Sebulan, Rezim Suriah Serang Idlib 6.422 Kali dan Tewaskan 135 Warga

13 April 2019, 14:12.
Para anggota pertahanan sipil melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di bawah reruntuhan gedung-gedung yang hancur akibat serangan udara yang menghantam daerah pemukiman di zona de-eskalasi Idlib, Suriah, pada 22 Maret 2019. Foto: Hasan Muhtar/Anadolu Agency

Para anggota pertahanan sipil melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di bawah reruntuhan gedung-gedung yang hancur akibat serangan udara yang menghantam daerah pemukiman di zona de-eskalasi Idlib, Suriah, pada 22 Maret 2019. Foto: Hasan Muhtar/Anadolu Agency

LONDON, Sabtu (Middle East Monitor): Rezim Suriah menyerang wilayah-wilayah utara yang dikuasai oposisi sebanyak 6.422 kali pada Maret, ungkap unit pertahanan sipil White Helmets, menyoroti disintegrasi berkelanjutan atas perjanjian gencatan senjata Sochi.

Oposisi terakhir yang mendominasi provinsi Idlib, dengan benteng pertahanan yang membentang ke pedesaan Hama dan Aleppo, telah menjadi sasaran angkatan udara Suriah dengan bantuan jet-jet tempur Rusia, serta milisi Iran di darat.

Sekitar 135 orang diyakini telah tewas dalam satu bulan terakhir saja, dengan sebagian besar serangan terjadi di wilayah perbatasan di Hama, sehingga melukai ratusan warga sipil dan ribuan keluarga mengungsi. Menurut LSM setempat, antara 9 Februari dan 6 April sekitar 160.583 orang terpaksa bermigrasi ke daerah-daerah dekat perbatasan Turki.

Rusia hanya mengakui sembilan pelanggaran oleh pasukan rezim. Kelompok-kelompok oposisi telah berusaha untuk menangkal serangan, tetapi tidak memiliki cara untuk melindungi diri mereka sendiri dari pengeboman udara.

Tingkat pelanggaran membuat banyak pihak menyangsikan perjanjian gencatan senjata Sochi, yang bertujuan mencegah serangan skala penuh ke wilayah yang menampung sekitar 3,5 juta orang – yang sepertiga di antaranya adalah anak-anak.

Ditandatangani oleh Turki, Rusia, dan Iran, perjanjian itu menetapkan pembentukan zona penyangga sejauh 15 kilometer di sekitar kawasan Idlib, dekat Hama dan Aleppo, sebagai imbalan atas penarikan persenjataan berat oleh oposisi.

Meskipun patroli Turki dilanjutkan kembali di berbagai lokasi serangan udara tahun lalu, pengeboman baru-baru ini terus berlanjut dan tidak berkurang.

Pada Senin, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk ketiga kalinya dalam beberapa bulan. Kedua negarawan itu membahas berkas Suriah, berjanji untuk mengoordinasikan upaya untuk menghidupkan kembali proses politik, termasuk membentuk komite konstitusional sesegera mungkin. Akan tetapi, tidak menyebutkan tentang pelanggaran Idlib.

PBB dan organisasi-organisasi bantuan telah berulang kali memperingatkan bahwa serangan terhadap Idlib dapat memicu bencana kemanusiaan terburuk dari perang sipil di negara itu.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Turki Gunakan Olahraga untuk Eratkan Persaudaraan Warga Turki dan Muhajirin Suriah
Parkour Tawarkan Kebebasan kepada Pemuda Gaza »