Inilah Taktik Baru Tentara Myanmar Usir Pengungsi Rohingya dari Tempat Penampungan

15 January 2019, 22:59.
Foto: Firat Yurdakul/Anadolu Agency

Foto: Firat Yurdakul/Anadolu Agency

DHAKA, Selasa (Anadolu Agency): Myanmar mendirikan bangunan beton di tanah tak bertuan di perbatasannya dengan daerah Ghumdhum, Bangladesh. Tindakan tersebut jelas mengabaikan kekhawatiran otoritas Bangladesh dan pengungsi Rohingya, serta pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional.

Bangunan itu akan menghalangi aliran kanal Tambru Khal di daerah itu, yang akan menyebabkan ancaman banjir dan lebih dari 5.000 pengungsi Rohingya –yang telah tinggal di tempat penampungan darurat itu sejak Agustus 2017– berisiko tersingkir.

Pemimpin Rohingya Dil Mohammad mengatakan pada Anadolu Agency bahwa itu adalah taktik baru tentara Myanmar untuk mengusir warga Rohingya yang tinggal di sana.

“Kami tinggal di sini dengan harapan bahwa situasi akan tenang dan kami akan mendapatkan kembali hak kewarganegaraan kami, serta kembali ke tempat kelahiran kami, Rakhine,” kata Mohammad.

Sejak awal, katanya, tentara Myanmar terus berusaha menimbulkan kepanikan di antara mereka agar mereka meninggalkan tempat itu.

Menurut surat kabar lokal Daily Star, wakil komisioner di Cox’s Bazar Bangladesh Kamal Ahmed telah mengirim surat kepada sekretaris kabinet pada Selasa lalu, yang menyatakan keprihatinan atas pekerjaan konstruksi dan kemungkinan konsekuensinya.

“Pemerintah Myanmar tidak dapat mendirikan bangunan apa pun di tanah tak bertuan itu. Jika bangunan itu dibangun maka warga Rohingya yang berada di tanah tak bertuan itu akan menderita karena seluruh wilayah akan tenggelam,” kata Ahmed kepada Daily Star.

Letnan Kolonel Monzurul Hasan Khan, komandan Batalyon 34 Penjaga Perbatasan Bangladesh, mengatakan pada Anadolu Agency bahwa ia secara pribadi telah mengunjungi tempat itu baru-baru ini dan tentara Myanmar telah memberitahunya tentang membangun pagar kawat berduri dan bukan bangunan beton.

“Pagar kawat berduri jenis ini juga dipasang di garis perbatasan lain antara Bangladesh dan Myanmar,” kata Khan, seraya menambahkan bahwa dia tidak mengetahui tentang konstruksi bangunan beton apa pun.

“Kami baru mengetahui tentang bangunan seperti itu melalui media, mari kita periksa masalah ini,” tambahnya.

Prof. Mahfuzur Rahman Akand dari Universitas Rajshahi mengatakan pada Anadolu Agency bahwa “sangat disayangkan bahwa Myanmar berusaha untuk merusak kehidupan para pengungsi Rohingya bahkan di luar (negara).”

Akand menegaskan, “Tidak ada negara yang dapat melakukan pekerjaan konstruksi di tanah tak bertuan tanpa perjanjian bilateral antara negara-negara yang bersangkutan.”* (Anadolu Agency | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« AGPS: Rezim Assad Siksa, Setrum dan Perkosa Tawanan Palestina
3 Tahun, Penjajah Zionis Raup 16 Juta Dolar dari Denda Warga Palestina di Tepi Barat »