Siapa yang Bertanggung Jawab atas Kematian Anak-anak Muhajirin Suriah di Kamp Rukban?

22 January 2019, 15:16.
Tragedi karena ulah manusia di kamp yang dihuni sekitar 50.000 orang ini telah menewaskan delapan anak pada musim dingin ini. Foto: Al Jazeera

Tragedi karena ulah manusia di kamp yang dihuni sekitar 50.000 orang ini telah menewaskan delapan anak pada musim dingin ini. Foto: Al Jazeera

BEIRUT, Selasa (Al Jazeera): Tidak ada pemanas untuk menghangatkan tenda. Tidak ada uang untuk membeli obat yang mungkin bisa menyelamatkan putrinya. Bahkan tidak ada cukup ASI di payudara sang ibu –yang menderita malnutrisi– untuk memberi makan putrinya. Tidak ada apa pun selain kesengsaraan di kamp ini.

Begitulah Abdul Karim menggambarkan kematian putrinya yang berusia dua bulan, Khadija, kepada temannya Abdul Fattah Basleh di kamp pengungsi Rukban di Suriah selatan, sebuah kamp yang dihuni sekitar 50.000 Muhajirin.

Khadija adalah satu dari setidaknya delapan anak yang tewas di kamp tersebut musim dingin ini. Lembaga anak-anak PBB, UNICEF, yang telah meminta izin untuk mengirim bantuan, menyebut kematian itu sebagai tragedi akibat “ulah manusia”.

“Kehidupan bayi-bayi terus dipersingkat oleh kondisi kesehatan yang dapat dicegah atau diobati,” kata Geert Cappelaere, direktur regional UNICEF untuk Timur Tengah.

Ia mengatakan bahwa “lebih banyak anak akan meninggal dunia, hari demi hari” di Rukban dan daerah-daerah sekitarnya, kecuali mereka disediakan tempat penampungan yang lebih aman dan pelayanan kesehatan yang memadai.

Kamp Rukban terletak di sebuah zona demiliterisasi antara dua negara, tempat puluhan ribu orang melarikan diri akibat perang yang memporak-porandakan kehidupan di Suriah. Muhajirin terkatung-katung di sana karena dilarang memasuki Yordania.

Muhajirin Suriah telah tinggal di Rukban selama bertahun-tahun. Lembaga PBB yang mengurusi pengungsi memperkirakan bahwa 80 persen orang yang ada di kamp ini adalah wanita dan anak-anak.

Yordania menutup pintu (perbatasan) dan menghentikan aliran bantuan pada tahun 2016 karena mencurigai kamp itu menjadi tempat persembunyian kelompok bersenjata ISIL (yang juga dikenal dengan ISIS), dan hanya memasok air.

Kamp Rukban berada di daerah yang dikendalikan oleh pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat yang ditempatkan di pangkalan Tanf dekat kamp. Akan tetapi, mereka hanya ada di sana untuk menghapus sisa-sisa ISIL dari persembunyian terakhir mereka di daerah itu dan untuk menahan pengaruh Iran atas Suriah.

Sedangkan pemerintah Suriah berjaga di luar zona keamanan 55 km yang disepakati antara Rusia dan AS, untuk menghindari konfrontasi dengan tentara Amerika.

Pemerintah Suriah secara sistematis menggunakan kurangnya kebutuhan dasar di daerah-daerah yang dikepung untuk memaksa warga agar menyerah pada pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Karim bahkan tidak mempertimbangkan untuk menyeberang ke wilayah yang dikuasai pemerintah –yang memiliki makanan, obat-obatan dan dokter– karena takut mereka mencurigainya sebagai pendukung “teroris”, kemudian menangkapnya. Ketakutan yang lazim dirasakan Muhajirin.

Karim memang ingin membawa bayi Khadija ke pusat medis di Yordania, “tapi ia tidak bisa”, kata temannya Basleh, “karena mereka tidak mengizinkan kami”.

Yordania menutup perbatasan, tapi kadang-kadang mengizinkan masuk pasien yang membutuhkan perawatan kesehatan segera.

Khadija meninggal dunia karena demam tinggi dan radang, bahkan sebelum dia bisa dibawa ke sana.

Kondisi di kamp, kata warga lainnya, sungguh tidak layak huni.

Bantuan PBB tak cukup

Wissam Khaled* (*nama diubah untuk melindungi narasumber) melarikan diri dari Palmyra ketika perang semakin intensif di kotanya. Dia mengatakan bahwa sejumlah bantuan terakhir dari PBB datang pada bulan November setelah terhenti berbulan-bulan dan hampir tidak cukup untuk dua minggu.

Orang-orang, katanya, mengandalkan penyelundup di daerah-daerah yang dikontrol pemerintah yang menjual segala sesuatu dengan harga selangit. “Makanan, obat-obatan, semua datang hanya dari para penyelundup dan harganya sangat mahal,” katanya. “Orang tidak mampu membelinya, mereka tidak punya uang karena tidak ada pekerjaan di sini.”

Mohammed al-Sharkh, suami Sundus Fatahallah (28), menyesali ketidakmampuannya untuk memperbaiki kompor.

Suatu pagi, beberapa hari yang lalu, ketika istrinya membuat sarapan, katanya, minyak tanah tumpah dan membakarnya, juga menyebabkan luka bakar ringan pada anak-anak.

“Dia telah meminta saya untuk memperbaikinya,” katanya, “Akan tetapi, saya tidak bisa karena saya tidak punya cukup uang.”

Warga Suriah di Rukban sangat kecewa dengan AS karena tidak membantu, padahal hanya berjarak 16 km dari kamp.

“Amerika belum mengirim apa pun, tidak pula dokter,” kata Wissam. “Di sini hanya ada beberapa perawat, tapi mereka tidak tahu banyak dan obat-obatan sangat terbatas.”

Bassam Barabandi, seorang mantan diplomat Suriah yang sekarang menjalankan sebuah kelompok aktivis di AS, mengatakan para perawat diberikan beberapa “pelatihan medis dasar” oleh AS, namun AS menolak untuk berbuat lebih banyak.

“Tentara Amerika selalu mengatakan mandat mereka hanya untuk memerangi ISIS,” katanya. “Mereka mengatakan tidak memiliki mandat kemanusiaan dan tidak ingin terlibat masalah ini.”

Arun Lund, seorang pengamat dari Century Foundation, mengatakan AS adalah “kekuatan penjajah de facto” di lapangan, namun AS menahan diri untuk tidak memikul tanggung jawab.

Kamp tersebut dikendalikan oleh beberapa kelompok, termasuk Maghawir al-Thawra yang berafiliasi dengan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) yang didukung Pentagon. Anggota ISIL juga diyakini bersembunyi di kamp.

Elizabeth Tsurkov, seorang aktivis dan peneliti di wadah pemikir (think-tank) ‘Israel’, Forum for Regional Thinking, mengatakan bahwa AS telah gagal memanfaatkan posisinya dengan Yordania, yang dapat dengan mudah memasok bantuan ke Rukban. “AS, yang memiliki pasukan yang ditempatkan di daerah itu, tampaknya tidak dapat memaksa sekutunya, Yordania, untuk memberi penghuni kamp di Rukban bantuan yang sangat dibutuhkan,” katanya.

Sekarang ini anak-anak Rukban menghadapi ancaman yang sangat berbahaya; suhu ekstrem dan tidak adanya bantuan.

“Sejarah akan menghakimi kita atas kematian yang sepenuhnya bisa dihindari ini,” pungkas Cappelaere.* (Al Jazeera | Sahabat Al-Aqsha)

Foto: Al Jazeera

Foto: Al Jazeera

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Bantuan Qatar Tertahan, Rumah Sakit Anak di Gaza dalam Krisis
Blogger ‘Israel’ Kembali Bikin Ulah Kontroversial »