Badai Musim Dingin Bekukan Muhajirin Suriah di Kamp-kamp Lebanon yang Terkena Banjir

9 January 2019, 21:15.

LONDON, Rabu (Middle East Monitor): Badai di Lebanon membanjiri kamp-kamp Muhajirin Suriah, merusak tenda, kasur dan makanan, serta memperburuk penderitaan Muhajirin yang berusaha menahan angin musim dingin yang kencang dan membekukan tubuh. Demikian pemberitaan Reuters sebagaimana dikutip MEMO.

Lebih dari satu juta Muhajirin Suriah melarikan diri ke negara tetangga, Lebanon, sejak terjadinya perang pada 2011, dan lembaga-lembaga PBB menyatakan sebagian besar dari mereka hidup dalam kemiskinan.

“Ada hampir setengah meter air di tanah dan di tenda-tenda. Perang di Suriah memaksa kami mengalami situasi ini,” kata Hussein Zeidan yang datang ke Lebanon dari Homs di Suriah pada 2011.

Ia tinggal di kamp darurat di dekat sebuah sungai di wilayah Akkar, Lebanon utara. Ia dan beberapa penghuni kamp lainnya menyatakan bahwa badai telah membuat mereka dan anak-anak mereka tanpa pakaian, perabot atau makanan.

Sejumlah keluarga pindah mencari tempat yang kering dan hangat.

“Air membanjiri kami di kamp. Kondisi saya dan anak saya buruk. Semoga Allah memberkahi tetangga kami, mereka menyambut baik kami kemarin malam. Hari ini, air membanjiri (kamp) mereka sehingga kami datang ke sini, seperti yang Anda lihat, (air datang) ke rumah setengah jadi tanpa jendela atau pintu ini,” kata Ghazwan Zeidan, yang memiliki tiga anak, di Akkar.

Lembaga pengungsi PBB menyatakan pada Selasa bahwa badai telah sepenuhnya membanjiri atau menghancurkan 15 permukiman tidak resmi dari sekitar 66 yang “sangat terkena dampak” (badai).

Di lembah Bekaa di Lebanon timur, suhu dingin juga membawa salju.

Abu Shahid, yang melarikan diri dari Hasaka di Suriah tiga tahun lalu dengan keluarganya, berdiri di atas genangan air di sebuah kamp tidak resmi di desa Bar Elias. Dia menggambarkan bagaimana tendanya telah sepenuhnya terendam air dan semua barang milik keluarganya rusak.

“Satu-satunya solusi adalah meninggalkan barang-barang kami dan pindah, pergi hanya dengan apa yang melekat di tubuh kami. Air ada di mana-mana, ke mana kami harus pergi?” katanya. Malam sebelumnya, dia dan istri, serta dua anaknya tidur di tenda tetangga yang tidak terlalu rusak oleh banjir.

Bagi Hamed Haj Abu (19) dan kerabatnya, malam itu dingin dan basah.

“Kami tidak tidur sepanjang malam. Beberapa orang tidur selama satu jam, yang lain bangun. Air mendatangi kami, di tenda, dari mana-mana,” katanya di Bar Elias.

“Adik saya dan keluarganya mendatangi kami, mereka tinggal di dekat sini. Kami semua tidak tidur, kami meninggalkan tenda bersama-sama, kami tidak bisa duduk, lihat, air membanjiri (tenda), kami tidak bisa tidur di atas air.”* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« India Terus Usir Pengungsi Rohingya ke Myanmar
Pasokan Susu Formula Habis, Kondisi Bayi Berpenyakit Genetik di Gaza Terancam Bahaya »