pun.  Pada tiga kesempatan para dokter menasihatinya bahwa amputasi akan menjadi pilihan terbaik, tapi ia menolak. 

 

Dokter bedah ortopedi Gaza, Dr Mahmoud Mattar, mengatakan sekitar 2.000 warga Gaza saat ini sedang menghadapi cedera parah akibat tembakan di kaki yang biasanya memerlukan berbagai operasi rekonstruksi dan dua tahun rehabilitasi. 

Akan tetapi, hampir semua pasien ini juga memiliki infeksi superbug, yang berarti ahli bedah harus menunda menutup luka mereka, mengurangi kemungkinan rekonstruksi berhasil, memperpanjang masa inap di rumah sakit selama berbulan-bulan, dan meningkatkan risiko amputasi.  

 

Produksi massal penisilin menjelang akhir Perang Dunia Kedua menyelamatkan jutaan nyawa dan mencegah disabilitas yang tak terhitung jumlahnya di antara mereka yang terluka dalam perang. Dengan demikian, memungkinkan para dokter untuk menghindari amputasi. Akan tetapi, ketika krisis superbug dunia semakin parah, beberapa zona konflik modern mulai menyerupai masa pra-penisilin. 

 

Kami memperkirakan bencana nyata kecacatan pada orang yang terluka, kata Dr Ghassan Abu-Sittah, kepala operasi plastik di American University of Beirut Medical Center, yang melakukan perjalanan ke Gaza pada Mei untuk merawat pasien di RS Al Awda.

 

Semua superbug dalam daftar bakteri prioritas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang merupakan ancaman terbesar bagi kesehatan manusia, telah dilaporkan ada di Palestina. 

 

Infeksi semacam ini merupakan tantangan besar bagi sistem kesehatan apa pun. Superbug membunuh ratusan ribu orang di seluruh dunia, dan tidak ada antibiotik baru yang dikembangkan sejak 1980-an. 

 

Akan tetapi, rumah-rumah sakit di Gaza seperti banyak rumah sakit lainnya di daerah konflik telah mengalami krisis peralatan dan obat-obatan, serta kepadatan yang parah. Selain itu, sebagian besar fasilitas medis juga tidak memiliki kemampuan untuk mendeteksi superbug

 

Lembaga amal medis Medicins Sans Frontiers berharap memperbaiki setidaknya satu masalah ini dan sedang menyiapkan layanan dengan Kementerian Kesehatan untuk menguji sampel tulang dari rumah sakit di seluruh Jalur Gaza untuk osteomielitis (infeksi tulang yang disebabkan mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh melalui luka atau penyebaran infeksi lewat darah) resistan berbagai obat sehingga mereka dapat diberikan antibiotik yang sesuai.

 

Lembaga itu juga menjalankan sebuah klinik, di mana pasien dengan cedera kaki dapat ditindaklanjuti dan direhabilitasi dengan lebih mudah. Fahed Zuhud sekarang dirawat di sana, dan karena ia tidak bisa lagi bekerja, ia menghabiskan waktunya antara rumah dan rumah sakit. 

 

Dia sedang menunggu implan tulang, tetapi infeksi telah memperlambat perawatannya. Sepuluh bulan sesudah cederanya, Fahed masih memakai kruk dan ada kemungkinan infeksinya menyebar sehingga harus diamputasi.* (The Bureau Investigates | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« SOHR: Hampir 20.000 Warga Suriah Tewas pada 2018
Serikat Pekerja Yordania Jadikan Bendera ‘Israel’ Sebagai ‘Keset’ »