Serangan Helikopter Militer Myanmar Tewaskan 20 Warga Rohingya, Lukai Puluhan Lainnya

8 April 2019, 22:55.
Foto: Rohingya Today

Foto: Rohingya Today

BUTHIDAUNG, Senin (Rohingya Today | Anadolu Agency | Reuters | Business Standard): Sekitar 20 warga Rohingya dilaporkan tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangan helikopter oleh militer Myanmar di Buthidaung pada Rabu (3/4). Serangan terjadi sekitar pukul 14.30 waktu setempat, helikopter militer Myanmar menembaki sekelompok warga Rohingya yang sedang memotong bambu dan membuat rakit di hutan dekat sungai Saing Din di tenggara Buthidaung.

“Helikopter militer terbang di atas kepala kami ketika kami memotong bambu dan membuat rakit di Saing Din. Kemudian, helikopter terbang rendah dan mulai menembaki kami dengan membabi buta. Orang-orang mulai berlarian. Sejumlah orang tewas dan banyak yang terluka.

“Setelah 10 menit, helikopter kembali lagi dan menembaki orang-orang yang melarikan diri. Orang-orang yang selamat bergegas dan berlindung di dalam hutan. Beberapa orang yang terluka parah juga meninggal dunia ketika bersembunyi,” kata korban yang selamat dari serangan, yang tidak mau disebutkan namanya.

Menurut keterangan para korban yang selamat, mereka bersembunyi di hutan karena takut akan serangan lebih lanjut hingga pukul 4 sore. Pada pukul 5 sore, penduduk dari desa Saing Din membawa para korban serangan ke desa mereka dengan sebuah perahu motor. Pada pukul 8 malam, mereka hanya dapat mengangkut setengah dari jumlah orang yang terluka. Korban-korban luka lainnya harus menghabiskan malam di hutan dekat tempat terjadinya serangan.

Para korban yang terluka diserahkan kepada kerabat mereka masing-masing, yang kemudian membawa mereka ke rumah sakit untuk dirawat pada malam hari.

Korban selamat lainnya mengatakan, “Mereka tahu kami hanya melakukan pekerjaan sehari-hari. Meski begitu, mereka menembaki kami dan mengebom kami. Banyak orang yang terluka dan tewas. Setelah beberapa saat, orang-orang melarikan diri dan berlindung di hutan ketika mereka melihat helikopter lain mendekat. Helikopter melanjutkan serangan dan menjatuhkan bom ke arah kami. Orang-orang mulai berlarian.

“Jika kami tidak berupaya melarikan diri dalam kelompok terpisah dan berlindung di dalam hutan, kami semua akan terbunuh dalam serangan kedua.”

Karena para korban tewas berasal dari desa yang berbeda, sulit untuk menghitung jumlah korban dan mengidentifikasi mereka.

Hanya mereka yang terluka parah yang dilaporkan telah menerima perawatan medis, lainnya tidak bisa.

Sedikitnya 20 orang tewas dan 40 terluka dalam serangan itu, menurut para korban selamat. “Di antara mereka yang tewas, beberapa bagian tubuh mereka hancur akibat pengeboman oleh helikopter. Itulah sebab sulitnya mengidentifikasi beberapa jenazah,” kata salah seorang korban selamat di Buthidaung.

Ravina Shamdasani, juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB Shamdasani, mengatakan ada laporan bahwa pertempuran telah meningkat di kota Buthidaung, Rathedaung, Kyauktaw, Mrauk-U, dan Sittwe di Rakhine dalam beberapa pekan terakhir, yang mengarah pada pengungsian lebih dari 20.000 warga sipil.

“Kami sangat terganggu dengan meningkatnya konflik di negara bagian Rakhine dalam beberapa pekan terakhir, mengecam apa yang tampak seperti serangan membabi buta serta serangan yang diarahkan kepada warga sipil oleh militer Myanmar dan kelompok bersenjata,” tambahnya.

Pertempuran antara militer Myanmar dengan kelompok bersenjata Arakan Army (AA) –yang merekrut sebagian besar populasi etnis Budha Rakhine– semakin meningkat belakangan ini. Ribuan warga sipil tak bersalah terjebak di tengah-tengah pertempuran tersebut dan tewas, cedera atau mengungsi.

Menurut Shamdasani, sekitar 4.000 warga Rohingya mengungsi sejak 25-30 Maret dari desa-desa di sepanjang jalan yang menghubungkan kota Buthidaung dan Rathedaung.

Shamdasani mengatakan, serangan militer Myanmar terhadap warga sipilnya sendiri “bisa merupakan kejahatan perang”.

“Konsekuensi dari kekebalan hukum akan terus mematikan,” tambahnya.

Sementara itu, Arakan Rohingya Society for Peace & Human Rights (ARSPH) menegaskan dalam pernyataan tertulis pada Ahad (7/4) bahwa pernyataan yang dikeluarkan militer Myanmar pada 5 April bahwa hanya enam Rohingya yang tewas dan mereka dibunuh karena terkait dengan kelompok teroris sepenuhnya salah. Realitanya, militer Myanmar terus mengambil setiap kesempatan untuk menyingkirkan seluruh Rohingya dari tanah air mereka dan menyelesaikan genosida yang telah mereka mulai 40 tahun lalu.

Negara bagian Rakhine di barat Myanmar menarik perhatian global pada 2017, ketika tentara mengusir sekitar 730.000 etnis Rohingya melintasi perbatasan ke Bangladesh. PBB menuding tentara Myanmar membantai minoritas Muslim Rohingya dengan “tujuan genosida”.* (Rohingya Today | Anadolu Agency | Reuters | Business Standard | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« 241 Bocah Palestina Tewas di Suriah Sejak Awal Perang
LSM Suriah Luncurkan Kampanye Kecam Penggunaan Senjata Kimia Rezim Assad »