Hanya Karena Telepon Kerabat di Idlib, Rezim Suriah Tangkap Ibu dan Empat Putrinya

4 April 2019, 17:25.
Para petugas berada di lokasi setelah serangan bom beruntun dengan dua kendaraan bermuatan bom di pusat kota Idlib, Suriah, pada 18 Februari 2019. Foto: Ahmet Rehhal/Anadolu Agency

Paramedis berada di lokasi setelah serangan bom beruntun dengan dua kendaraan bermuatan bom di pusat kota Idlib, Suriah, pada 18 Februari 2019. Foto: Ahmet Rehhal/Anadolu Agency

LONDON, Kamis (Middle East Monitor): Pemerintah Suriah menangkap seorang wanita dan empat putrinya karena menelepon anggota keluarga yang mengungsi ke benteng pertahanan oposisi di bagian utara Idlib.

Menurut Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), penduduk setempat memberi tahu para wartawan bahwa intelijen militer menangkap keluarga itu di kampung halaman mereka di Al-Rahiba, di provinsi Qalamoun, timur laut Damaskus pekan lalu.

Menurut sejumlah informan intelijen, alasan penangkapan adalah karena mereka melakukan kontak dengan kerabat yang mengungsi dari Qalamoun ke Idlib akibat kekerasan yang terus berlangsung.

Para informan itu lebih lanjut menuding pasukan Rusia, yang telah dikerahkan di kota tersebut, memasang perangkat penyadapan telepon untuk memantau komunikasi warga dengan aktivis oposisi.

Wilayah Qalamoun direbut kembali oleh pasukan rezim Suriah dan pasukan oposisi mundur ke utara, serta Daesh diusir ke timur Sungai Efrat.

Operasi penangkapan sewenang-wenang dalam beberapa bulan terakhir dilakukan di daerah-daerah yang direbut kembali oleh Damaskus. Hal itu dilakukan rezim untuk menghalangi dukungan bagi kelompok-kelompok oposisi di utara dan mengonsolidasikan kontrol atas daerah-daerah yang pernah menuntut pemecatan Presiden Suriah Bashar Al-Assad.

Penggerebekan dan penahanan menjadi semakin lazim di Ghouta Timur, Homs dan Daraa. Anggota unit pertahanan sipil White Helmets juga ditangkap, meskipun tindakan tersebut melanggar syarat-syarat perjanjian rekonsiliasi.

Rasa takut akan aksi balas dendam dari pemerintah adalah salah satu faktor paling signifikan yang menghalangi kembalinya Muhajirin, meskipun pemerintah menyatakan Suriah sekarang aman dan menyerukan Muhajirin untuk kembali dari negara-negara tetangga.

Tahun lalu seorang menteri pemerintah Lebanon mengklaim bahwa 20 Muhajirin yang kembali dari Lebanon dibunuh oleh rezim Assad. Pembunuhan itu dimotivasi oleh sektarianisme dan tuduhan bahwa mereka mendukung faksi utara. Laporan lain menunjukkan bahwa otoritas Suriah menolak kembalinya keluarga-keluarga Sunni ke Qalamoun, Al-Qusayr dan daerah pedesaannya.

Pada Februari, lembaga non-pemerintah Lebanon Sawa for Development and Aid menyatakan bahwa Muhajirin Suriah yang melakukan perjalanan pulang ke rumah melarikan diri kembali ke Lebanon setelah menemukan rumah mereka dihancurkan atau ditempati oleh orang lain.

Perang di Suriah, yang sekarang mendekati tahun kesembilan, telah menewaskan lebih dari 560.000 orang.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Banjir di Suriah Utara Hancurkan Kamp yang Tampung 40.000 Muhajirin
Aryeh Eldad: ‘Israel’ Ada di Balik Kudeta terhadap Mursi »