Ada Skenario Jahat untuk Makin Sengsarakan Rakyat Gaza

12 January 2019, 21:24.
Seorang wanita Palestina menyiapkan makanan untuk anaknya di rumahnya di daerah termiskin, al-Zaytoon, di Kota Gaza pada 17 September 2013. Foto: Ezz Zanoun/Apaimages

Seorang wanita Palestina menyiapkan makanan untuk anaknya di rumahnya di daerah termiskin, al-Zaytoon, di Kota Gaza pada 17 September 2013. Foto: Ezz Zanoun/Apaimages

LONDON, Sabtu (Middle East Monitor): Seorang anggota senior Biro Politik Hamas Mousa Abu Marzook mengungkapkan, ada skenario jahat yang tengah dipersiapkan untuk Gaza. Keyakinannya itu dilandaskan oleh serangkaian manuver politik yang melibatkan berbagai pihak, yakni pemerintah Mesir, kelompok Fatah atau Otoritas Palestina, dan ‘Israel’.

Abu Marzook menyebut, salah satu indikasi rencana tersebut dapat dilihat dari keputusan Otoritas Palestina yang mengumumkan akan menarik mundur pasukan keamanannya dari pelintasan perbatasan Rafah – satu-satunya jalur yang menghubungkan Gaza dan dunia luar melalui Mesir. Keyakinannya semakin menguat ketika Menteri Urusan Sipil Otoritas Palestina Hussein al-Syaikh berjanji sedang mempersiapkan langkah-langkah hukuman untuk memperketat blokade terhadap warga Gaza.

Mengutip Middle East Monitor, pernyataan Hussein itu dilontarkan setelah pertemuan Presiden Otoritas Palestina yang juga pimpinan kelompok Fatah Mahmoud Abbas dengan Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi di Kairo.

Agenda kunjungan Abbas ke Kairo memang bersifat seremonial, yakni peresmian masjid dan gereja di salah satu daerah pemekaran di Mesir. Akan tetapi, salah seorang anggota Komite Pusat Fatah, Dalal Salama, mengatakan pertemuan untuk membahas langkah konkret pengetatan blokade terhadap rakyat Palestina di Gaza akan diselenggarakan sepulangnya Abbas dari Kairo.

Tidak lama setelah Otoritas Palestina menarik mundur pasukannya dari perbatasan Rafah, Mesir juga mengumumkan bahwa pihaknya akan menutup akses keluar dari Gaza. Perbatasan tersebut hanya akan dibuka bagi warga Palestina yang hendak pulang ke Gaza dari luar negeri.

Sementara itu, stasiun berita Channel 20 TV memberitakan penjajah Zionis memutuskan untuk menangguhkan bantuan keuangan dari Qatar ke Gaza yang masuk melalui ‘Israel’. Media ‘Israel’ itu juga memberitakan, ‘Israel’ menggunakan dalih sebuah roket diduga telah diluncurkan dari Gaza ke wilayah Ashkelon untuk membenarkan penangguhan bantuan.

Direktur Global Network for Rights and Development, Lo’ay Deeb, mengatakan pihaknya menerima laporan dari sejumlah sumber yang menguatkan kekhawatiran Abu Marzook. Dari laporan itu dia menyimpulkan, skenario buruk yang belum pernah terjadi sebelumnya tengah dipersiapkan untuk warga Gaza.

Deeb menambahkan, laporan itu juga menyebut bahwa sejumlah negara Arab terlibat dalam suatu perjanjian yang salah satu poinnya adalah menyetujui definisi “Gaza” sebagai “wilayah pemberontak”. Tidak hanya negara-negara Arab yang menandatangani perjanjian itu, tapi juga ‘Israel’.

Langkah untuk memperketat blokade Gaza dinilai sebagai langkah politis Abbas untuk melemahkan Hamas. Sebagaimana diketahui, pada 2006 Hamas berhasil memenangkan pemilihan umum di Gaza dan mengusir Fatah dari wilayah tersebut setahun berikutnya.

Surat kabar Maariv mengutip seorang pejabat keamanan ‘Israel’ yang membeberkan, langkah-langkah hukuman yang lebih keras terhadap Gaza kemungkinan besar memengaruhi situasi keamanan di ‘Israel’ karena gerakan perlawanan Palestina (Hamas) menuduh penjajah Zionis berada di balik semua langkah tersebut dan akan merespons dengan menyerang target ‘Israel’.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu Zionis Tembak Mati Demonstran Wanita, Lukai 25 Lainnya di Perbatasan Gaza
Mahathir: Tak Ada Tempat Bagi Atlet ‘Israel’ di Malaysia »