Meski Idlib Adalah Zona De-Eskalasi, Rezim Assad Terus Bunuh Warga Sipil

11 February 2019, 19:26.
Pemerintah Suriah terus melancarkan serangan, meskipun Idlib Selatan ditetapkan sebagai zona “de-eskalasi”. Foto: Middle East Eye/Mohammed Krkas

Pemerintah Suriah terus melancarkan serangan, meskipun Idlib Selatan ditetapkan sebagai zona “de-eskalasi”. Foto: Middle East Eye/Mohammed Krkas

LONDON, Senin (Middle East Eye): Warga sipil di Suriah utara terus menderita karena pasukan pemerintah meningkatkan operasi pengeboman mereka di daerah-daerah yang dikuasai oposisi menjelang pembicaraan damai di kota Sochi, Rusia, akhir bulan ini.

Meningkatnya serangan artileri terhadap kota-kota dan desa-desa oleh pasukan pemerintah di seluruh Idlib selatan – kendati ditetapkan sebagai “zona de-eskalasi” – telah memaksa warga Suriah untuk meninggalkan rumah mereka. Ribuan orang diperkirakan mengungsi dalam kondisi musim dingin ekstrem yang semakin memperparah kondisi mereka. Bulan lalu, PBB mengatakan kondisi musim dingin ekstrem telah menewaskan sekitar 30 anak.

Jumaa Darbasi, pria penjual buku berusia 41 tahun dari Homs, mengatakan ia terpaksa melarikan diri bersama keluarganya setelah pasukan pemerintah semakin mendekat ke desanya.

“Pada tahun-tahun awal perang, kami bisa bermigrasi ke pedesaan dan melarikan diri dari bom,” kata Darbasi, yang telah mengungsi beberapa kali karena perang.

“Akan tetapi, setelah Assad mengambil alih lebih banyak wilayah, itu membuat semakin banyak orang mengungsi, dan membuat segalanya lebih sulit bagi semua orang.

“Tidak ada tempat lain untuk pergi. Tempat-tempat perlindungan tidak mudah ditemukan di dekat perbatasan, dan kami tidak mampu bergerak lagi. Saya lebih suka tinggal dan berdoa kepada Allah agar ini berakhir.”

Lembaga yang berbasis di Britania Raya, Syrian Observatory for Human Rights mengatakan pasukan pemerintah di Suriah utara telah menewaskan sedikitnya 68 warga sipil sejak pertemuan terakhir Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Awal bulan ini, dewan revolusioner lokal di Jarjanaz dan al-Teh di Idlib selatan menetapkan desa-desa itu “zona bencana” setelah meningkatnya serangan pemerintah Suriah.

Said Khaled Alaa-Deen, yang merupakan bagian dari dewan revolusioner lokal di Jarjanaz, menyatakan bahwa serangan terhadap desanya berlanjut sebelum dan setelah proses Sochi dimulai di Rusia.

“Tidak ada gencatan senjata di Idlib, dan tidak ada yang berubah karena Sochi,” kata Alaa-Deen kepada MEE.

“Dalam beberapa hari terakhir, kami telah menyaksikan setidaknya 100 rudal mendarat di desa kami dan memaksa hampir 90 persen populasi lokal mengungsi.”

Lembaga-lembaga bantuan telah memperingatkan tentang krisis kemanusiaan yang akan segera terjadi di Idlib karena pasokan hampir habis.

Rusia akan menjadi tuan rumah bagi para pejabat Iran dan Turki akhir bulan ini untuk membahas perang sipil, dan zona de-eskalasi yang telah ditetapkan.

Ahmad Rahal, seorang pengamat militer dan mantan kolonel di Free Syrian Army (FSA), mengatakan pada MEE bahwa meskipun pertempuran oleh pasukan pemerintah meningkat, ia mengharapkan Rusia dan Turki menjaga perdamaian di Idlib.

“Iran berusaha membuat kelompok-kelompok oposisi berperang di Idlib selatan, tapi Turki telah berhasil menghentikan para pemberontak bermain dalam permainan perang Iran,” kata Rahal.

“Rusia dan Turki kemungkinan besar akan melakukan operasi bersama untuk menyingkirkan faksi ekstremis yang berafiliasi dengan Al-Qaeda.

“Akan tetapi, kita tahu bahwa rezim Assad dan Iran tidak senang dengan kerja sama Rusia-Turki dan tidak akan berhenti sampai mereka merebut kembali Idlib.”* (Middle East Eye | Sahabat Al-Aqsha)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Krisis Berlanjut, Perdagangan Manusia di Kamp Pengungsi Rohingya Semakin Marak
Aktivis Gelar Kampanye untuk Lindungi Warga Al-Khalil dari Serangan Pemukim Ilegal Yahudi »