India Terus Usir Pengungsi Rohingya ke Myanmar

8 January 2019, 22:09.
Seorang bocah perempuan Rohingya berdiri di luar gubuk keluarganya di sebuah kamp di New Delhi, 4 Oktober 2018. Foto: Daily Sabah

Seorang bocah perempuan Rohingya di luar gubuk keluarganya di sebuah kamp di New Delhi, 4 Oktober 2018. Foto: Daily Sabah

ISTANBUL, Selasa (Daily Sabah): Polisi India pada Kamis (3/1) lalu membawa keluarga Muslim Rohingya yang beranggotakan lima orang ke perbatasan dengan bus, untuk mendeportasi mereka ke negara tetangga, Myanmar. Ini merupakan kelompok kedua Muslim Rohingya yang diusir dalam empat bulan.

Pemerintah nasionalis Hindu India menganggap Muslim Rohingya sebagai warga asing ilegal dan mengancam keamanan. Pemerintah India telah memerintahkan agar puluhan ribu Muslim Rohingya, yang tinggal di pemukiman kecil dan kumuh, diidentifikasi dan dipulangkan.

Menurut polisi, keluarga yang terdiri dari suami, istri dan tiga anak yang diusir pada Kamis lalu itu ditangkap dan dipenjara di negara bagian Assam timur laut pada tahun 2014 karena memasuki India tanpa dokumen yang sah.

Oktober lalu, India mendeportasi tujuh warga Rohingya ke Myanmar, meskipun PBB telah memperingatkan bahwa mereka menghadapi persekusi di negara yang tentaranya dituduh melakukan genosida terhadap minoritas Muslim. PBB menyuarakan keprihatinan bahwa memulangkan mereka berarti mengabaikan bahaya yang mereka hadapi di Myanmar, di mana selama beberapa dekade Rohingya telah menjadi sasaran pembantaian kejam oleh pasukan keamanan. Pelapor khusus PBB telah memperingatkan India yang berisiko melanggar undang-undang internasional tentang refoulement, yakni pengembalian paksa para pengungsi atau pencari suaka ke negara di mana mereka menjadi sasaran persekusi.

Kelompok-kelompok HAM sebelumnya mengkritik keputusan pemerintah India yang secara paksa mengembalikan para pengungsi Rohingya. Human Rights Watch mengatakan, “Mendeportasi orang-orang ini akan menempatkan mereka pada risiko mengalami penyiksaan dan pelecehan berat.” Sedangkan Amnesty International mengatakan bahwa mendeportasi mereka “melanggar hukum adat internasional.”

Hampir satu juta Muslim Rohingya, yang diusir dari rumah mereka di Myanmar, tinggal di kamp-kamp kumuh di distrik Cox’s Bazar, Bangladesh tenggara. Dari jumlah tersebut, lebih dari 700.000 melintasi perbatasan ke Bangladesh setelah militer Myanmar melancarkan operasi penumpasan yang brutal pada Agustus 2017 sebagai balasan atas serangan gerilyawan di pos keamanan di negara bagian Rakhine utara. Sejak terjadinya kekerasan di Myanmar tahun lalu, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah terbunuh oleh pasukan negara Myanmar. Ini berdasarkan laporan terbaru.

Warga Rohingya yang tidak memiliki kewarganegaraan telah menjadi sasaran kekerasan komunal dan sentimen anti-Muslim yang kejam di Myanmar –yang mayoritas beragama Budha– selama bertahun-tahun. Myanmar menolak kewarganegaraan untuk Rohingya sejak 1982 dan mengecualikan mereka dari 135 kelompok etnis yang diakui secara resmi. Itu secara efektif membuat mereka tidak memiliki kewarganegaraan. Jejak keberadaan Rohingya di Rakhine telah ada beberapa abad yang lalu. Akan tetapi, warga Myanmar yang mayoritas beragama Budha menganggap mereka sebagai imigran Muslim yang tidak diinginkan dari Bangladesh.* (Daily Sabah | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Laporan Penyaluran Amanah Musim Dingin Garis Depan 2018-2019 (Tahap Pertama)
Badai Musim Dingin Bekukan Muhajirin Suriah di Kamp-kamp Lebanon yang Terkena Banjir »