Krisis Berlanjut, Perdagangan Manusia di Kamp Pengungsi Rohingya Semakin Marak

10 February 2019, 22:01.
Seorang pengungsi muda Rohingya berjalan pulang ke rumah di kamp pengungsi Balukhali, Ukhia, 4 Februari 2019. Foto: Daily Sabah

Seorang bocah pengungsi Rohingya berjalan pulang ke rumah di kamp pengungsi Balukhali, Ukhia, 4 Februari 2019. Foto: Daily Sabah

ISTANBUL, Ahad (Daily Sabah): Risiko menjadi korban perdagangan manusia di kamp-kamp Rohingya baru-baru ini meningkat karena banyak pengungsi Rohingya yang putus asa mencari jalan keluar dari memburuknya kondisi kemanusiaan.

Pemerintah Bangladesh belum merilis angka resmi jumlah warga Rohingya yang telah diperdagangkan, tapi lembaga-lembaga bantuan telah mengemukakan berbagai angka yang menyoroti beratnya masalah ini.

Jishu Barua, koordinator program Young Power in Social Action, sebuah kelompok nirlaba yang berurusan dengan perdagangan manusia, mengatakan analisis dari surat kabar lokal menunjukkan sedikitnya 200 warga Rohingya telah diselamatkan (dari perdagangan manusia) dalam tiga bulan terakhir. “Jumlahnya meningkat. Kami memberi tahu semua orang di kamp agar lebih berhati-hati. Kami meningkatkan kesadaran melalui berbagai cara, antara lain pengarahan singkat di halaman rumah,” kata Barua kepada Thomson Reuters Foundation.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB sejauh ini telah mengidentifikasi sekitar 204 kasus perdagangan manusia. “Akan tetapi, ini hanya sebagian kecil dari apa yang kami yakini sedang terjadi,” ungkap juru bicara IOM Fiona MacGregor, seraya menambahkan bahwa gadis-gadis muda sangat rentan diambil sebagai pekerja rumah tangga.

Kelompok-kelompok anti-perdagangan manusia takut rute perdagangan manusia ke Asia Tenggara melalui Teluk Bengal, yang menjadi aktif sekitar tahun 2010, sekarang digunakan untuk menyelundupkan pengungsi Rohingya yang semakin putus asa keluar dari Bangladesh. November lalu, lembaga-lembaga penegakan hukum menyelamatkan 57 pengungsi Rohingya dari kapal menuju Malaysia pada tiga kesempatan berbeda.

Dulu, pelaku perdagangan manusia mengelabui ratusan orang yang ingin pergi ke Malaysia dan menjebak mereka di kamp-kamp di daerah perbatasan Thailand dan Malaysia, menyiksa mereka sampai keluarga mereka setuju untuk membayar hingga 1.800 dolar – jumlah uang yang sangat besar bagi para migran miskin. Ini terungkap pada tahun 2015 melalui penemuan sejumlah kuburan massal yang diyakini berisi jasad warga Rohingya dan migran Bangladesh.

“Perdagangan manusia ada di masa lalu dan juga hari ini,” kata Shamimul Huq Pavel, seorang pejabat pemerintah di Komisi Pengungsi, Bantuan dan Repatriasi (RRRC), sebuah organisasi pemerintah yang dibentuk untuk menangani krisis Rohingya. “Kami berusaha memperbaiki situasi di kamp-kamp di sini.”

Dengan meningkatnya perdagangan manusia, para penegak hukum Bangladesh juga telah meningkatkan kegiatan untuk memberantas perdagangan manusia, seperti halnya Malaysia, yang mengumumkan bulan lalu bahwa mereka akan mengadakan penyelidikan resmi untuk menyelidiki kamp-kamp perdagangan manusia di daerah-daerah perbatasan.* (Daily Sabah | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Aktivis Internasional Berupaya Seret Pemerintah Myanmar ke ICC
Meski Idlib Adalah Zona De-Eskalasi, Rezim Assad Terus Bunuh Warga Sipil »