Ribuan Muhajirin Suriah Terancam Mati Kedinginan di Kamp Pengungsi

14 January 2019, 17:16.
Kamp pengungsi Arsal di dekat perbatasan Suriah tertutup salju. Foto: Anadolu Agency/The Telegraph

Kamp pengungsi Arsal di dekat perbatasan Suriah. Foto: Anadolu Agency

LONDON, Senin (The Guardian): Sekitar 11.000 pengungsi anak-anak dan keluarga mereka menghadapi suhu dingin tanpa tempat berlindung, setelah hujan lebat di provinsi Idlib, Suriah, menyapu tenda-tenda dan barang-barang.

Para relawan memperingatkan adanya risiko nyata bahwa para pengungsi akan benar-benar mati kedinginan karena suhunya telah turun hingga -1C. Terlebih lagi, mereka kekurangan selimut dan bahan bakar pemanas.

Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mengungkapkan, tempat-tempat penampungan Muhajirin Suriah di dalam Lebanon juga telah dihantam angin kencang, hujan dan salju pekan lalu. Menurut lembaga PBB itu, 361 lokasi telah terkena dampaknya.

Kamp-kamp di kota perbatasan Arsal telah tertutup salju, sementara pemukiman di daerah Bekaa tengah dan barat, di mana telah terjadi banjir besar, mengalami kerusakan yang lebih parah.

Pada Kamis lalu, PBB mengonfirmasikan seorang bocah perempuan Suriah berusia delapan tahun meninggal dunia di Lebanon setelah tergelincir dan jatuh ke sungai saat badai.

Di Suriah barat laut, lembaga Save the Children mendistribusikan terpal plastik kepada keluarga-keluarga yang mengungsi. Caroline Anning, manajer advokasi dan komunikasi Save the Children di Suriah, mengatakan ada kasus bayi-bayi yang tewas kedinginan tahun lalu. Ia menambahkan, lebih banyak orang rentan mengalami hal serupa musim dingin ini.

“Jumlah orang yang pindah ke Idlib selama setahun terakhir sangat besar dan selalu ada risiko akan ada lebih banyak lagi yang mengungsi,” kata Anning. “Beberapa bulan lalu, kami melihat ada peningkatan kekerasan di selatan dan ribuan orang melarikan diri ke arah utara. Situasi ini sangat menegangkan.”

Terjadinya kekerasan antara kelompok-kelompok bersenjata telah menunda upaya bantuan darurat selama beberapa pekan terakhir, tambahnya.

Meskipun pertempuran mereda, banyak daerah tetap terputus akibat banjir bandang sehingga menghalangi keluarga-keluarga Muhajirin untuk mengakses fasilitas kesehatan dan memperlambat distribusi pasokan darurat. Pada Rabu lalu, seorang wanita yang akan menjalani persalinan dibawa keluar dari sebuah kamp dengan digotong enam orang karena tidak mungkin mengakses jalan, kata Anning.

Para relawan khawatir dengan penyebaran penyakit di kamp-kamp yang penuh sesak, dan telah menerima laporan tentang penyakit saluran pernapasan.

Menurut PBB, sekitar setengah dari 2,9 juta orang yang tinggal di Idlib dan daerah sekitarnya adalah pengungsi. Anak-anak, yang merupakan setengah dari mereka yang mengungsi, sering terpaksa pindah hingga tujuh kali dan sudah dalam kondisi kesehatan yang buruk.

Save the Children memperingatkan bahwa zona demiliterisasi yang dibentuk oleh Turki dan Rusia di sepanjang garis depan di Idlib harus sepenuhnya diterapkan. “Segalanya sangat rapuh, eskalasi atau pengungsian lagi hanya akan menimbulkan krisis kemanusiaan yang besar,” kata Anning.

UNHCR mengungkapkan, 70.000 pengungsi di Lebanon, termasuk hampir 40.000 anak-anak, menghadapi cuaca ekstrem. “Hujan sudah berhenti dan sekarang turun salju, tapi masih sangat dingin dan kemungkinan ada badai lagi,” ujar Lisa Abou Khaled, petugas informasi publik untuk UNHCR di Lebanon. “Kami khawatir bahwa badai yang akan datang dapat menyebabkan lebih banyak kerusakan, terutama di permukiman tenda informal di Bekaa dan di utara,” tambahnya.* (The Guardian | Sahabat Al-Aqsha)

Musim Dingin Garis Depan - Poster (27 Oktober 2018) - resize

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Gigitan Tikus Memperburuk Kondisi Pengungsi Palestina di Suriah
Gagal Temukan Makanan, Ibu Suriah yang Kelaparan Bakar Diri dan Ketiga Anaknya »