Gua Ashabul Kahfi Ada di Baitul Maqdis?

5 April 2019, 20:45.
Foto: masrawy.com

Foto: masrawy.com

KARANGANYAR, Jum’at (Institut Al-Aqsa | Sahabat Al-Aqsha): Syaikh Al-‘Allamah Bassam Jarrar dalam kitabnya “Shakhratu Baitil Maqdis wa Ashabul Kahfi” merajihkan pendapat yang mengatakan bahwa gua Ashabul Kahfi yang terdapat dalam surah Al-Kahfi “adalah gua di batu Baitul Maqdis”.

Beliau menjelaskan bahwa “di dalam Al-Quranul Karim dan hadits shahih terdapat keterangan bahwa rumah pertama yang dibangun bagi manusia untuk beribadah adalah Masjidil Haram. Dan dalam hadits shahih terdapat penjelasan bahwa rumah ibadah kedua bagi manusia adalah Masjidil Aqsha, dan itu dibangun sesudah empat puluh tahun pembangunan Masjidil Haram.

Karena kelalaian manusia dan berlalunya zaman, perlahan penanda eksistensi kedua Masjid ini hilang. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Ibrahim ’alayhissalam dan mendirikan ulang bangunan Masjidil Haram (Ka’bah), sesudah mendapat petunjuk wahyu di mana lokasi sebelumnya.

Dari sini terlintas dalam benak saya, ada kemungkinan bahwa Nabi yang diimani oleh pemuda Ashabul Kahfi adalah orang yang menunjukkan lokasi Masjid kedua, dan buah dari peristiwa Ashabul Kahfi adalah orang-orang mendirikan Masjidil Aqsha tepat di lokasi asalnya, yakni di atas gua yang berada di bawah batu Baitul Maqdis.

Ada kemungkinan pemuda Ashabul Kahfi berlindung ke tempat yang sudah dijanjikan bagi mereka. Kemungkinan ini dikuatkan dengan adanya imbuhan huruf “alif dan lam” pada kata “Al-Kahfi” sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Kahfi:

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu….” 

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan: “carilah tempat berlindung ke dalam gua” (bentuk muthlaq/umum) maka yang dimaksud dengan gua di sini adalah gua yang sudah dijanjikan sebelumnya, dan tempat itu tidak diketahui oleh kaumnya.

Lantas kenapa gua tersebut sudah dijanjikan kepada para pemuda Ashabul Kahfi dan lokasinya tidak diketahui oleh kaum mereka? Tidak lain karena Nabi yang diimani oleh pemuda-pemuda ini telah menjelaskan kepada mereka lokasi Masjid kedua yang dibangun bagi manusia (Masjidil Aqsha), tempat yang kemudian rutin mereka datangi untuk beribadah. Maka, ketika mereka melarikan diri tempat ini langsung terlintas di pikiran mereka karena tempat itu sudah mereka kenal dan mereka cintai. Boleh jadi saat itu gua tersebut telah lama ditinggalkan, sama seperti lokasi Ka’bah pada zaman Nabi Ibrahim ’alayhissalam.* (Institut Al-Aqsa | Sahabat Al-Aqsha)

*Dikutip dari salah satu buku Prof. Abdul Fattah El-Awaisi yang sedang diterjemahkan oleh Tim Institut Al-Aqsa (ISA).

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« HRW: Bangladesh Harus Berhenti Usir Pelajar Rohingya
SNHR: Tercatat 221 Serangan Kimia di Suriah Sejak 2012 »