‘Kalian Tidak Akan Bertahan di Sini (Palestina) Selama 16 Tahun’!

12 April 2019, 18:30.
Foto: The Gaza Voice

Foto: The Gaza Voice

PALESTINA TERJAJAH, Jum’at (The Gaza Voice | Mondoweiss): Ini adalah Shorouk Duyat, wanita Palestina yang divonis mendekam 16 tahun di penjara ‘Israel’. Ia sudah menjalani masa empat tahun di penjara.

Pada tahun 2015, seorang pria pemukim ilegal Yahudi ‘Israel’ berusaha untuk membuka hijabnya. Duyat menolak membuka hijabnya dan membela dirinya. Si pemukim ilegal Yahudi, kemudian menembaknya tiga kali. Pria itu membiarkannya mengalami perdarahan selama sekitar 20 menit.

Tak lama kemudian, Duyat dituduh dengan tuduhan mengada-ada bahwa ia mencoba menikam si pemukim ilegal Yahudi. Dengan tegas Duyat terus mengatakan, “Saya tidak melakukan apa-apa, dialah yang menyerang saya”. Setelah itu, ia dibawa ke rumah sakit.

Hakim Zionis memaksa Duyat meminta maaf kepada si pemukim ilegal Yahudi yang telah menembaknya dan penjajah Zionis ‘Israel’. Ia menjawab, “Kalian tidak akan bertahan di sini (Palestina) selama 16 tahun. Saya akan keluar sebelum menyelesaikan hukuman saya”.

Penjajah Zionis bahkan tidak membiarkannya berjabat tangan dengan keluarganya sendiri. Duyat mengatakan pada ibunya untuk tidak bersedih dan mereka akan selalu saling berpelukan setelah dia keluar dari penjara Zionis.

Berikut ini kisah tentang Shorouk Duyat yang dituturkan penyair Palestina, Dareen Tatour, mantan teman satu sel Duyat saat ia mendekam di penjara ‘Israel’.

“Saya baru saja tertidur malam itu ketika saya bangun dan melihat wajah seseorang memandang dan tersenyum kepada saya. Itu adalah senyum yang indah; saya belum pernah melihat senyum yang begitu tenang dan indah dalam hidup saya. Saya melihat wajahmu pagi ini – teman dan rekan satu sel saya Shorouk Duyat.

Shorouk Duyat (21) adalah seorang tawanan yang kini ditahan di penjara Damon di ‘Israel’. Saya bertemu dengannya di penjara tiga tahun lalu. Wajahnya sarat kehidupan, meskipun ada penderitaan. Dia ditembak di dada dan bahunya, serta menderita banyak luka. Dia tidak mengatakan kepada siapa pun tentang hal itu, atau tentang rasa sakit yang dia alami.

Percakapan pertama saya dengannya adalah selama jam istirahat kami di penjara Hasharon ketika saya melihat matanya sebentar dan saya bertanya kepadanya, “Apakah kamu merasakan sakit dari luka itu?”

Ia menatap saya dalam-dalam dengan mata sedihnya, tersenyum dan kemudian menggelengkan kepalanya. Dia menyangkal bahwa dia kesakitan, saya menjawab sambil tersenyum, dan menggelengkan kepala saya seperti yang dia lakukan, lalu kami tertawa keras dan lama tanpa tahu kenapa.

Sejak saat itu kami menjadi teman dekat. Kami mulai banyak berbincang, tertawa, menangis dan bersuka cita. Usianya baru 19 tahun, dia suka membaca, dia datang ke sel kami setiap hari dan berkata kepada saya dengan senyumnya yang indah, “Dareen … Dareen, apa yang kamu tulis baru-baru ini? Biarkan saya mendengarnya, saya ingin mendengarnya.”

Selama waktu istirahat (al-foura) di ranjang (bersh) saya, saya mulai membacakan kepadanya apa yang telah saya tulis. Dia tersentuh dan mengekspresikannya dengan senyuman, atau tepuk tangan, dan dari waktu ke waktu bahkan dengan air mata. Saat itu saya berkata kepadanya, “Shorouk menulislah, tulis semua yang kau rasakan.”

Keesokan harinya dia datang ke sel saya dan orang bisa melihat kegembiraan di wajahnya ketika dia memegang buku catatan di tangannya, berkata, “Dareen, aku menulis sesuatu dan membutuhkan pendapatmu tentang itu. Aku menulisnya dan ingin tahu apakah kamu punya waktu untuk mendengarnya?” Kebahagiaan saya tak terlukiskan.

Dia membacakan kepada saya apa yang telah ditulisnya. Itu adalah tulisan terbaik yang pernah saya dengar, terlepas dari kesederhanaan dan spontanitasnya. Setelah itu, kami bersama-bersama melakukan efisiensi bahasa, memperbaiki beberapa kesalahan, dan mengemukakan pemikiran pertama yang terlintas dalam benaknya saat berada di penjara. Teksnya penuh dengan kreativitas, perasaan dan pertanyaan. Pada hari itu saya mendengarkan pemikirannya tentang rasa sakit yang ia alami dan benar-benar tahu siapa dia. Sejak hari itu Shorouk tidak pernah berhenti menulis.

Shorouk Duyat juga suka melukis, meskipun tidak terlalu mahir. Setiap kali dia melukis sesuatu, dia sering menertawakan lukisannya sendiri. Dia kesal dengan gosip dan kebisingan di penjara, dan paling bahagia ketika dia makan biskuit Loacker. Setiap kali dia makan sepotong, dia akan datang ke sel saya dan menyuapi saya biskuitnya.

Saya katakan padanya, saya tidak suka semua yang terasa hangat-hangat kuku. Ia berkata dengan bercanda, “Ini adalah rasa hidup di penjara. Kamu kehilangan sebagian besar makna kehidupan di penjara.” Kami tertawa tentang kenyataan di mana kami tinggal, secara sarkastis. Semakin saya mengatakan padanya bahwa saya vegetarian, semakin dia mengolok-olok saya, dan dia bercanda dengan dialek Baitul Maqdis-nya: “Saya ingin memahami apa yang kamu maksudkan, vegetarian? Bagaimana kamu bisa melakukannya (menjadi vegetarian)?”

Ada kata tertentu yang membuatnya menertawakan saya setiap kali dia mendengar saya mengatakannya. Yakni, asa (“sekarang” dalam dialek kampung). Tawanya membuat saya mengubah kata itu menjadi halla (“sekarang” dalam dialek kota), tapi bahkan ketika saya mengucapkan halla, dia mengubahnya menjadi asa, dan juga menertawakan kata yang digantinya sendiri.

Shorouk suka berlakon dan meniru karakter. Setelah kami pindah ke penjara Damon, kami menulis drama tentang investigasi dan dia mulai memainkan perannya dengan cemerlang.

Suatu hari saya bertanya pada Shorouk apakah dia bisa menunjukkan luka-lukanya kepada saya. Dia langsung memperlihatkan bahunya dan meletakkan tangan saya di bekas luka yang ditinggalkan peluru serdadu Zionis yang menembus tubuhnya. Saya ingin mengeluarkan semua rasa sakit dan kenangan menyakitkan dengan memberikan semua yang dia cintai. Saya tidak tahu apakah saya berhasil memberikan kebahagiaan di hatinya, atau malah saya gagal.

Kami membaca beberapa buku bersama-sama, termasuk novel karya Ghassan Kanafani, Men in the Sun, dan kemudian membahas buku itu.

Shorouk adalah bola energi, amat penuh dengan semangat. Ia memiliki kemampuan untuk melakukan segalanya –menulis, menantang dirinya sendiri, hidup, berharap, berkorban, beriman dan moralitas, Shorouk penuh dengan ilmu pengetahuan serta kreativitas.

Shorouk Duyat adalah kisah yang akan terus saya ceritakan. Saya akan selalu mengingatnya.

Shorouk adalah mahasiswi geografi dan sejarah di Universitas Bethlehem. Ia ditangkap pada 7 November 2015 di Baitul Maqdis, setelah dia mengatakan seorang pemukim ilegal Yahudi berusaha membuka hijabnya dan responsnya adalah mendorong pria itu. Menurut Duyat, ia memukul pria itu dengan tasnya dan mendorongnya dengan tangannya, tapi pemukim ilegal Yahudi itu mengeluarkan senjata dari sakunya dan menembakkan tiga peluru ke arah Duyat. Pertama, ke lehernya, kedua ke payudaranya, dan yang ketiga ke bahunya. Akan tetapi, penjajah Zionis malah menyatakan Duyat bersalah atas percobaan penikaman. Mahkamah Agung Zionis menjatuhinya hukuman 16 tahun dan denda 22.000 dolar (80.000 shekel).

Pada 24 Desember 2018, Shorouk hadir di Mahkamah Agung Zionis untuk menentang hukuman yang dijatuhkan kepadanya tiga tahun lalu. Pada hari yang sama saya juga ada di sana untuk menentang hukuman saya! Akan tetapi, perbedaannya sangat besar. Ketika saya keluar dari penjara, dia masih berada di penjara untuk menjalani hukuman 16 tahun! Saya berharap pengadilan menerima tuntutan bandingmu pada hari itu, Sayangku. Kalau saja saya bisa meringankan hukumanmu. Saya tahu kamu adalah salah satu manusia paling murni. Sayangnya tuntutan bandingmu ditolak dan hukumannya tetap sama.

Ketika saya berbicara dan menulis tentang kisah saya dengan Shorouk, saya membaca artikel mengenai serdadu Zionis Ben Deri dan pembebasan bersyarat dininya dari penjara. Ia adalah pembunuh pemuda bernama Nadim Nuwara dan dinyatakan bersalah karena membunuh remaja Palestina itu dengan kejam di Beituna dekat Ramallah saat peringatan Nakba pada 15 Mei 2014.

Ben Deri berada di penjara selama kurang dari setahun, meskipun Mahkamah Agung Zionis menjatuhkan hukuman penjara hanya 18 bulan. Seperti halnya serdadu Zionis Elor Azaria, pembunuh sadis yang menghabisi nyawa Abdel Fattah al-Sharif di Al-Khalil, yang juga dibebaskan dari penjara lebih awal. Pun, pemukim ilegal Yahudi di bawah umur yang berpartisipasi dalam pembakaran keluarga Dawabsheh di Duma dibebaskan dengan status tahanan rumah setelah hanya menjalani hukuman penjara dua tahun.

Saya mungkin, sebentar lagi, mendapati diri saya di penjara lagi. Mungkin pengadilan akan salah menafsirkan kenangan saya tentang Shorouk di penjara sebagai dukungan atas terorisme. Penjajah Zionis mungkin berusaha untuk menunjukkan bahwa saya melanggar syarat dan ketentuan pembebasan saya. Sekarang ini saya masih dalam perintah bersyarat selama tiga tahun, dengan hukuman penjara enam bulan jika melanggar pembebasan bersyarat saya.

Terlepas dari semua ini, saya tidak bisa diam dan saya tidak mau menyerah. Diam berarti memungkiri hak saya untuk berbicara tentang bagaimana saya hidup dan bagaimana perasaan saya, serta tentang penderitaan rakyat saya. Kekuasaan yang ada tidak ingin saya menggunakan apa yang paling penting dan berharga bagi saya: suara saya.”* (The Gaza Voice | Mondoweiss)

Foto: The Gaza Voice

Foto: The Gaza Voice

Foto: The Gaza Voice

Foto: The Gaza Voice

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Muhajirin di Kamp Rukban Tolak Kembali ke Daerah yang Dikuasai Rezim Suriah
Penjajah Zionis Ubah Masjid Bersejarah Jadi Tempat Minum Miras »