‘Satu Peluru yang Mengubah Hidup’

10 April 2019, 22:18.
Teknisi prostetik membuat kaki palsu untuk warga Gaza yang kehilangan kaki mereka karena tembakan serdadu Zionis saat berpartisipasi dalam demonstrasi “Great March of Return” di perbatasan Gaza. Foto: Mohammed Asad/Middle East Monitor

Teknisi prostetik membuat kaki palsu untuk warga Gaza yang kehilangan kaki mereka karena tembakan serdadu Zionis saat berpartisipasi dalam demonstrasi “Great March of Return” di perbatasan Gaza. Foto: Mohammed Asad/Middle East Monitor

LONDON, Rabu (Middle East Monitor): Berjalan naik turun tangga di sebuah pusat medis Gaza, warga Palestina yang diamputasi sedang belajar menggunakan kaki palsu baru setelah mereka cacat akibat tembakan serdadu Zionis ‘Israel’ saat berunjuk rasa di perbatasan.

Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza menyatakan, 136 warga Palestina yang terluka parah telah menjalani amputasi sejak demonstrasi dimulai pada Maret 2018.

“Itu hanya satu peluru, satu peluru yang mengubah hidup saya menjadi kacau balau,” kata Abdallah Qassem (17), yang kesulitan berdiri tegak ketika mencoba kaki palsunya yang baru.

Qassem mengatakan, peluru menghantam satu kaki dan kemudian menembus yang lain ketika dia duduk di tanah dengan teman-teman saat demonstrasi pada 14 Mei, hari ketika Amerika Serikat memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis, yang memicu kemarahan warga Palestina.

“Saya dulu bercita-cita menjadi seorang wartawan foto, tapi sekarang saya hendak belajar ilmu komputer,” katanya kepada Reuters.

Pusat Kaki Palsu dan Polio Gaza dikelola oleh pemerintah kota Gaza. Di lantai pertamanya, para teknisi memproduksi kaki palsu dengan material dari Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

Para pengunjuk rasa dalam demonstrasi “Great March of Return” menuntut diakhirinya blokade di Gaza yang diberlakukan oleh ‘Israel’ dan Mesir, serta menuntut hak warga Palestina untuk kembali ke tanah dari mana keluarga-keluarga mereka dipaksa pergi saat pendirian negara palsu ‘Israel’ pada tahun 1948.

Menurut pejabat Kementerian Kesehatan Palestina, lebih dari 200 warga Gaza tewas oleh gerombolan serdadu Zionis dalam unjuk rasa tersebut. Para penyelidik PBB menyatakan ‘Israel’ menggunakan kekuatan berlebihan untuk memberangus para demonstran yang berunjuk rasa secara damai.

Di kota Khan Younis, selatan Gaza, Suhaib Qudeih dan saudara perempuannya Nezeeha masing-masing kehilangan satu kaki karena tembakan serdadu Zionis ‘Israel’.

“Sebelum cedera, saya dulu bekerja dan menghasilkan 4.000 shekel (1.100 dolar per bulan). Saya biasa membawa makanan manis untuk anak-anak saya. Sekarang saya tidak bisa membawakan apa yang mereka minta,” kata pria berusia 33 tahun itu kepada Reuters.

Ia membutuhkan lebih banyak operasi untuk memastikan kaki palsu kanan bisa pas terpasang, sementara saudara perempuannya sudah memakai kaki palsunya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan 6.872 warga Gaza menderita luka tembak, sebagian besar di kaki, dalam satu tahun terakhir demonstrasi.

Dengan dana dari Uni Eropa, WHO membantu warga Palestina membentuk unit rekonstruksi anggota tubuh di rumah sakit Nasser di Gaza selatan, yang diperkirakan akan dibuka pada awal bulan depan.

“Pusat ini fokus untuk memperbaiki hidup, mencegah amputasi, dan memastikan bahwa mereka dapat bergerak lagi,” ujar Sara Halimah, manajer trauma WHO.

Halimah mengungkapkan setiap pasien akan membutuhkan perawatan hingga dua tahun.

“Jika pusat ini tidak didirikan dan kita tidak memiliki pusat perawatan yang tepat untuk mengendalikan tingkat infeksi maka kita akan melihat tingkat amputasi meroket,” jelas Halimah kepada Reuters di rumah sakit Nasser.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« LSM Suriah Luncurkan Kampanye Kecam Penggunaan Senjata Kimia Rezim Assad
Muhajirin di Kamp Rukban Tolak Kembali ke Daerah yang Dikuasai Rezim Suriah »