Hassan Shalabi: ‘Jangan Menangisiku, Aku Berada di Tempat yang Lebih Baik’

13 February 2019, 12:12.
Foto: PIC

Foto: PIC

GAZA, Rabu (PIC): Kemurnian jiwa anak-anak dan rasa tanggung jawab sebagai laki-laki memotivasi Hassan Iyad Shalabi, yang baru berusia 14 tahun, mencari pekerjaan di lembaga-lembaga di Gaza untuk membantu keluarga besarnya setelah Otoritas Palestina memotong tunjangan sosial mereka. Akhirnya, ia syahid dan tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Shalabi syahid setelah penembak jitu (sniper) Zionis ‘Israel’ menembakkan peluru tajam ke jantungnya saat berpartisipasi dalam demonstrasi “Great March of Return” dan “Breaking the Siege” di timur Khan Younis pekan lalu.

Setelah kematiannya, para wartawan dan aktivis menyebarkan video mengharukan tentang asy-syahid Hassan. Video menunjukkan adik perempuan Hassan menangis, ketika dia terbaring di kamar mayat di Khan Younis, memintanya untuk bangun dan tidak berbaring selamanya, adiknya berjanji “tidak akan pernah membuatnya sedih.”

Akan tetapi, yang paling mengharukan adalah video ketika Hassan berada di sebuah lembaga untuk mencari pekerjaan demi membantu menghidupi keluarganya yang berjumlah delapan, setelah tunjangan ayahnya dipotong oleh Otoritas Palestina.

Asy-syahid Hassan mengungkapkan aspek-aspek kondisi menyedihkan keluarga yang tinggal di kota Hamad, Khan Younis, itu setelah tunjangan sosial keluarganya terampas, yang hampir tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

Adik perempuan Hassan mengungkapkan bahwa mereka sering hanya memakan roti dengan garam atau roti kering dengan teh karena mereka tidak punya uang untuk membeli makanan yang lain.

Dengan suara bergetar, adik perempuan Hassan mengatakan: “Ibuku ingin memasak lentil (sejenis kacang lunak), tapi Hassan meninggalkan rumah sebelum makan. Dia pergi untuk ikut berunjuk rasa dan kembali kepada kami sebagai syahid.”

Tanggung jawab pada keluarga

Rasa tanggung jawab sebagai lelaki mendorong Hassan bertindak dengan cara yang berbeda untuk mencari peluang kerja demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Dia mendatangi sejumlah lembaga, restoran dan toko untuk mencari pekerjaan, namun tidak berhasil.

Di hari-hari terakhirnya, Hassan merasa hidupnya akan segera berakhir; ia memberitahu adik perempuannya, Asil, yang paling dekat dengannya: “Aku mencintaimu, aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi, mungkin aku akan mati syahid. Jika itu terjadi, jangan menangisiku, aku akan berada di tempat yang lebih baik,” katanya kepada sang adik.

Ibunda Hassan, menerima berita tentang kesyahidannya dengan sikap ridha dan sabar: “Alhamdulillah. Innalillahi wa inna ilayhi raaji’uun,” katanya, sambil terus mempertanyakan alasan yang membuat penembak jitu ‘Israel’ membunuh putranya.

Ayahanda Hassan mengklarifikasi mengenai apa yang terjadi pada keluarga karena Otoritas Palestina, ia mengatakan: “Saya bukan karyawan Otoritas Palestina, tapi saya dulu menerima tunjangan dari departemen urusan sosial, dan itu terputus.”

Sang ayah, yang kehilangan anaknya, menambahkan: ”Hassan sangat pintar. Dia dulu belajar di Sekolah Hamad kelas 8. Penembak jitu ‘Israel’ menembaknya tanpa alasan atau sebab apa pun.”* (PIC | Sahabat Al-Aqsha)

Foto: PIC

Foto: PIC

Foto: PIC

Foto: PIC

Foto: PIC

Foto: PIC

Foto: PIC

Foto: PIC

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pemukim Ilegal Yahudi Kembali Serang Sekolah Palestina di Nablus
Serdadu Zionis Culik Imam Masjidil Aqsha »