SNHR: Tercatat 221 Serangan Kimia di Suriah Sejak 2012

5 April 2019, 23:00.
Warga sipil menjalani perawatan setelah pasukan rezim Assad melakukan serangan kimia di Idlib, Suriah, pada 4 April 2017. Foto: Bahjat Najar/Anadolu Agency

Warga sipil menjalani perawatan setelah pasukan rezim Assad melakukan serangan kimia di Idlib, Suriah, pada 4 April 2017. Foto: Bahjat Najar/Anadolu Agency

LONDON, Jum’at (Middle East Monitor): Lembaga HAM yang berbasis di London, Syrian Network for Human Rights (SNHR), menyatakan bahwa serangan kimia di Suriah tercatat sekitar 221 serangan sejak 23 Desember 2012 –tanggal penggunaan senjata kimia pertama yang tercatat di negara itu– hingga 4 April.

Hal itu tercatat dalam sebuah laporan yang dirilis pada Kamis (4/4) saat peringatan tahun kedua pembantaian Khan Sheikhoun yang dilakukan oleh rezim Suriah – yang merupakan serangan kimia terbesar kedua di Suriah dalam konteks para korbannya, setelah serangan di timur Damaskus dan Ghouta barat pada bulan Agustus 2013.

SNHR menyatakan bahwa rezim Suriah bertanggung jawab atas 216 serangan kimia –sebagian besar di pedesaan provinsi Damaskus dan Idlib– sementara Daesh bertanggung jawab atas lima serangan di provinsi Aleppo.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa serangan-serangan tersebut menewaskan sekitar 1.461 orang – semuanya tewas akibat serangan rezim Suriah. Yakni, sekitar 1.397 warga sipil termasuk 185 anak-anak dan 252 wanita, 57 pejuang oposisi bersenjata dan tujuh tahanan rezim Suriah yang berada di penjara oposisi.

Menurut laporan tersebut, serangan kimia melukai sekitar 9.885 orang, 9.753 di antaranya terluka akibat serangan oleh rezim Suriah dan 132 lainnya terluka karena serangan Daesh.

Pembantaian dengan senjata kimia terbesar di Suriah terjadi di distrik Ghouta timur dan Sham pada 21 Agustus 2013, di mana lebih dari 1.400 warga sipil tewas, dan banyak warga –sebagian besar anak-anak dan wanita– terkena dampaknya.

Rezim Suriah melakukan pembantaian kimia terbesar kedua pada 4 April 2017 di kota Khan Sheikhoun, di pedesaan provinsi Idlib, yang menewaskan lebih dari 100 warga sipil. Pada 7 April tahun lalu, pasukan Assad melakukan pembantaian senjata kimia baru di Ghouta timur sehingga menewaskan 78 warga sipil, sebagian besar anak-anak dan wanita.

Setelah pembantaian Ghouta pertama pada 2013 dan akibat tekanan internasional yang besar, rezim Assad setuju untuk menyerahkan dan menghancurkan senjata dengan pengawasan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW).

Meskipun demikian, rezim Assad terus menggunakan senjata kimia. Ini menyebabkan PBB dan OPCW mengumumkan bahwa Assad tidak mengirimkan seluruh persenjataan kimianya.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Serangan Senjata Kimia di Suriah (5 April 2019) - Infografis (SNHR)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Gua Ashabul Kahfi Ada di Baitul Maqdis?
Koalisi Suriah Desak Rezim Assad Bertanggung Jawab atas Serangan Senjata Kimia di Khan Sheikhoun »