HRW: Bangladesh Harus Berhenti Usir Pelajar Rohingya

4 April 2019, 23:04.
Sumber: Anadolu Agency

Sumber: Anadolu Agency

DHAKA, Kamis (Anadolu Agency): Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat pada Selasa (2/4) meminta pemerintah Bangladesh untuk menghentikan pengusiran para pelajar pengungsi Rohingya dari sekolah.

Pemerintah Bangladesh telah mengusir sejumlah anak pengungsi Rohingya dari sekolah-sekolah di Bangladesh tenggara sejak akhir Januari 2019, ungkap Human Rights Watch dalam sebuah pernyataan tertulis.

Pejabat negara itu telah memerintahkan sekolah menengah di dekat permukiman pengungsi di distrik Cox’s Bazar untuk memberhentikan para pelajar Rohingya, yang tidak memiliki kewarganegaraan Bangladesh, ungkap HRW seraya menekankan bahwa Bangladesh harus memastikan pendidikan formal untuk semua anak.

“Kebijakan pemerintah Bangladesh untuk melacak dan mengusir para pelajar pengungsi Rohingya alih-alih memastikan hak mereka atas pendidikan adalah keliru, tragis, dan melanggar hukum,” kata Bill Van Esveld, peneliti senior hak anak-anak di Human Rights Watch.

“Pendidikan adalah hak dasar manusia. Solusi bagi anak-anak yang merasa harus memalsukan identitas mereka agar bersekolah di sekolah menengah bukanlah mengeluarkan mereka, tapi membiarkan mereka mendapatkan pendidikan yang layak mereka dapatkan,” tambah Esveld.

HRW menyatakan telah mewawancarai 13 pelajar pengungsi Rohingya, yang semuanya mengatakan bahwa otoritas sekolah membacakan surat pemberitahuan yang dikeluarkan pemerintah yang memerintahkan pengusiran mereka.

“Selama anak-anak pengungsi Rohingya tidak dapat memperoleh pendidikan formal di kamp-kamp, Bangladesh harus mengizinkan mereka untuk mendaftar di sekolah-sekolah lokal,” kata Van Esveld. “Pemerintah harus berhenti merintangi hak pelajar Rohingya untuk belajar.”

Menanggapi pernyataan itu, Mohammed Abul Kalam, ketua Komisi Pemulihan dan Repatriasi Pengungsi (RRRC) Rohingya yang dikelola pemerintah Bangladesh mengatakan, “Kami membuka peluang pendidikan informal untuk warga Rohingya, tapi ada batasan bagi mereka untuk menempuh pendidikan formal karena mereka tidak memiliki kewarganegaraan Bangladesh.”* (Anadolu Agency | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Aryeh Eldad: ‘Israel’ Ada di Balik Kudeta terhadap Mursi
Gua Ashabul Kahfi Ada di Baitul Maqdis? »