Takut Dideportasi, 1.300 Muslim Rohingya Hengkang dari India ke Bangladesh

20 January 2019, 16:12.
Ketika sayap kanan Hindu menyerukan deportasi massal Muslim Rohingya, para aktivis meminta India menghormati prinsip “non-refoulement”. Foto: Al Jazeera

Ketika sayap kanan Hindu menyerukan deportasi massal Muslim Rohingya, para aktivis meminta India menghormati prinsip “non-refoulement”. Foto: Al Jazeera

NEW DELHI, Ahad (Al Jazeera): Sekitar 1.300 Muslim Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh dari India sejak awal tahun ini. Eksodus itu dipicu oleh kekhawatiran bahwa mereka akan dideportasi ke Myanmar. Hal ini diungkapkan oleh seorang pejabat pada Rabu lalu.

New Delhi menghadapi kritik tajam karena menyerahkan warga Rohingya ke Myanmar dalam beberapa bulan terakhir, ketika keselamatan anggota minoritas yang teraniaya itu terancam. Oleh karena itu, PBB dan kelompok-kelompok HAM menuduh India mengabaikan hukum internasional.

India, yang bukan penanda tangan Konvensi Pengungsi PBB, menangkap 230 Rohingya pada 2018 –jumlah tertinggi dalam beberapa tahun– ketika nasionalis Hindu menyerukan warga Rohingya dideportasi secara massal.

“Selama setahun terakhir, pemerintah India mempersulit hidup para pengungsi Rohingya di India”, kata Ravi Nair dari Pusat Dokumentasi Hak Asasi Manusia Asia Selatan (SAHRDC), kepada Al Jazeera.

Nair menyatakan India harus menghormati prinsip non-refoulement – praktik tidak memaksa pengungsi atau pencari suaka untuk kembali ke negara di mana mereka dapat mengalami persekusi.

Ia mengatakan bahwa warga Rohingya di India menjadi sasaran “kunjungan rutin petugas intelijen setempat, ini termasuk pelecehan terhadap dokumen mereka.

“Sejumlah besar warga Rohingya, data kami menunjukkan lebih dari 200, dari Jammu ke Tripura, Assam dan negara-negara Benggala Barat telah ditangkap dan dipenjara,” ujarnya.

Penangkapandi India dan takut akan deportasi ke Myanmar telah mendorong lebih banyak warga Rohingya yang tidak memiliki kewarganegaraan ke Bangladesh, tempat sejuta orang telah tinggal di kamp-kamp pengungsi di tenggara negara itu.

Pendatang baru bertambah

Nayana Bose, juru bicara Kelompok Koordinasi Antar Sektor (ISCG), yang mencakup badan-badan PBB dan organisasi kemanusiaan asing lainnya, mengatakan laju kedatangan pengungsi baru ke Bangladesh telah meningkat sejak 3 Januari.

“Sekitar 1.300 orang dari 300 keluarga telah tiba dari India ke Bangladesh,” katanya kepada kantor berita AFP.

Juru bicara UNHCR Firas Al-Khateeb menyatakan pihaknya “mengetahui situasi tersebut”.

Mereka yang melintasi perbatasan dalam beberapa pekan terakhir telah ditangkap oleh polisi dan dikirim ke Cox’s Bazar, sebuah distrik di bagian selatan yang menjadi rumah bagi kamp-kamp pengungsi terbesar di dunia itu.

Sekitar 40.000 warga Rohingya diyakini telah berlindung di India selama bertahun-tahun. Hal itu diperkuat pernyataan kepolisian Bangladesh bahwa mereka yang tiba di perbatasan sudah lama tinggal di India.

Hukum kemanusiaan

Warga Rohingya selama puluhan tahun menghadapi persekusi di Myanmar, yang menolak untuk mengakui mereka sebagai warga negara dan dengan keliru menyebut mereka sebagai imigran ilegal “Bengali”.

Mereka terkonsentrasi di negara bagian Rakhine, pusat serangan brutal tentara Myanmar pada Agustus 2017 yang oleh penyelidik PBB digambarkan sebagai genosida.

Sekitar 720.000 warga Rohingya melarikan diri dari pembantaian berdarah dan memasuki Bangladesh untuk bergabung dengan sekitar 300.000 Rohingya yang sudah tinggal di kamp-kamp di sana.

Amnesty International, di antara kelompok-kelompok HAM lainnya, telah mengecam India karena secara paksa memulangkan warga Rohingya ke Myanmar ketika persekusi di Rakhine sedang berlangsung.

Oxford Human Rights Hub mengatakan, India dan Mahkamah Agungnya “melanggar beberapa kewajiban hak asasi manusia internasional” ketika memutuskan untuk mendeportasi para pencari suaka Rohingya pada Oktober 2018.

Menurut lembaga itu, “Di tengah meningkatnya gelombang nasionalisme Hindu, keputusan ini menimbulkan kekhawatiran.”

Meskipun sebagian besar pengungsi Rohingya berbasis di Bangladesh, puluhan ribu dari mereka juga berlindung di negara-negara lain.* (Al Jazeera | Sahabat Al-Aqsha)

Kamp pengungsi Rohingya di distrik Cox’s Bazar adalah salah satu yang terbesar di dunia. Foto: Malavika Vyawahare/Al Jazeera

Kamp pengungsi Rohingya di distrik Cox’s Bazar adalah salah satu yang terbesar di dunia. Foto: Malavika Vyawahare/Al Jazeera

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Tingkat Kemiskinan di Gaza Lampaui 80 Persen
Pria Palestina Ini Tolak Tawaran 100 Juta Dolar dari ‘Israel’ Agar Jual Rumahnya di Al-Khalil »