Bantuan Qatar Tertahan, Rumah Sakit Anak di Gaza dalam Krisis

20 January 2019, 21:51.
Foto: Reuters

Foto: Reuters

JALUR GAZA, Ahad (Middle East Eye): Juru bicara Kementerian Kesehatan di Gaza Ashraf al-Qedra mengatakan, sejumlah rumah sakit di wilayah terblokade itu berada dalam situasi yang sangat buruk dikarenakan persediaan stok bahan bakar habis.

Perlu diketahui, rumah sakit dan fasilitas publik di Gaza beroperasi menggunakan mesin disel yang membutuhkan bahan bakar. Hal ini dikarenakan penjajah Zionis ‘Israel’ mengontrol suplai listrik sehingga warga Gaza perlu mencari alternatif energi.

“Ratusan pasien di berbagai rumah sakit di Gaza menghadapi kondisi tidak menentu yang disebabkan krisis bahan bakar yang membuat mesin disel elektrik tak bisa menyala,” kata al-Qedra, kemarin (19/1).

Menurutnya, yang lebih memprihatinkan, sejumlah rumah sakit anak-anak ikut terdampak akibat krisis tersebut. Beberapa di antaranya adalah RS An-Nasr, RS Al-Rantisi, RS Abu Yusif Al Najjar.

Pada Kamis lalu, kementerian terkait juga telah mengumumkan, RS Beit Hanoun yang terletak di sebelah utara perbatasan Gaza bahkan telah berhenti memberikan pelayanan kepada pasien.

Lebih lanjut al-Qedra menjelaskan, dampak dari berhenti beroperasinya Beit Hanoun sangat buruk bagi pasien.

“Ketika layanan vital terhenti, ada sekitar 340.000 orang yang dirampas haknya untuk mendapatkan perawatan, tindakan operasi, layanan laboratorium, dan kerja di unit gawat darurat pun terganggu,” jelasnya.

Bantuan Qatar tertahan

Middle East Eye memberitakan, krisis bahan bakar di Gaza bukannya muncul begitu saja. Pada 2017, Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas menarik bantuan untuk warga Gaza sebagai upaya untuk menekan Hamas.

Sebagaimana diketahui, Hamas, kelompok perlawanan Islam yang mengontrol wilayah Gaza merupakan seteru partai yang dipimpin Abbas, Fatah. Kedua kelompok tersebut berada dalam ketegangan sejak 2007 dan belum betul-betul mereda hingga saat ini.

Embargo yang dijatuhkan Abbas terhadap Gaza berdampak pada aktivitas warga dan layanan publik. Sejumlah infrastruktur dan berbagai kebutuhan hidup sehari-hari menjadi tersendat dikarenakan warga Gaza hanya mendapat 50% suplai listrik dari yang seharusnya diperoleh.

Dengan begitu, opsi yang tersedia untuk membuat layanan publik seperti rumah sakit tetap beroperasi hanya melalui donasi internasional yang nantinya akan digunakan untuk menjalankan generator.

Selama ini, Qatar menjadi negara yang selalu mengulurkan bantuannya untuk operasional penduduk Gaza, termasuk menggaji pegawai publik dengan nilai sekitar $15 juta untuk enam bulan masa kerja.

Akan tetapi, pilihan itu pun kini tidak tersedia. Dalam beberapa pekan terakhir, ‘Israel’ menolak memberikan izin distribusi bantuan Qatar ke Gaza. Situasi yang sulit bagi negara-negara pendonor dan penduduk Gaza karena bantuan internasional perlu melewati izin pihak penjajah Zionis.

Pegawai yang dipekerjakan oleh Hamas pun bekerja tanpa digaji dan membuat situasi di perbatasan Gaza makin tidak stabil.* (Middle East Eye | Sahabat Al-Aqsha)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pria Palestina Ini Tolak Tawaran 100 Juta Dolar dari ‘Israel’ Agar Jual Rumahnya di Al-Khalil
Siapa yang Bertanggung Jawab atas Kematian Anak-anak Muhajirin Suriah di Kamp Rukban? »