Anggota Misi Pencari Fakta PBB: ‘Anak-anak Rohingya Dilemparkan ke Dalam Api’

14 February 2019, 09:33.
Foto: Anadolu Agency

Foto: Anadolu Agency

NEW YORK, Kamis (Anadolu Agency): Seorang anggota misi pencari fakta PBB di Myanmar membeberkan laporan mengerikan tentang kekerasan terhadap Muslim Rohingya.

“Pertama, pembunuhan terhadap para pemuda. Kedua, kekerasan seksual yang mengerikan terhadap para wanita dan gadis terutama di rumah-rumah besar dan pusat-pusat penahanan. Ada pula kekejaman terhadap anak-anak dengan memisahkan mereka dari orang tua mereka. Kadang-kadang anak-anak itu dilemparkan ke dalam api,” kata Radhika Coomaraswamy kepada Anadolu Agency dalam sebuah wawancara.

Laporan PBB yang dirilis pada September 2018 mendokumentasikan pelanggaran serius terhadap Muslim Rohingya serta terhadap minoritas lainnya termasuk genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.

“Kami telah mengidentifikasi enam jenderal yang akan diselidiki terkait genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang,” kata Coomaraswamy kepada Anadolu Agency.

“Apa yang terjadi sekarang di negara bagian Rakhine, tampaknya ada operasi militer baru dan kami benar-benar khawatir karena telah terjadi peningkatan jumlah pengungsi sekarang setelah satu tahun,” kata Coomaraswamy.

Coomaraswamy mengatakan, kondisi di kamp-kamp pengungsi sangat buruk terlepas dari bantuan internasional.

“Tidak ada pendidikan. Mereka tidak memiliki pekerjaan. Mereka tidak dapat menemukan pekerjaan karena mereka tidak dapat keluar dari Cox’s Bazar sehingga mereka hanya duduk di sana sepanjang hari tanpa melakukan apa pun dalam situasi yang cukup menyedihkan. Siapa yang dapat memiliki masa depan seperti itu?” tambahnya.

Menurut laporan Ontario International Development Agency (OIDA), sejak 25 Agustus 2017 hampir 24.000 Muslim Rohingya tewas oleh pasukan negara Myanmar.

Lebih dari 34.000 Rohingya juga dilemparkan ke dalam api, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, ungkap OIDA dalam laporan berjudul “Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terungkap.”

Sekitar 18.000 wanita dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar, serta lebih dari 115.000 rumah warga Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak, jelas laporan tersebut.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya –sebagian besar anak-anak dan wanita– melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke negara tetangga Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan penumpasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.

PBB juga mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak-anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan negara Myanmar. Dalam laporannya, para penyelidik PBB mengatakan pelanggaran semacam itu dapat dikategorikan kejahatan terhadap kemanusiaan.* (Anadolu Agency | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Serdadu Zionis Culik Imam Masjidil Aqsha
Pengadilan ‘Israel’ Vonis Imam Masjidil Aqsha Jadi Tahanan Rumah »